<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467</id><updated>2012-01-31T16:28:17.833+07:00</updated><category term='Manusia Berbulu'/><category term='Therapeutic Touch'/><category term='Iklim'/><category term='Pemimpin Agama'/><category term='Artis'/><category term='Kemanusiaan'/><category term='Situs Porno'/><category term='Pemerintah'/><category term='Hantu'/><category term='Spiritual'/><category term='Agama'/><category term='Skeptisime'/><category term='Wishful Thinking'/><category term='Deja Vu'/><category term='Kesurupan'/><category term='Sinik atau Skeptik'/><category term='Jenglot'/><category term='Stephen Hawking'/><category term='Gosip'/><category term='CCTV'/><category term='Profesi'/><category term='Politik'/><category term='Saksi Yehovah'/><category term='Numerologi'/><category term='Chi Sakti'/><category term='New Age'/><category term='Arthur Schopenhauer'/><category term='Sepak Bola'/><category term='Larangan Buku'/><category term='Sejarah'/><category term='SMS'/><category term='Penciptaan'/><category term='Tuyul'/><category term='Opini atau Fakta'/><category term='Sosiologis'/><category term='Kemenyan'/><category term='Teosofi'/><category term='Adolf Hitler'/><category term='Cenayang'/><category term='UFO'/><category term='Ketakutan'/><category term='Tradisi'/><category term='Penyembuhan'/><category term='Chi Kung'/><category term='Demonstrasi'/><category term='Kritisisme'/><category term='Indigo Children'/><category term='Santet'/><category term='Natal'/><category term='Argumen'/><category term='Self-Affirmation'/><category term='Minoritas'/><category term='Survei'/><category term='Kuntilanak'/><category term='Pisau Ockham'/><category term='Sokrates'/><category term='Guru'/><category term='Berpikir Kritis'/><category term='Prana'/><category term='Halusinasi'/><category term='The Secret'/><category term='Angela Merkel'/><category term='Iman'/><category term='Pendidikan'/><category term='Hak Asasi Manusia'/><category term='Akupuntur'/><category term='Ingatan'/><category term='Cinta'/><category term='Psikologis'/><category term='Avatar'/><category term='Grafologi'/><category term='Kekerasan'/><category term='Pareidolia'/><category term='Kebahagiaan'/><category term='Pocong'/><category term='Supernatural'/><category term='Internasional'/><category term='Law of Attraction'/><category term='Selective Thinking'/><category term='Ateisme'/><category term='Filsafat'/><category term='Pohon Berdesah'/><category term='Crop Circle'/><category term='Terorisme'/><category term='Fidel Castro'/><category term='Penampakan'/><category term='Logika'/><category term='Mimpi'/><category term='Skeptisme'/><category term='Lompat pada Kesimpulan'/><category term='Pembunuhan'/><category term='Out-of-Body'/><category term='Emosi'/><category term='Paranormal'/><category term='Garis Tangan'/><category term='Kiamat'/><category term='Pertanyaan Sokratik'/><category term='Bigfoot'/><category term='Doa'/><category term='Ilmu Pengetahuan'/><category term='Foto'/><category term='Kematian'/><category term='Internasional. Kritisisme'/><category term='Perang'/><category term='E-mail'/><category term='Psikologi'/><category term='Prediksi'/><category term='Skeptisisme'/><category term='Makna'/><category term='Nilai'/><category term='Paus'/><category term='Infotainment'/><category term='Internasional. Sepakbola'/><category term='Cakra'/><category term='Dukun'/><category term='Delusinasi'/><category term='Rasionalitas'/><category term='Confirmation Bias'/><category term='Keganjilan'/><category term='Solidaritas'/><category term='The National Geographic'/><category term='Eksorsisme'/><category term='Astral Body'/><title type='text'>Arrows of Criticism</title><subtitle type='html'>Critical thinking is thinking that is clear, accurate, knowledgeable, reflective, and fair in deciding what to believe or do (Robert Todd Carroll)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>341</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-3856044770248168329</id><published>2012-01-31T16:26:00.002+07:00</published><updated>2012-01-31T16:28:17.843+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kekerasan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kematian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kemanusiaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Internasional. Kritisisme'/><title type='text'>Anak Perempuan Membawa Beban?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;a href="http://www.bbc.co.uk/news/world-asia-16787534" style="color: magenta;"&gt;Malang tak bisa dihindari oleh perempuan muda ini karena melahirkan seorang bayi perempuan&lt;/a&gt;. Secara kejam perempuan mudah tersebut diakhiri hidupnya, tak tanggung-tanggung, bukan hanya oleh ibu mertuanya melainkan juga oleh suaminya sendiri. Peristiwa tragis ini bukan hanya dikecam keras oleh para kepala suka tetapi juga oleh para pemuka agama di wilayah di mana peristiwa tersebut terjadi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Setidaknya dua pertanyaan segera mengemuka terkait peristiwa biadab tersebut:&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Apa salahnya jika perempuan muda itu melahirkan seorang bayi perempuan? &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Mengapa ibu mertua bahkan suami perempuan itu tega mengakhiri nyawa anak menantu dan istrinya sendiri?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sejauh ini belum ada keterangan lebih lanjut mengenai alasan dibunuhnya perempuan itu oleh ibu mertua dan suaminya. Namun berdasarkan keterangan pendek yang terdapat dalam berita tersebut mengatakan bahwa di beberapa wilayah dan suku di Afganistan anak perempuan dianggap sebagai beban, sebaliknya, keberadaan anak laki-laki disambut dengan pesta yang meriah. Dengan demikian, jika seorang ibu melahirkan anak perempuan, maka keberadaan dan hidup ibu tersebut terancam karena keberadaan anak perempuan tidak diharapkan di tengah-tengah masyarakat. Hal yang serupa tidak akan dialami jika seorang ibu melahirkan anak laki-laki karena kehadiran anak laki-laki malah diharapkan bahkan dirayakan dengan meriah.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Kenyataan yang sangat memprihatinkan tersebut mendorong lahirnya beberapa pertanyaan lanjutan; mengapa keberadaan (anak) perempuan dianggap sebagai beban dan bukan sebaliknya, (anak) laki-laki yang menjadi beban? Mengapa kehadiran anak laki-laki disambut meriah sedangkan kehadiran anak perempuan akan mengancam hidup sang ibu? Terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut dibutuhkan informasi relevan yang memadai. Namun demikian muncul kecurigaan yang masuk akal, jika kehadiran anak perempuan tidak diharapkan bahkan dianggap sebagai beban, diakibatkan oleh pemikiran tradisional yang sangat sesat dengan berlandaskan pada tradisi agama tertentu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tidak lagi menjadi rahasia jika tiga agama samawi menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rendah daripada laki-laki dengan pemikiran bahwa perempuanlah yang digoda oleh "iblis" sehingga laki-laki dan manusia jatuh ke dalam "dosa." Jelas, pemikiran demikian berlandaskan pada kepercayaan yang berakar pada kisah mitologi yang lahir ribuan tahun yang lampau. Jika kepercayaan dan pemikiran masa lampau seperti itu masih dipercaya sampai saat ini oleh manusia modern, maka yang menjadi taruhannya adalah nyawa manusia. Dengan demikian, sangatlah tidak aneh jika peristiwa biadab seperti berita di atas (masih) terjadi pada masa kini. Ketika manusia modern lebih mengedepankan dan mengutamakan pemikiran tradisional yang sesat sekaligus membahayakan hidup orang lain, dan sebaliknya bukan mendasarkan hidupnya pada nilai-nilai kemanusiaan, maka pada saat itu sesungguhnya manusia tidak beradab alias tidak layak disebut manusia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-3856044770248168329?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/3856044770248168329/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2012/01/anak-perempuan-membawa-beban.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/3856044770248168329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/3856044770248168329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2012/01/anak-perempuan-membawa-beban.html' title='Anak Perempuan Membawa Beban?'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-6336296683116117725</id><published>2012-01-28T13:53:00.001+07:00</published><updated>2012-01-28T14:01:06.530+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ateisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Internasional'/><title type='text'>"Kuil" Para Ateis?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;a href="http://dunia.vivanews.com/news/read/283310--kuil--para-ateis-akan-didirikan-di-london"&gt;&lt;span style="color: magenta;"&gt;Beberapa hari lalu muncul berita bawa direncanakan pembangunan "kuil" untuk para ateis di Inggris&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Ide tersebut muncul dari seorang filsuf dan penulis bernama Alain de Botton. Ide pembangunan "kuil" tersebut untuk menepis anggapan bahwa para ateis (seperti digawangi oleh Richard Dawkins and alm. Christopher Hitchens -- keduanya berasal dari Inggris) kaum agresif dan destruktif. Richard Dawkins sendiri mengecam rencana pembangunan tersebut dengan berdasar, setidaknya, pada dua alasan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol align="justify"&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Kaum ateis tidak butuh bangunan apalagi "kuil" karena lebih baik uangnya digunakan untuk pembangunan sarana-sarana -- seperti bangunan sekolah -- yang melaluinya pendidikan kritis dan rasionalistis dikembangkan dan dikedepankan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Kecurigaan adanya penyalahgunaan uang dalam jumlah besar dalam rencana pembangunan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Sedangkan Alain de Botton berargumen bahwa bangunan tersebut akan menjadi simbol dari cinta, persahabatan, ketenangan, dan perspektif (?). Menariknya, ide pembangunan tersebut bukannya didukung oleh kaum ateis (contohya Richard Dawkins), melainkan malah didukung oleh seorang pendeta Anglikan, George Pitcher, yang mengatakan bahwa pembangunan kuil tersebut bisa menjadi rasa transendensi manusia, bahwa ada sesuatu yang lebih kuasa dan besar daripada keberadaannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Tulisan ini tidak akan memperdebatkan apakah perlu dibangun sebuah bangunan bagi kaum ateis atau tidak, melainkan secara khusus memperhatikan pendapart-pendapat yang dikemukakan pihak-pihak yang terlibat, baik sang pencetus ide (Alain de Botton), pihak yang menolak (Richard Dawkins), maupun pihak yang menyambut baik ide tersebut (George Pitcher).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Kita mulai dari Alain de Botton. Ia mengungkapkan bahwa ide pembangunan tersebut untuk menunjukkan pada masyarakat bahwa kaum ateis bukanlah kaum yang agresif dan destruktif. Ini dinyatakannya dengan berdasar pada sikap agresif dan destruktif Richard Dawkins dan Christopher Hitchens (kaum ateis) yang selama ini menyerang (para pemeluk) agama. Ia juga menyatakan bahwa ide mendirikan bangunan tersebut merupakan sesuatu yang baik dan positif layaknya bangunan-bangunan keagamaan yang bersimbolkan tokoh masing-masing agama. Ia pun menggunakan kata "suci" yang dialamatkan pada bangunan yang akan didirikannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Pernyataan Alain de Botton bahwa Richard Dawkins dan Christopher Hictchens adalah kaum ateis yang agresif dan destruktif tidak didasarkan pada bukti-bukti yang kuat. Meski pendapat kedua ateis tersebut mengenai (para pemeluk) agama tidak selalu tepat dan benar, namun itu tidak berarti bahwa mereka adalah orang-orang yang agresif dan destruktif. Agresif? Bisa ya, bisa tidak. Apa buktinya? Bukankah para pemeluk agama jauh lebih agresif dibandingkan para ateis karena mereka (kaum beragama dan bertuhan) berada dalam kelompok yang lebih besar dan kuat dibandingkan kaum ateis yang minoritas? Memang berbagai pernyataan Dawkins dan Hitchens mengenai agama dan para pemeluknya sangat tajam dan cenderung kasar, namun itu tidak bisa dijadikan patokan untuk mengatakan bahwa mereka agresif. Banyak orang (khususnya kaum beragama/bertuhan) lebih memperhatikan "nada" tulisan atau pernyataan Dawkins dan Hitchens sehingga luput memperhatikan isi argumen dalam tulisan maupun peryataan mereka. Tidak jarang orang mengatakan bahwa Dawkins dan Hitchens adalah orang-orang yang kejam. Ini terjadi akibat orang-orang tersebut hanya atau lebih memperhatikan "nada" tulisan ataupun pernyataan Dawkins dan Hitchens. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Bagaimana mengukur agresivitas seorang ateis? Dengan menghitung berapa sering dia menulis dan mengeluarkan pendapatnya? Bukankah manusia dijamin haknya dalam mengemukakan pendapat, baik melalui kata-kata maupun tulisan? Bukankah setiap orang, entah beragama/bertuhan ataupun tidak, memiliki kebebasan untuk mengutarakan pendapatnya sesering mungkin?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Apakah kaum ateis (dhi. Dawkins dan Hitchens) destruktif? Apa buktinya? Sejauh ini kedua orang tersebut belum terbukti pernah membunuh ataupun menghasut orang lain untuk membunuh orang beragama/bertuhan ataupun merusak bangunan keagamaan. Mari kita lihat kelompok yang mayoritas dan lebih kuat, kaum beragama/bertuhan. Dapatkan dihitung, sudah berapa banyak kekerasan, kekejian, ketidakadilan, dan perang terjadi akibat dan didasarkan atas nama agama dan tuhan? Sepertinya tidak terhitung banyaknya. Meski banyak kali pandangan Dawkins dan Hitchens keliru memahami agama dan para pemeluknya, namun itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menyatakan bahwa mereka destruktif.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Dengan demikian, mengatakan Dawkins dan Hitchens sebagai ateis yang agresif dan destruktif sama sekali tidak berdasar karena tidak didukung oleh bukti (-bukti) yang kuat. Tidak hanya itu, mengatakan Dawkins dan Hitchens agresif dan destruktif cukup berlebihan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Alain de Botton juga menyatakan bahwa jika para pemeluk agama mendirikan bangunan untuk menghormati dan menyembah figur suci masing-masing agama, maka kaum ateis pun bisa mendirikan bangunan yang suci. Penggunaan kata "suci" di sini mengundang pertanyaan. Apa artinya "suci"? Sesuatu yang tidak bernoda, tidak bercela, atau sempurna? Tidak bernoda, tidak bercela, dan sempurna menurut ukuran siapa? Apa tolok ukurnya? Bisa dibayangkan jika dalam konteks ini Alain de Botton tidak menggunakan kata "suci" dalam konteks agama karena dalam konteks agama "suci" berarti sesuatu yang tidak bercela, bersih. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Apakah kata "suci" yang digunakan Alain de Botton disematkan pada bangunan yang akan didirikannya? Jika demikian, maka jelas, hal tersebut mengandung masalah karena bangunan, entah kuil, gereja, masjid, tempat sesembahan, atau apapun itu namanya hanyalah bangunan (benda mati). Orang-orang yang datang dan bersembahyang di tempat itu yang kemudian menganggap dan mempercayainya sebagai sesuatu yang suci. Dianggap suci karena ada aturan-aturan tertentu yang tidak boleh dilanggar (misalnya: melepas alas kaki, berpakaian rapi atau mengenakan pakaian tertentu bahkan atribut khusus, dan adanya ritual tertentu). Jika demikian, apakah dalam benak Alain de Botton bangunan yang akan didirikannya tersebut akan memiliki sederet aturan layaknya aturan dalam bangunan agama? Sepertinya tidak. Dengan demikian, penggunaan kata "suci" dalam konteks tersebut keliru alias tidak pada tempatnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Di lain pihak Richard Dawkins menuding bahwa ide pendirian bangunan bagi kaum ateis tersebut tidaklah perlu karena lebih baik uangnya digunakan untuk membangun gedung-gedung sekolah yang di dalamnya mengembangkan dan mengedepankan pemikiran kritis dan rasionalistis. Terhadap pandangan Dawkins tersebut bisa ditambahkan juga bahwa demi mengembangkan pemikiran kritis juga dibutuhkan para guru, pendidik, dan pendamping yang terlatih. Ini artinya diperlukan adanya pelatihan-pelatihan terencana dan berkesinambungan untuk melatih orang-orang yang peduli terhadap pemikiran kritis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Selain itu, Dawkins juga menentang ide pendirian bangunan itu karena diduga biayanya berasal dari penyalahgunaan uang. Sayangnya pernyataan Dawkins tersebut tidak didukung oleh bukti-bukti alias tidak ditunjang oleh angka-angka. Jika tudingan Dawkins tersebut benar adanya, maka pembangunan "kuil" tersebut haruslah ditolak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Selain dua pihak ateis yang saling bertentangan terhadap ide pendirian bangunan bagi kaum ateis, ada juga pendapat yang muncul dari pemimpin agama (seorang pendeta Anglikan), George Pitcher. Bertolak belakang dari pandangan Dawkins, Pitcher malah menyambut baik ide pendirian bangunan tersebut. Ia menyatakan bahwa ide pendirian bangunan bagi kaum ateis berdasar pada adanya sesuatu yang lebih kuat dan besar dari manusia. Jika pandangan Pitcher ini merupakan tafsirannya terhadap ide pembangunan tersebut, maka tafsirannya tersebut keliru karena seorang yang tidak percaya adanya tuhan (ateis) berarti orang tersebut tidak percaya pada adanya sesuatu yang lebih kuat dan besar yang berada di luar dirinya. Seorang ateis tidak memiliki kepercayaan terhadap adanya sesuatu, entah kekuatan, energi, ataupun dorongan yang memiliki "pribadi" yang melampaui dirinya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Dengan demikian, jika tafsiran Pitcher itu ditujukan pada ide pendirian bangunan bagi kaum ateis, maka tafsirannya tersebut salah alamat alias tidak tepat alias salah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Pitcher juga menyatakan bahwa naluri yang berasal dari sekularitas atau narasi agama, sejatinya sama mengundang pertanyaan. Apakah ini berarti narasi dari dunia (kata "sekular" berasal dari kata Latin &lt;i&gt;saeculum&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;, yang artinya dunia) dan narasi dari agama memiliki semangat yang sama? Sama sekali tidak. Mengapa demikian? Narasi sekular (sesuai dengan artinya) berarti semangat hidup nyata yang berpijak pada dunia. Sementara narasi agama membawa semangat pada "dunia atas" (dunia abstrak seperti surga dan mahkluk2 surgawi). Sekular artinya berada, hidup pada dunia nyata, masa kini, dan tidak "melihat" ke atas serta mengarahkan pandangan kepada "hal-hal di atas." Yang ke dua ini mengacu pada agama, bukan pada sekular, dunia. Dengan demikian, pernyataan Pitcher bahwa narasi sekular dan narasi agama sesungguhnya sama adalah keliru. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Setelah memperhatikan setiap pandangan dengan seteliti mungkin, maka pada pihak manakah anda setuju? Bagi saya, tidak penting apakah kaum ateis memiliki gedung "sendiri" atau khusus karena masing-masing bisa "berjuang" dan hidup dalam masyarakatnya masing-masing. Jika memang dibutuhkan tempat untuk berkumpul, maka bisa berkumpul di tempat tertentu, jadi tidak perlu mendirikan tempat khusus. Terlebih, bagi kaum ateis tidak ada satupun subjek yang "suci" dan (harus) disembah karena bagi kaum ateis tidak ada yang tidak bercela, tidak bernoda. Yang perlu dilakukan dan terus dikembangkan serta dikedepankan adalah pemikiran kritis dan perjuangan terhadap kekerasan dan ketidakadilan. Meski kritisisme, perlawanan terhadap kekerasan dan ketidakadilan harus terus dilakukan, itu pun bukan sesembahan kaum ateis sehingga ketiga hal tersebut pun tidak perlu disembah layaknya kaum beragama/bertuhan menyembah tuhan/allahnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-6336296683116117725?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/6336296683116117725/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2012/01/kuil-para-ateis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/6336296683116117725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/6336296683116117725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2012/01/kuil-para-ateis.html' title='&quot;Kuil&quot; Para Ateis?'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-5022040780781951662</id><published>2012-01-27T13:49:00.002+07:00</published><updated>2012-01-31T15:26:30.931+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skeptisisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Doa'/><title type='text'>Maaf dalam Doa</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Tidak jarang orang mengaitkan kematian dengan agama dan/atau tuhan, namun sebaliknya hanya segelintir&amp;nbsp;orang yang ﻿memahami bahwa peristiwa kematian merupakan hal yang wajar alias normal karena dialami oleh&amp;nbsp;setiap makhluk hidup. Oleh karena kematian oleh banyak orang dianggap&amp;nbsp;berkaitan&amp;nbsp;tuhan maka ketika kematian terjadi mereka membawa-bawa tuhan. Hal inilah yang juga dialami oleh perempuan muda yang&amp;nbsp;karena mabuk telah mengakibatkan&amp;nbsp;kematian sembilan orang. &lt;a href="http://id.berita.yahoo.com/inilah-bunyi-permohonan-maaf-supir-xenia-maut-afriani-012435622.html"&gt;&lt;span style="color: magenta;"&gt;Dalam surat yang ditulisnya di balik jeruji ia memohon maaf kepada banyak pihak termasuk tuhan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Dalam surat yang janggal -- selain meminta maaf kepada tuhan, perempuan muda tersebut juga memohon maaf dari, serta mendoakan para korban -- itu si pemohon maaf kepada tuhan layaknya sebagai figur yang nyata dan hidup.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Mengapa "figur" tuhan dianggap sebagai sesuatu yang nyata dan hidup oleh banyak orang, khususnya yang beragama, sekalipun keberadaan figur tersebut, sampai saat ini, tidak dapat dibuktikan secara jasmani? Salah satu penjelasan yang sederhananya adalah bahwa karena kepada mereka diajarkan dan ditanamkan untuk percaya akan adanya figur tersebut sejak kecil tanpa mempertanyakan apalagi meragukan, "apakah figur tersebut memang benar nyata dan hidup." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Mereka yang percaya pada keberadaan tuhan selalu mendasarkan kepercayaannya pada, selain ajaran yang diterima sejak kecil, juga pada "perasaan" dan pengalaman pribadi dengan figur tuhan tersebut. "Perasaan" dan pengalaman pribadi inilah yang disebut mereka dengan pengalaman spiritual. Jika "perasaan" dan pengalaman tersebut memang benar adanya, mengapa tidak setiap orang&amp;nbsp;"merasakan" dan "mengalami"&amp;nbsp;perjumpaan dengan&amp;nbsp;figur yang&amp;nbsp;disebut tuhan, allah, ataupun "kuasa" pribadi yang &amp;nbsp;mengendalikan manusia? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut cukup sederhana, yakni: "perasaan" dan pengalaman spiritual bersifat sangat subjektif karena berasal dari bentukan sejak kecil dan juga bisa diperkuat oleh lingkungan sekitar. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Kedua hal tersebut, jika tidak dipikirkan secara kritis, akan terus tertanam dalam pemikiran orang yang meyakininya. Apa artinya? "Perasaan" dan pengalaman mengenai tuhan merupakan "benih" dalam otak yang oleh orang yang mempercayainya dianggap sebagai sesuatu yang nyata dan hidup di luar dirinya. Namun sesungguhnya hal tersebut berada dalam pikirannya semata. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Oleh karena "figur" tuhan dipahami berada di luar diri manusia, maka orang-orang yang mempercayainya pun memanjatkan doa pada figur tersebut. Tuhan dipercaya sebagai "figur" maha pemaaf dan pemurah layaknya manusia meskipun manusia bukan yang "maha."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Jika tuhan, allah, ataupun "kuasa" pribadi yang mampu mengendalikan manusia hanyalah berada dalam pikiran manusia, dan tidak berada di luar manuasia, maka dialamatkan ke manakah doa-doa yang dipanjatkan oleh begitu banyak orang? Jika pertanyaan tersebut dialamatkan kepada saya, maka jawabannya pun sangat sederhana dan singkat, "Jangan tanya saya karena saya tidak berdoa."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-5022040780781951662?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/5022040780781951662/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2012/01/maaf-dalam-doa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/5022040780781951662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/5022040780781951662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2012/01/maaf-dalam-doa.html' title='Maaf dalam Doa'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-7033085339303590216</id><published>2011-08-15T21:44:00.006+07:00</published><updated>2011-08-17T08:38:04.512+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berpikir Kritis'/><title type='text'>Seni Berpikir Kritis (Bagian Ketiga - Terakhir)</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt;Pada bagian akhir seri tulisan seni berpikir kritis yang lalu disinggung empat kunci utama yang merupakan ciri berpikir kritis, yakni: berusaha berpikir jernih dan lurus, berusaha fokus pada ide-ide atau poin-poin utama, berusaha mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendalam yang relevan, dan berusaha berpikir terbuka. Tulisan kali - seri terakhir - berfokus pada empat kunci utama tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 7pt; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Berusaha berpikir secara jernih dan lurus&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt;Seorang yang berpikir kritis selalu awas terhadap berbagai pernyataan, ide, atau pemikiran yang tidak jelas/jernih alias kabur dengan tidak puas sekadar memahami penampakan luar setiap hal melainkan selalu berusaha memahami apa yang terkandung di dalamnya. Artinya, orang tersebut mau berpikir mendalam. Namun sayangnya,&amp;nbsp; banyak orang lebih suka berpikir dangkal sehingga mudah dikelabui dan disesatkan oleh berbagai pernyataan, ide, atau pemikiran yang tidak jernih, ambigu (bermakna ganda), dan tidak lurus. Sebaliknya, orang yang berpikir jernih gemar berpikir secara mendalam dengan selalu menguji setiap pernyataan, ide, atau pemikiran, baik yang bukan berasal dari dirinya maupun berasal dari dirinya. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah selalu berusaha menjelaskan setiap hal dengan kata-kata sendiri demi pemahaman yang jernih, lurus, dan mendalam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 7pt; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Berusaha fokus pada ide-ide atau poin-poin utama&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt;Seorang yang berpikir kritis selalu berusaha menghindari cara berpikir parsial. Artinya, ia selalu awas terhadap berbagai pernyataan, ide, atau pemikiran yang tidak fokus. Oleh karena itu, ia selalu berfokus &lt;i&gt;hanya&lt;/i&gt; pada ide-ide atau poin-poin utama sehingga ia selalu berada dalam konteks. Dengan demikian, seorang pemikir kritis senantiasa berusaha berpikir dalam konteks tertentu, baik ketika mengajukan pertanyaan, memberikan contoh, analogi, metafor, mengemukakan hipotesis/hipotesa, menawarkan jalan keluar, maupun mengambil keputusan. Bagaimana fokus terhadap berbagai ide atau poin utama bisa dicapai? Dengan selalu mengajukan beberapa pertanyaan, seperti: “Apakah ini adalah ide pokok atau masalah utamanya?”, “apakah saya fokus pada ide atau masalah pokok?”, dan “apakah konteksnya?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 7pt; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Berusaha mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendalam yang relevan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt;Seorang yang berpikir kritis tidak jemu mengajukan pertanyaan relevan terhadap semua hal. Ini dilakukan demi pemahaman dan penilaian yang sesuai. Seorang pemikir kritis selalu awas dan sadar bahwa ada begitu banyak hal yang seringkali berbeda dari penampilannya. Artinya, ia tidak mau pikirannya dikecoh oleh penampakan luar dari setiap hal. Oleh karena itulah ia mengajukan berbagai pertanyaan mendasar, penting, dan sesuai konteks. Selain bertanya, seorang pemikir kritis juga selalu siap menanggapi berbagai pertanyaan relevan yang mempertanyakan pertanyaannya. Dengan demikian, ia bukan hanya mau bertanya, melainkan tidak bosan menghadapi pertanyaan, baik yang berasal dari dirinya maupun dari luar dirinya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 7pt; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Berusaha berpikir terbuka&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt;Seorang yang berpikir kritis selalu bersedia mendengar pandangan orang lain sekalipun pandangan tersebut berbeda dari pandangannya. Dan jika memungkinkan ia mempertimbangkan ide atau pemikiran yang berbeda dari ide atau pemikirannya. Seorang pemikir kritis tidak ragu dan segan mengakui kesalahannya serta mengubah pandangannya ketika bukti datang bukti baru yang lebih masuk akal, kuat, dan dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, seorang pemikir kritis adalah individu yang selalu terbuka terhadap berbagai ide atau pemikiran baru yang telah dan dapat diuji kebenarannya. Dengan demikian, seorang yang kritis memiliki kerendahan hati untuk menyadari dan mengakui kesalahannya dalam berpikir. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt;Setelah memperhatikan keempat kunci utama dalam berpikir kritis, maka dapat disimpulkan bahwa seorang yang berpikir kritis adalah individu yang sadar penuh menggunakan pikirannya dengan sesuai dan menjadikan berpikir sebagai kegiatan yang bukan hanya diterapkan pada subjek-subjek di luar dirinya, melainkan pertama-tama dan terutama dialamatkan pada dirinya sendiri sebagai subjek yang berpikir. Akhirnya, yang harus selalu diingat bahwa semuanya itu dilakukan tanpa mengenal kata “stop” karena merupakan bagian hidup yang terus berlangsung.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-7033085339303590216?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/7033085339303590216/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2011/08/seni-berpikir-kritis-bagian-ketiga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/7033085339303590216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/7033085339303590216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2011/08/seni-berpikir-kritis-bagian-ketiga.html' title='Seni Berpikir Kritis (Bagian Ketiga - Terakhir)'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-7780338513855224774</id><published>2011-08-14T16:45:00.001+07:00</published><updated>2011-08-17T08:38:48.893+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Arthur Schopenhauer'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat'/><title type='text'>Makna Kehidupan (2)</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Jalan Keluar&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Bagi Schopenhauer kehendak tidaklah rasional. Kehendak merupakan dorongan yang tidak akan pernah bisa terpuaskan dan buta. Kehendak itu terjebak dalam kehidupan manusia yang membuatnya frustrasi karena dipenuhi dengan kerja keras tiada henti. Kehidupan, bagi Schopenhauer, seharusnya tidak perlu ada karena menyengsarakan manusia. Jika demikian, apa yang bisa dilakukan manusia agar bisa keluar dari kesengsaraannya? Schopenhauer mengajukan dua jalan keluar: &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;pertama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;kontemplasi estetik (bersifat sementara) dan &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;penyangkalan estetik (bersifat abadi). &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Individu yang &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;melakukan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;kontemplasi estetis mampu melampaui apa yang dilihat atau didengarnya dari sebuah objek. Individu tersebut memperoleh kesadaran lebih tentang unsur dasar dan sejati dari realitas. Kontemplasi membebaskan individu tersebut dari subjek yang berusaha menguasai objek. Namun jika individu melihat objek bukan sebagai objek yang ditentukan oleh kategori pemahaman atau representasi melainkan memandangnya lebih dari sekadar objek maka individu tersebut bisa tiba pada tipe dasar objek tersebut. Menurut Schopenhauer ketika kehendak memanifestasikan dirinya ke dalam objek partikular dari dunia ini akibatnya ia terobjektifikasi ke dalam objek-objek universal. Inilah yang disebut dengan Ide-ide Platonik.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Pemahaman Schopenhauer tersebut akan mudah dipahami &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;jika&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; dianalogikan ke dalam bidang atau konteks seni. Seniman bisa menjadi lebih dari sekadar subjek ketika ia mampu membebaskan dirinya dari tuntutan kehendak dengan berhenti dari semata-mata pribadi dan menjadi subjek pengetahuan yang tidak lagi memiliki kehendak. Pada saat itulah seorang seniman dapat mengkomunikasikan pengetahuannya mengenai objek seni melalui karya seni yang mengagumkan. Dengan demikian, tidak mengherankan jika pelaku dan penikmat seni bisa mengalami perasaan tertentu terhadap objek seni karena mereka mampu melampaui objek yang dilihat atau didengarnya. Namun demikian, kontemplasi estetik sifatnya sementara, sedangkan penyangkalan estetik bersifat abadi.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Pada saat individu mengenali dunia sebagaimana adanya dunia, pada momen itulah ia melihat kehidupan sebagai sebagai ruang dan waktu yang di dalamnya harus diisi dengan kerja keras tanpa akhir. Menurut Schopenhauer ketika individ mampu menyadari hal ini maka dirinya sesungguhnya telah terbebas dari kesengsaraannya karena pada titik ini ia telah sadar penuh. Ia bahkan menjadi individu yang sadar untuk menghargai, menghormati, dan mencintai subjek lain sebagaimana ia menghargai, menghormati, dan mencintai dirinya sendiri. Kesadaran ini menuntun individu pada pembebasan dari kehendak &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;yang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;sifatnya ilusif. Pembebasan dari kehendak &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;– pengosongan diri – &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;ini&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; dapat dicapai &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;melalui penyangkalan diri. Ini&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;yang di&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;sebut Schopenhauer&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;sebagai &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;penyangkalan estetik. Pernyataan Schopenhauer mengenai “&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;penyangkalan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; diri” &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;merangsang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; pertanyaan&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;, a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;pa &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;itu “penyangkalan”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;? Apa yang disangkal?&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Menurut Schopenhauer proses mengetahui menuntut keberadaan subjek sebagai yang mengetahui dan objek sebagai yang diketahui, sementara setiap kali Schopenhauer menyebut “pengosongan” &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;atau&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; “penyangkalan” ia sedang berupaya, bukan hanya meniadakan subjek dan objek, namun juga meniadakan ruang, waktu, pengertian, dan kehendak itu sendiri. Dengan kata lain&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;ia mengatakan bahwa tidak ada kehendak, tidak ada representasi, dan juga tidak ada dunia (bukan kehidupan). Apakah dengan demikian Schopenhauer seorang nihilis? Sama sekali bukan, karena ia tidak mengatakan bahwa “yang ada hanyalah ketiadaan” &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;namun&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; sebaliknya, “ketiadaan tidaklah pernah ada.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Setelah me&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;ncoba memahami &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Schopenhauer, maka dengan demikian, pertanyaan “apakah Schopenhauer seorang filsuf yang memandang kehidupan secara pesimis&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;tis&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;?” bisa dijawab dengan “tidak.” Mungkin saja Schopenhauer memahami kehidupan agak negatif, namun itu tidak berarti manusia &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;lain &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;yang hidup di dalamnya juga bersikap negatif terhadap kehidupan.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; Ini tidak dapat dilepaskan dari &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;pandangannya mengenai bunuh diri. Jika kehidupan ini sama sekali tidak bernilai dan manusia seharusnya tidak perlu berada di dalamnya, &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;apakah dengan demikian &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;bunuh diri &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;menjadi sah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;? &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Jika kehidupan ini tidak bermakna mengapa tidak bunuh diri saja?! Menurut&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; Schopenhauer&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;, tindakan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;bunuh diri &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;merupakan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; kesalahan karena ketika individu melakukan bunuh diri berarti dirinya&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; menyerah dan kalah terhadap kehendaknya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Lebih dari itu,&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;tindakan bunuh diri adalah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; bentuk afirmasi atas kehendak dan penerimaan atas duka cita. Yang dikatakan Schopenhauer adalah “penyangkalan kehendak” bukan “penyangkalan (terhadap) kehidupan.” &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Dengan berdasar pada argumen inilah maka &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;tindakan bunuh diri hanya akan menghancurkan diri sendiri dalam dunia representatif yang justru ditolak Schopenhauer. &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Hal penting yang perlu dicatat &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;dari pandangan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Schopenhauer – meski ia secara agak negatif memandang kehidupan – bahwa ia mengajukan pengalaman estetik (bukan mistik) sebagai alternatif atau jalan keluar bagi manusia dari kesengsaraan hidupnya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Harus diperhatikan bahwa j&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;alan keluar tersebut bukanlah pelarian apalagi &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;melakukan tindakan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;bunuh diri&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;. Ini dilakukan dengan berdasar pada kesadaran bahwa manusia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; tidak &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;hidup seorang diri&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; di dunia &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;ini karena &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;ada makhluk hidup lainnya dan alam&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;. Manusia juga &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;bukanlah subjek &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;sementara&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; yang lain&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;nya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; adalah objek(-nya)&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;, melainkan semuanya adalah subjek.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; Kesadaran inilah yang memampukan manusia melihat&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;memahami&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;, dan menilai&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; dunia &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;sekitarnya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;sebagaimana &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;ada&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;nya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Dengan demikian dari Arthur Schopenhauer kita belajar bahwa manusia bukanlah satu-satunya subjek di jagat ini karena ada subjek-subjek lainnya. Meski manusia selalu berusaha memahami dan memaknai dengan menilai subjek-subjek sekitarnya, namun adalah langkah yang bijak jika penilaian itu dilakukan dengan sesuai alias layak. Artinya, manusia tidak memberikan penilaian yang semena-mena terhadap subjek-subjek itu. Bagaimana penilaian sesuai/layak itu dilakukan? Dengan berpikir kritis individu akan dituntun ke dalam (proses) penilaian yang sesuai sehingga, baik dirinya maupun sesamanya tidak akan terkecoh dan tersesat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-7780338513855224774?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/7780338513855224774/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2011/08/makna-kehidupan-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/7780338513855224774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/7780338513855224774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2011/08/makna-kehidupan-2.html' title='Makna Kehidupan (2)'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-4120638745722045583</id><published>2011-08-14T16:25:00.002+07:00</published><updated>2011-08-17T08:39:10.615+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Arthur Schopenhauer'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat'/><title type='text'>Makna Kehidupan (1)</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Ap&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;akah makna&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; kehidupan?&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Tidak sedikit orang bertanya dan mencari jawaban terhadap pertanyaan seperti itu, termasuk seorang filsuf Jerman, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Arthur Schopenhauer&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; (1788-1860). Namun demikian,&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;banyak orang (secara keliru) menafsirkan pandangannya mengenai kehidupan sehingga ia dianggap sebagai seorang yang pesimis. Tidak jarang orang mengatakan jika Schopenhauer memiliki pandangan negatif terhadap &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;kehidupan dan menganggap dunia sebagai sesuatu yang seharusnya tidak ada. Apakah benar Schopenhauer filsuf yang pesimis terhadap kehidupan? Jika ya, mengapa ia berpikir demikian? Jika tidak, apakah &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;pandangannya&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;mengenai kehidupan, dan adakah jalan keluar yang &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;ditawarkan kepada&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; manusia &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;untuk &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;memaknai kehidupannya? Pembahasan makna kehidupan menurut Arthur Schopenhauer akan dibagi ke dalam dua bagian tulisan&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Dualisme&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Siapa saja yang hendak menyelami pemikiran Schopenhauer terlebih d&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;ulu perlu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; memahami karya Immanuel Kant (1724-1804) agar tidak tersesat&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;karena pandangan Schopenhauer berangkat dari penolakannya terhadap pemikiran Kant. Dalam karya&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;nya (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;“Kritik&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; terhadap &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Akal Budi Murni&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;”)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; Kant mengatakan bahwa pikiran itu aktif dan kekuatan apriori yang berasal dari pikiran itu yang memainkan peranan dalam pembentukan sifat dunia yang dialami manusia. Berbagai bentuk yang berasal dari intuisi inderawi manusia berlangsung di dalam ruang dan waktu. Artinya, semua objek yang dialami manusia selalu berada dalam ruang/tempat dan waktu tertentu. Namun demikian, intuisi inderawi manusia tidak cukup memberikan pengetahuan mengenai objek yang dialami manusia sehingga intuisi tersebut harus dibawa ke dalam konsep-konsep sehingga membentuk pengalaman inderawi. Pengalaman inderawi ini dibentuk dan diatur oleh kerja mental yang disebut kategori&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; (Menurut Kant ada&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; 12 kategori&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;, yakni&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;: kesatuan, pluralitas, totalitas, kenyataan, negasi, pembatasan, substansi, sebab-akibat, kesalingan, kemungkinan, aktualitas, dan kebutuhan&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;), sedangkan menurut&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; Schopenhauer hanya ada satu, yaitu kausalitas.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Kategori-kategori ini memampukan manusia untuk memahami bahwa setiap objek yang dicerapnya berada dalam ruang dan waktu. Hal-hal inilah yang memungkinkan manusia dapat melihat dan memahami dunia bukan hanya dalam ruang dan waktu namun secara keseluruhan. Dengan demikian, Kant memandang dunia sebagai objek yang menampakkan diri kepada manusia (subjek). Artinya, semua hal yang bisa diketahui manusia tidak lain hanyalah berupa sifat representasi dari sebuah objek.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Lebih lanjut Kant mengatakan bahwa makna terutama dunia sebagaimana ia menampakkan dirinya kepada manusia menunjukkan sesuatu yang lain/berbeda, yakni adanya realitas di balik penampakan tersebut. Inilah yang disebut Kant dengan fenomena (penampakan) dan noumena (“sesuatu pada dirinya sendiri”). Menurut Kant noumena merupakan hal yang tidak sama dengan pengalaman manusia. Artinya, pengalaman manusia berasal dari dunia objek dan dikonstruksi di dalam pikiran manusia. Dengan demikian, manusia bisa memiliki pengetahuan mengenai fenomena, namun tidak bisa memiliki pengetahuan mengenai noumena karena samar-samar. Oleh karena itulah manusia tidak dapat mengatakan hal-hal mengenai noumena selain hanya menyadari bahwa hal tersebut ada. Noumena itulah yang berinteraksi dengan pikiran manusia sehingga melahirkan pengalaman. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Pada momen inilah Schopenhauer menolak pandangan Kant. Pernyataan Kant bahwa noumena merupakan tempat dalam rangkaian kausalitas yang menjadi dasar pengalaman manusia, bagi Schopenhauer dianggap sebagai konsep yang menunjuk bahwa ada sesuatu lain yang berada di luar pengalaman manusia. Penolakan Schopenhauer tersebut jika dirumuskan ke dalam sebuah pertanyaan menjadi: bagaimana mungkin sungguh-sungguh ada yang disebut dengan noumena jika ia sendiri lahir karena konstruksi pikiran manusia? Dengan demikian, seandainya Kant benar dan kategori kausalitas sesuai hanya pada objek sebagaimana ia menampakkan dirinya, bagaimana kita bisa memahami pernyataan Kant bahwa noumena dapat melahirkan sesuatu? Berdasar pada hal ini Schopenhauer mengatakan bahwa tetap diperlukan adanya konsepsi lain dari hubungan antara fenomena dan noumena. &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Dunia &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;sebagai&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt; Kehendak&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Dualisme fenomena dan noumena Kant, bagi Schopenhauer, merupakan sesuatu yang absurd dan tidak mungkin dilakukan sehingga harus ditolak. Berbeda dari Kant, Schopenhauer berpendapat bahwa penampakan dan noumena tidak dapat dipisahkan karena merupakan realitas yang sama, hanya saja dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda. Bagi Schopenhauer, relasi bukanlah sebab-akibat melainkan identitas itu sendiri. Pada satu sisi dunia adalah representasi sekaligus pada sisi lainnya dunia pada dirinya sendiri merupakan kehendak. Pandangan Schopenhauer tersebut berdampak pada pengertian bahwa manusia sebagai subjek menerima tubuhnya sebagai objek sebagaimana objek lain dalam dunia (fisik) ini. Pengertian tersebut menampakkan diri dalam ruang dan waktu, berada dalam hubungan kausal, selalu berubah, dan demikian seterusnya. Dengan demikian, manusia melihat hal tersebut sebagai representasi, penampakan yang berada dalam dunia eksternal sekaligus empiris. Artinya, terhadap semua objek dalam dunia yang menampakkan diri sebagai representasi, manusia memiliki akses terhadap tubuhnya. Manusia mengetahui tubuhnya sebagaimana tubuhnya berada, terlepas dari tubuh manusia sebagai representasi karena ia memilikinya. Schopenhauer pun mengatakan dalam tubuhnya manusia menemukan kehendak.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Namun demikian, orang harus berhati-hati untuk tidak menafsirkan pernyataan Schopenhauer tersebut dengan mengatakan bahwa kehendak manusia merupakan penyebab aktivitas tubuh karena baginya tubuh dan kehendak adalah dua aspek dari realitas yang tidak berbeda alias sama. Schopenhauer mengatakan bahwa hasrat menghendaki itu adalah tubuh. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa tubuh manusia adalah kehendak yang terobjektifikasi. Dengan demikian, pada poin ini ia sependapat dengan Kant yang menyatakan bahwa dunia pada dirinya sendiri mengakibatkan representasi. &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Pernyataan Schopenhauer bahwa tubuh adalah kehendak yang terobjektifikasi berimplikasi pada gagasan bahwa seluruh dunia berdasarkan penampakannya tidak lain dan tidak lebih merupakan kehendak yang terobjektifikasi. Hal ini didasarkan pada penolakan Schopenhauer terhadap paham solipsisme yang mengatakan “yang ada hanyalah noumena dan representasinya.” Oleh karena itulah ia menegaskan bahwa tubuh manusia merupakan bagian dari dunia sebagaimana dunia menampakkan dirinya, dan keseluruhan manusia adalah kehendak itu. Dalam bahasa Schopenhauer, ketika individu menyadari dan mengenali hal ini, maka ia akan memahami bahwa sifat terdalam yang dimilikinya adalah kehendak.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-4120638745722045583?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/4120638745722045583/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2011/08/makna-kehidupan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/4120638745722045583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/4120638745722045583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2011/08/makna-kehidupan.html' title='Makna Kehidupan (1)'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-2097680957254046226</id><published>2011-08-14T11:13:00.006+07:00</published><updated>2011-08-17T08:39:32.346+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berpikir Kritis'/><title type='text'>Seni Berpikir Kritis (Bagian Kedua)</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Tulisan bagian pertama membahas mengenai manfaat berpikir sesuai/tepat demi memberikan penilaian dan mengambil kesimpulan yang tepat dalam situasi tertentu. Namun sayangnya, banyak orang tidak menyadari pikirannya sendiri bahkan tidak jarang orang menganggap berpikir bukanlah hal yang penting karena pikirannya berproses dengan sendirinya alias otomatis. Tulisan bagian kedua ini mengangkat seberapa penting orang mempelajari pikirannya sendiri demi menanggapi berbagai pertanyaan yang diangkat di akhir tulisan bagian pertama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Harus diakui hanya segelintir orang menganggap berpikir mengenai pikirannya adalah sesuatu yang penting. Sebagian besar orang “berpikir” bahwa pikirannya tidaklah perlu dipikirkan karena tidak ada manfaatnya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bahwa tidak sedikit orang menganggap berpikir mengenai pikirannya sendiri adalah hal yang aneh. Ini mengakibatkan berpikir hanya dilakukan sebagian kecil orang karena berpikir tidak dijadikan bagian dari budaya manusia. Namun jika diperhatikan dan disadari, (kegiatan) berpikir memainkan peran yang banyak dalam kehidupan manusia; pernyataan, keyakinan, dan “perasaan” dipengaruhi dan dihasilkan dari proses berpikir manusia. Ini adalah keniscayaan. Dengan demikian, orang harus sadar penuh bahwa berpikir merupakan bagian hidup manusia yang sangat penting, karena dengan berpikir manusia menentukan keberadaannya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Setelah menyadari pentingnya berpikir, berikutnya adalah bagaimana berpikir yang sesuai itu? Bagaimana berpikir secara efektif? Ketika berbicara mengenai “sesuai” dan “efektif” berarti berkaitan dengan kualitas. Artinya, berpikir menjadi semakin penting karena kualitas ditentukan oleh, salah satunya, latihan demi keterampilan. Oleh karena itu, dibutuhkan ketekunan dan waktu untuk seseorang mencapai tahap berpikir yang baik. Kemampuan berpikir sesuai tidak bisa diperoleh hanya dalam satu atau beberapa hari, bahkan bulan karena dibutuhkan kemauan untuk mengembangkan kemampuan dan kerja keras tiada henti.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Berpikir haruslah diperlakukan sebagai kegiatan seni yang terus berlangsung sehingga setiap kali kesulitan, masalah, tantangan, dan ketidaknyamanan muncul, orang tidak berhenti apalagi mundur dalam berpikir, melainkan terus melatih keterampilan berpikirnya. Layaknya seorang atlit atau seniman yang terus berlatih dan meningkatkan keterampilannya demi hasil yang maksimal bahkan sempurna, maka hal yang serupa berlaku bagi orang yang mau berpikir efektif. Tidak ada yang lain kecuali kesungguhan, latihan, dan kerja keras tiada henti demi tercapainya proses berpikir yang sesuai dan efektif.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Setidaknya ada empat kunci utama yang menjadi ciri berpikir efektif, yakni:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Berusaha berpikir secara jernih dan lurus&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Berusaha fokus pada ide-ide atau poin-poin utama&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Berusaha mengajukan pertanyaan-pertanyaan      mendalam yang relevan&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Berusaha berpikir terbuka&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Jika seorang menerapkan empat hal tersebut maka ia sudah berada dalam jalur yang sesuai/tepat dalam proses berpikir efektif bahkan kritis. Harus disadari penuh bahwa keempat hal di atas tidak berfungsi sebagai tongkat ajaib atau mantra yang ketika diterapkan serta-merta mengubah seorang menjadi pemikir kritis. Harus terus diingat, kesungguhan, latihan dan kerja keras tiada henti adalah daya utama bagi mereka yang ingin dapat berpikir efektif bahkan kritis sedangkan keempat kunci utama di atas adalah rambu-rambu yang tugasnya mengarahkan dan menuntun untuk sampai pada tahap berpikir efektif dan kritis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-2097680957254046226?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/2097680957254046226/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2011/08/seni-berpikir-kritis-bagian-kedua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/2097680957254046226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/2097680957254046226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2011/08/seni-berpikir-kritis-bagian-kedua.html' title='Seni Berpikir Kritis (Bagian Kedua)'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-7898050537250486985</id><published>2011-08-14T10:58:00.005+07:00</published><updated>2011-08-17T08:39:47.429+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berpikir Kritis'/><title type='text'>Seni Berpikir Kritis (Bagian Pertama)</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Dalam tulisan yang lalu dibahas mengenai &lt;a href="http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2011/08/pertanyaan-sokratik-bagian-kedua.html"&gt;pertayaan Sokratik sebagai suatu seni.&lt;/a&gt; Untuk melengkapi dan memperluas seni dalam berpikir kritis, maka mulai tulisan kali ini akan dibahas secara khusus mengenai berpikir kritis sebagai suatu seni. Dengan kata lain, proses berpikir kritis juga bisa dipertimbangkan sebagai kegiatan seni. Pembahasan mengenai seni berpikir kritis akan disajikan ke dalam tiga seri tulisan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Seperti layaknya kegiatan lainnya, berpikir adalah salah satu kegiatan yang selalu dilakukan manusia, namun sebagian besar orang tidak menyadarinya atau menganggapnya sebagai suatu yang biasa saja. Bahkan tidak sedikit orang yang menganggap berpikir bukanlah kegiatan yang harus dilakukan, apalagi membutuhkan latihan dan terlebih, dipertimbangkan sebagai (kegiatan) seni. Oleh karena itulah banyak orang tidak memahami apa itu berpikir.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Apapun situasi, tujuan, harapan, keberadaan, posisi, ataupun masalah yang dihadapi, manusia sesungguhnya senantiasa berpikir walaupun hal tersebut tidak disadarinya secara penuh. Baik sebagai pimpinan, karyawan, warga negara, pasangan, teman, orangtua, maupun anak, manusia berpikir. Bukan “sekadar” berpikir, tetapi berpikir secara layak (&lt;i&gt;fair thinking&lt;/i&gt;) karena dengan berpikir layak menghasilkan banyak hal yang bermanfaat. Pendek kata, berpikir layak bermanfaat. Namun harus disadari, untuk mampu berpikir layak orang perlu berlatih karena hal itu tidak dapat dicapai hanya dalam satu atau beberapa hari bahkan bulan, melainkan membutuhkan waktu yang cukup lama. Sebaliknya, berpikir secara asal-asalan mengakibatkan berbagai masalah, membuang-buang waktu dan tenaga, serta dapat menyebabakan kesesatan dan kecemasan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Berpikir kritis dapat dianggap sebagai sebagai seni yang melatih dan mendorong orang supaya dapat menggunakan pikirannya dengan layak untuk digunakan dalam setiap situasi yang beragam. Oleh karena tujuan utama berpikir adalah memahami situasi di mana seseorang berada, maka orang membutuhkan informasi relevan demi memberikan penilaian atau mengambil kesimpulan yang sesuai dengan situasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Apa yang sesungguhnya terjadi? Apakah ia/mereka sedang berusaha memanfaatkan saya? Apakah ia/mereka peduli terhadap saya? Apakah saya menipu diri sendiri dengan mempercayai hal tersebut? Apakah akibat-akibat yang akan terjadi jika saya mempercayai hal itu? Apakah yang harus dilakukan? Mengapa hal itu bisa terjadi? Bagaimana melakukannya dengan sesuai? Apakah ini merupakan masalah utama, ataukah ada masalah yang lebih utama? Apakah hal ini penting untuk ditanggapi, ataukah ada hal lebih penting lainnya yang seharusnya saya tanggapi? Terhadap poin (penting) manakah saya harus berfokus? Ini semua adalah beberapa contohpertanyaan yang patut diajukan ketika orang menganalisis suatu hal sehingga penilaian bisa dilakukan secara layak. Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti di atas maka sesungguhnya orang telah mengambil langkah awal dalam berpikir.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Pertanyaan-pertanyaan di atas perlu dilanjutkan dengan mencari jawab terhadapnya. Mampu memberikan tanggapan dan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti itu merupakan proses berpikir selanjutnya. Artinya, berbagai pertanyaan yang diajukan tidak dibiarkan atau ditinggalkan begitu saja melainkan dicari jawaban relevannya sehingga penilaian yang sesuai dan tepat dapat dilakukan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Namun demikian, untuk memaksimalkan kualitas dalam berpikir, seorang harus terlebih dahulu belajar bagaimana menjadi kritikus yang layak bagi pikirannya sendiri. Ini dilakukan supaya orang tersebut mampu, bukan hanya berpikir melainkan juga bertindak seturut&amp;nbsp; dengan pikirannya yang sesuai serta mampu mempertanggungjawabkan pikiran serta tindakannya. Artinya, ia mempertimbangkan dampak-dampak yang dihasilkan dari pikiran dan tindakannya tersebut. Oleh karena itu, agar seseorang dapat menjadi kritikus yang layak bagi pikirannya, ia harus secara sadar menggunakan pikirannya yang sesuai dan menjadikan berpikir sebagai kegiatan yang utama. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa demi menjadi kritikus yang layak bagi pikirannya, orang harus belajar mengenai pikirannya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Cobalah tanyakan pada diri sendiri pertanyaan-pertanyaan berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Apa      yang telah saya pelajari mengenai pikiran saya?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Apakah      saya pernah mempelajari pikiran saya sendiri?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Apa      yang saya ketahui mengenai cara pikiran mengolah berbagai informasi?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Apakah      yang saya ketahui mengenai cara menganalisis, mengevaluasi, atau membangun      pikiran saya?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Dari      manakah pikiran saya berasal?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Apa      itu kualitas yang “baik”? Apa ukurannya? Bagaimana mengukurnya?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Apa      itu kualitas yang “buruk”? Apa ukurannya? Bagaimana mengukurnya?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Apakah      saya dapat mengendalikan pikiran saya?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Bagaimanakah      mengujinya?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Apakah      saya memiliki tolok ukur dalam menentukan seberapa “baik” dan “buruk” saya      melakukan penilaian?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Apakah      saya menyadari jika ada masalah dalam proses berpikir saya?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Apakah      saya secara sadar kemudian memperbaikinya?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Seberapa      jauh saya bisa mengetahui dan menyadari ketidakjernihan,      ketidakkonsistenan, ketidaktepatan, atau kedangkalan pikiran saya?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Apakah      saya sadar jika saya berpikir? Apakah saya menyadari pikiran saya?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Jika      seseorang meminta saya untuk mengajarinya bagaimana cara berpikir efektif,      apakah saya memahami apa itu berpikir efektif?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Bagaimana      cara (efektif) membimbing orang tersebut?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Dapat diduga kuat jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas akan berkisar seputar: “Saya tidak tahu banyak mengenai pikiran saya sendiri”, “Saya tidak tahu apa itu berpikir”, “Saya tidak tahu bagaimana pikiran saya bekerja karena saya tidak pernah mempelajarinya”, “Saya tidak tahu bagaimana menguji pikiran saya”, “Saya tidak menganggap berpikir itu penting karena pikiran saya (sudah) bekerja dengan sendirinya/otomatis.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Tulisan berikut akan membahas mengapa orang perlu mempelajari pikirannya sendiri untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan di atas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-7898050537250486985?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/7898050537250486985/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2011/08/seni-berpikir-kritis-bagian-pertama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/7898050537250486985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/7898050537250486985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2011/08/seni-berpikir-kritis-bagian-pertama.html' title='Seni Berpikir Kritis (Bagian Pertama)'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-6123794376688690956</id><published>2011-08-10T12:13:00.004+07:00</published><updated>2011-08-17T13:38:32.357+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berpikir Kritis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pertanyaan Sokratik'/><title type='text'>Pertanyaan Sokratik (Bagian Keempat - Penutup)</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Tulisan yang lalu membahas berbagai unsur yang harus digunakan seorang yang hendak membangun dialog Sokratik, entah dengan pernyataan, keyakinan, ataupun berita tertentu demi memperoleh pemahaman dan memberikan penilaian yang akurat dan jernih. Tulisan kali ini akan menutup seri “Pertanyaan Sokratik” dengan membahas beberapa hal penting lain yang perlu diperhatikan sebagai kelengkapan demi tercipta dan terbangunnya dialog Sokratik yang baik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Salah satu hal yang perlu disadari dan dipersiapkan ketika seorang akan menciptakan dan membangun dialog Sokratik yang baik adalah dengan mengajukan pertanyaan awal sebagai pembuka yang akan didiskusikan lebih lanjut dan jauh. Seperti telah kita pelajari bahwa semua setiap pertanyaan saling berkaitan, dan pertanyaan tertentu berasal dari pertanyaan lainnya. Artinya, pertanyaan awal menentukan pertanyaan berikutnya. Contoh, jika ada pertanyaan, “Apa itu multikulturalisme? Maka harus jelas lebih dulu jawaban untuk pertanyaan, “Apa itu kebudayaan”? dan, untuk menjawab pertanyaan tersebut, harus dijelaskan dulu pertanyaan, “Apa yang menjadi dasar kebudayaan?” “Apa karakter kebudayaan?” atau, “Apa saja unsur-unsur dalam diri seorang yang menentukan budayanya”?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Demi dibangunnya proses berpikir yang lurus dan jernih, susunlah pertanyaan-pertanyaan relevan yang tertuju pada ide pokok yang hendak didiskusikan lebih lanjut. Proses yang sama bisa diterapkan setiap kali orang akan menganalisis, menilai, dan menjelaskan semua hal, termasuk pernyataan, keyakinan, bahkan berita tertentu. Jika proses berpikir seperti ini dilakukan setiap kali orang berdiskusi dengan subjek tertentu, maka dialog Sokratik pun terjadi. Dengan demikian, dialog Sokratik merupakan penuntun agar orang memahami sesuatu secara mendalam dan menyeluruh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Pertanyaan-pertanyaan di bawah merupakan penuntun demi terbangunnya dialog Sokratik yang terfokus. Pertanyaan utamanya adalah, “Apa itu sejarah?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Symbol&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 7pt; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Apa yang ditulis para sejarawan?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Apa itu masa      lalu?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Apakah mungkin      memasukkan semua hal yang terjadi di masa lalu ke dalam satu buku sejarah?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Bagaimana      sejarawan menentukan hal-hal yang penting dan tidak penting?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Bagaimana      sejarawan menekankan hal tertentu yang hendak didiskusikan lebih dalam dan      menyeluruh?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Apakah para      sejarawan memiliki penilaian-penilaian tertentu dalam mengajukan      pandangannya?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Bagaimana      menentukan atau membedakan antara opini dan fakta?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Bagaimana      membedakan antara opini dan fakta?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Mengapa opini      dan fakta harus dibedakan?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Bagaimana melakukan      penafsiran sejarah?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Apa itu penafsiran      (sejarah)?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Bagaimana      membangun sudut pandang sejarah?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Apa itu sudut      pandang (sejarah)?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Setelah memperhatikan berbagai ciri, bentuk pertanyaan, prinsip, unsur, dan contoh pertanyaan dalam menciptakan dan membangun dialog Sokratik yang baik, maka orang diharapkan menyadari bahwa semua hal, baik pernyataan, keyakinan, dan berita setidaknya memiliki tiga fungsi, yakni:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Untuk menyatakan      pandangan subjektif&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Untuk membangun      fakta objektif&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Untuk menyajikan      jawaban-jawaban atau pernyatan-pernyataan yang dianggap lebih baik&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Demi memperoleh pemahaman dan penilaian yang jernih dan mendalam, maka ketiga hal tersebut harus dianalisis dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan relevan, seperti sudah disajikan dalam tulisan sebelumnya (bagian ketiga). Akhirnya, harus disadari penuh bahwa setiap kali orang berjumpa dengan kenyataan tertentu dan ketika ia memberikan penilaian, orang tersebut berada dalam konteks tertentu. Artinya, ia memiliki pemikirannya dilatarbelakangi hal-hal tertentu, dan latar belakang tertentu, entah pengalaman, pandangan, budaya, keyakinan, atau pengetahuan yang dimilikinya. Dengan memahami hal-hal tersebut diharapkan seseorang menyadari posisinya sebagai makhluk yang (sesungguhnya selalu) berpikir.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-6123794376688690956?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/6123794376688690956/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2011/08/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/6123794376688690956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/6123794376688690956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2011/08/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html' title='Pertanyaan Sokratik (Bagian Keempat - Penutup)'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-7125335642711155495</id><published>2011-08-08T18:08:00.003+07:00</published><updated>2011-08-17T13:39:16.696+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berpikir Kritis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pertanyaan Sokratik'/><title type='text'>Pertanyaan Sokratik (Bagian Ketiga)</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Tulisan sebelumnya (bagian kedua) mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan Sokratik yang bisa dianggap sebagai seni serta prinsip-prinsip yang perlu dipertimbangkan ketika orang hendak membangun dialog Sokratik. Kali ini tema tulisan mengangkat unsur-unsur berpikir yang harus diperhatikan jika hendak membangun dialog Sokratik.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Mereka yang hendak terlibat dalam atau mau membangun dialog Sokratik perlu membangun secara rapi (sistematis) pertanyaan-pertanyaan yang dilandaskan pada kelurusan berpikir dan akal sehat yang terus dilatih. Di bawah ini adalah unsur-unsur yang akan mengarahkan dan memfokuskan pikiran ketika dialog Sokratik akan dibangun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Menyadari      dan mengenali bahwa semua hal mengarah pada sesuatu yang hendak dicapai. Dengan      demikian, seorang yang hendak membangun dialog Sokratik, entah dengan      pernyataan, keyakinan, atau berita tertentu perlu terlebih dulu secara      mendalam dan menyeluruh memahami tujuan hal tertentu. Oleh karena itu,      perlu diajukan pertanyaan-pertanyaan, seperti: apa yang hendak diperoleh      melalui pernyataan tersebut? Apa tujuan utama dalam keyakinan atau berita      tersebut?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Menyadari      dan mengenali bahwa semua hal dilandaskan pada informasi tertentu. Dengan      demikian, seorang yang hendak membangun dialog Sokratik, entah dengan      pernyataan, keyakinan, atau berita tertentu perlu terlebih dulu secara      mendalam sekaligus menyeluruh memahami dasar informasi yang digunakan untuk      mendukung hal tertentu. Oleh karena itu, pertanyaan yang bisa dikemukakan,      seperti: informasi apa yang digunakan untuk mendukung hal tersebut?      Bagaimana kita bisa tahu jika informasi itu tepat atau relevan? &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Menyadari      dan mengenali bahwa untuk memahami dan menilai sesuatu secara menyeluruh      sekaligus mendalam perlu membuat definisi, membangun opini, dan menarik      kesimpulan. Dengan demikian, seorang yang hendak membangun dialog Sokratik,      entah dengan pernyataan, keyakinan, atau berita tertentu perlu terlebih      dulu secara mendalam memahami definisi, opini, bahkan asumsi yang membentuk      hal tertentu. Oleh karena itu, beberapa contoh pertanyaan yagn bisa      diajukan adalah: bagaimana kesimpulan itu dibuat/diambil? Seberapa jauh      kesimpulan itu bisa dipertanggungjawabkan, baik secara logis maupun etis?      Apakah ada kemungkinan jika diajukan kesimpulan yang berbeda atau lain? &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Menyadari      dan mengenali bahwa semua hal melibatkan konsep-konsep tertentu. &amp;nbsp;Dengan demikian, seorang yang hendak      membangun dialog Sokratik, entah dengan pernyataan, keyakinan, atau berita      tertentu perlu terlebih dulu secara mendalam sekaligus menyeluruh memahami      konsep-konsep yang mendefinisikan dan membentuk hal tertentu. Oleh karena      itu, contoh-contoh pertanyaan yang bisa diangkat, seperti: apakah ide      pokok yang hendak disampaikan? Bisakah ide tersebut cukup jelas? &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Menyadari      dan mengenali bahwa semua hal saling terkait alias satu hal bergantung      pada hal lainnya. Dengan demikian, seorang yang hendak membangun dialog      Sokratik, entah dengan pernyataan, keyakinan, atau berita tertentu perlu terlebih      dulu secara mendalam sekaligus menyeluruh memahami keterkaitan tersebut.      Oleh karena itu, pertanyaan yang bisa diajukan adalah: apakah hubungan      antara hal ini dengan dengan itu? Bagaimanakah menjelaskan hubungan di antara      keduanya? &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Menyadari      dan mengenali bahwa semua hal mengarah pada tujuan tertentu yang berkaitan      dengan suatu hasil atau dampak. Dengan demikian, seorang yang hendak      membangun dialog Sokratik, entah dengan pernyataan, keyakinan, atau berita      tertentu perlu terlebih dulu secara mendalam sekaligus menyeluruh      membayangkan hasil atau dampak yang akan terjadi. Oleh karena itu, contoh pertanyaan      yang relevan adalah: apa yang hendak disampaikan? &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Menyadari      dan mengenali bahwa semua hal terjadi dan/atau dibentuk dalam sudut      pandang tertentu. Dengan demikian, seorang yang hendak membangun dialog      Sokratik, entah dengan pernyataan, keyakinan, atau berita tertentu perlu terlebih      dulu secara mendalam sekaligus menyeluruh sudut pandang yang membentuk hal      tertentu. Oleh karena itu, pertanyaan-pertanyaan yang cocok adalah: apakah      sudut pandang hal tersebut? Adakah sudut pandang lain yang bisa      dipertimbangkan?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Menyadari      dan mengenali bahwa semua hal bisa dipertanyakan. Artinya, tidak ada hal      yang tabu atau kebal dari pertanyaan. Oleh karena itu, jika sesuatu hal      belum jelas atau jernih, perlu dipertanyakan kembali. Dua contoh pertanyaannya      adalah: saya belum mengerti, apakah ada informasi lain yang bisa dipercaya untuk memperjelas hal itu? Apakah hal tersebut cukup masuk akal?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-7125335642711155495?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/7125335642711155495/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2011/08/pertanyaan-sokratik-bagian-ketiga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/7125335642711155495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/7125335642711155495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2011/08/pertanyaan-sokratik-bagian-ketiga.html' title='Pertanyaan Sokratik (Bagian Ketiga)'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-3480155694745053799</id><published>2011-08-07T17:28:00.004+07:00</published><updated>2011-08-17T13:38:55.213+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berpikir Kritis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pertanyaan Sokratik'/><title type='text'>Pertanyaan Sokratik (Bagian Kedua)</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Tulisan bagian pertama membahas apa itu pertanyaan dan jawaban serta ciri-ciri pertanyaan Sokratik. Tulisan kali ini membahas pertanyaan Sokratik sebagai suatu seni dan prinsip-prinsip pertanyaan Sokratik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Mengolah pertanyaan Sokratik sehingga menjadi sebuah seni merupakan hal yang sangat penting dan bernilai karena di dalamnya melibatkan aktivitas yang dilakukan secara intens dan tiada henti, bagaikan seorang pelukis atau pematung yang terus mengasah keterampilannya sehingga ia semakin fasih dan karyanya dipertimbangkan sebagai &lt;i&gt;master piece&lt;/i&gt;. Orang yang ingin memiliki kemampuan berpikir kritis juga harus terus melatih pikirannya sehingga ia mampu berpikir dengan jernih, tajam, dan lurus. Dalam konteks inilah seorang yang berpikir kritis berarti selalu menggunakan pikirannya dengan teratur, dalam, dan menilai semua hal secara hati-hati dengan menggunakan akal sehatnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Ada kaitan yang khas antara berpikir kritis dan pertanyaan Sokratik karena keduanya memiliki tujuan yang sama. Dengan berpikir kritis seorang memiliki pandangan yang menyeluruh dan rinci mengenai pikirannya dalam melakukan penilaian dan untuk memperoleh kebenaran, sementara pertanyaan-pertanyaan Sokratik memberikan bingkai terhadap hal-hal tersebut dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan relevan sehingga kegiatan penilaian dan upaya memperoleh kebenaran itu menjadi terarah. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa melalui berpikir kritis seorang memperoleh gambaran luas dan tujuan yang hendak dicapai, sedangkan melalui pertanyaan Sokratik upaya orang tersebut menjadi lebih fokus.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Tujuan berpikir kritis adalah membangun suatu proses berpikir disiplin yang mampu mengumpulkan, memisahkan/membedakan, menyusun, mengawasi, dan menilai, baik pikiran sendiri maupun pandangan, keyakinan, dan pikiran orang lain, dalam kerangka berpikir yang lurus, jernih, dan mampu dipertanggungjawabkan. Sementara itu, pertanyaan Sokratik memberikan model atau kerangka atau bingkai terhadap semua hal yang telah disebutkan di atas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Ada sekian prinsip yang perlu dipertimbangkan untuk menuntun mereka yang hendak terlibat dalam dialog Sokratik:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Menanggapi setiap (sedapat mungkin) pertanyaan      dengan pertanyaan lanjutan yang relevan, yang bisa merangsang si penanya mengembangkan      pikirannya lebih dalam dan menyeluruh &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Berusaha memahami dasar-dasar penting yang      berasal dari suatu pernyataan, keyakinan, peristiwa, atau kenyataan, dan      mengikuti seraya mengawasi dampak-dampak yang bisa muncul dari hal-hal      tersebut dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan relevan&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Perlakukan semua pernyataan sebagai poin atau ide      yang menghubungkan pada proses berpikir selanjutnya&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Perlakukan semua proses berpikir sebagai suatu      perkembangan&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Menyadari bahwa pemikiran yang kemudian selalu dipengaruhi      pemikiran sebelumnya. Artinya, setiap pemikiran saling berkaitan dan      saling mempengaruhi&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Sadar penuh bahwa pertanyaan berasal dari      pertanyaan-pertanyaan sebelumnya dan semua proses berpikir berawal dari      proses yang serupa. Ketika muncul sebuah pertanyaan terbukalah pada      pertanyaan yang melatarbelakanginya&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-3480155694745053799?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/3480155694745053799/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2011/08/pertanyaan-sokratik-bagian-kedua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/3480155694745053799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/3480155694745053799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2011/08/pertanyaan-sokratik-bagian-kedua.html' title='Pertanyaan Sokratik (Bagian Kedua)'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-1963533216283701313</id><published>2011-08-07T12:44:00.005+07:00</published><updated>2011-08-17T13:39:40.003+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berpikir Kritis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pertanyaan Sokratik'/><title type='text'>Pertanyaan Sokratik (Bagian Pertama)</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Seperti telah kita pelajari dari seri tulisan “Sejarah Singkat Pemikiran Kritis” bahwa Sokrates-lah orang pertama yang secara sadar menekankan pentingnya berpikir kritis. Metode berpikir kritis yang dikembangkannya adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dikenal dengan “pertanyaan Sokratik.” Tema tulisan kali membahas ciri, fungsi, dan tujuan pertanyaan Sokratik – seperti telah dibangun dan dikembangkan oleh Sokrates – dalam proses berpikir dan belajar, yang akan disajikan dalam beberapa tulisan (serial).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Masih cukup banyak orang beranggapan jika proses berpikir dan belajar disebabkan, didorong, dan dipengaruhi oleh jawaban-jawaban yang akurat tanpa menyadari bahwa sesungguhnya berbagai pertanyaan yang mendahului jawaban-jawaban itulah yang jauh lebih penting. Artinya, proses berpikir dan belajar dibangun dengan berdasar pada pertanyaan-pertanyaan yang mengemuka. Lebih dari itu, berbagai pertanyaan yang muncul mendorong seseorang, juga ilmu pengetahuan, semakin berkembang. Andaikan tidak pernah ada pertanyaan-pertanyaan – misalnya, Biologi atau Fisika – maka kedua bidang tersebut tidak akan pernah ada dan berkembang. Namun kenyataannya adalah bahwa setiap bidang ilmu pengetahuan muncul karena disebabkan dan didorong oleh adanya sederet pertanyaan yang membutuhkan jawaban-jawaban yang akurat. Lebih jauh bahkan dapat dikatakan bahwa kelangsungan setiap bidang ilmu pengetahuan ditentukan oleh seberapa jauh pertanyaan-pertanyaan baru muncul dan ditanggapi secara serius dalam proses berpikir dan belajar manusia. Dengan demikian, manusia perlu terus bertanya dan mempertanyakan ulang banyak hal supaya proses berpikir dan belajar itu senantiasa berlangsung.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Apakah itu pertanyaan? Pertanyaan berarti menunjukkan adanya keingintahuan dan/atau masalah yang membutuhkan jawaban dan penjelasan. Apakah itu jawaban? Seringkali jawaban menunjukkan tanda berhenti. Namun jika sebuah jawaban mendorong pada pertanyaan selanjutnya berarti jawaban tersebut mampu merangsang terjadinya proses berpikir dan belajar lebih lanjut. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa seseorang yang (selalu) bertanya adalah orang yang (terus) berpikir dan belajar. Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa kualitas pertanyaan seseorang menunjukkan seberapa jauh ia berpikir dan belajar. Oleh karena itu, ketika sebuah jawaban berhenti pada jawaban itu sendiri alias tidak mendorong pertanyaan lebih lanjut, berarti pertanyaan yang mendahului jawaban tadi tidak tergolong ke dalam jenis pertanyaan Sokratik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Berpikir akan menjadi kegiatan yang sia-sia jika tidak membawa manusia kepada pertanyaan-pertanyaan baru dan pengetahuan yang luas sekaligus mendalam. Oleh karena itu, pertanyaan-pertanyaan baru harus terus dirangsang untuk muncul demi proses berpikir dan belajar yang berkesinambungan. Dengan demikian, ketika kegiatan berpikir membawa kita pada sesuatu yang lebih baru dan mendalam berarti kita belajar sesuatu yang bernilai.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Pertanyaan-pertanyaan mendalam mendorong pikiran kita menganalisis dan mempelajari berbagai secara lebih mendalam alias kita tidak puas hanya dengan melihat dan menganalisis sesuatu hal hanya dari penampakan luarnya. Pertanyaan-pertanyaan mendalam merangsang kita selalu terlibat dalam persoalan-persoalan yang sulit dipahami. Dengan mempertanyakan segala hal secara mendalam artinya kita terus berpikir dan belajar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Di bawah ini beberapa contoh bentuk pertanyaan yang bisa dilakukan dalam proses dan belajar berikut fungsinya:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Symbol&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 7pt; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt;Pertanyaan tujuan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt; = menjelaskan tujuan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Symbol&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 7pt; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt;Pertanyaan informasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt; = menjelaskan sumber-sumber informasi dan sejauh mana sumber-sumber tersebut bisa digunakan (kualitas sumber)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Symbol&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 7pt; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt;Pertanyaan penafsiran&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt; = menyusun dan menganalisis sumber-sumber yang diperoleh demi penilaian yang akurat&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Symbol&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 7pt; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt;Pertanyaan asumsi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt; = menganalisis hal-hal yang seringkali dianggap sepele&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Symbol&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 7pt; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt;Pertanyaan implikasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt; = mengikuti dan mengawasi arah berpikir &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Symbol&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 7pt; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt;Pertanyaan sudut pandang&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt; = menganalisis sudut pandang pribadi dan sudut pandang lain yang relevan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Symbol&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 7pt; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt;Pertanyaan relevansi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt; = memisahkan antara yang relevan dari yang tidak relevan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Symbol&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 7pt; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt;Pertanyaan ketepatan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt; = mengevaluasi dan menguji demi ketepatan dan kebenaran&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Symbol&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 7pt; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt;Pertanyaan kejelasan &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt;= menganalisis secara rinci setiap hal demi kejernihan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Symbol&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 7pt; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt;Pertanyaan konsistensi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt; = memeriksa dan mengawasi berbagai pertentangan dalam proses berpikir&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 35.7pt; text-align: justify; text-indent: -17.85pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Symbol&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 7pt; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt;Pertanyaan logika&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 150%;"&gt; = menyusun seluruh proses berpikir ke dalam satu kesatuan yang utuh agar menjadi sistem yang masuk akal dan dapat dipertanggungjawabkan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-1963533216283701313?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/1963533216283701313/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2011/08/pertanyaan-sokratik-bagian-pertama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/1963533216283701313'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/1963533216283701313'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2011/08/pertanyaan-sokratik-bagian-pertama.html' title='Pertanyaan Sokratik (Bagian Pertama)'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-1281098731245325965</id><published>2011-08-07T02:18:00.002+07:00</published><updated>2011-08-17T08:42:36.394+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini atau Fakta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berpikir Kritis'/><title type='text'>Opini atau Fakta?</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Banyak orang setelah membaca berita, mendengar pandangan (orang lain), atau menyaksikan peristiwa sampai pada kesimpulan opini atau fakta. Artinya, orang menilai apakah sebuah berita, pandangan, atau peristiwa, entah opini atau fakta. Sesungguhnya ada pilihan ketiga, yakni penilaian kritis. Inilah penilaian yang paling penting, namun sayangnya luput dari pengamatan banyak orang. Apakah yang dimaksud dengan penilaian kritis? Apakah cirinya? Mengapa ia dikatakan paling penting? Bagaimana seseorang bisa tiba sampai pada penilaian yang masuk akal? Apakah contohnya?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Seorang hakim pengadilan diharapkan mampu memiliki penilaian kritis dalam menilai dan mengambi keputusan. Artinya, penilaian yang dilakukan dan keputusan yang diambilnya harus didasarkan pada berbagai data dan bukti yang relevan, argumen yang jernih dan lurus, serta sahih seturut konteks hukum. Dengan demikian, seorang hakim sepatutnya tidak mendasarkan penilaian dan keputusannya pada keinginan-keinginan pribadi atau kelompok tertentu, melainkan pada penilaian kritisnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Bukankah fakta sudah cukup mencerminkan penilaian yang baik dan kuat? Bukankah juga semua yang ada tidak lain merupakan opini? Fakta, walaupun merupakan unsur sangat penting dan bermanfaat dalam mengambil keputusan, namun fakta pada dirinya sendiri tidak lebih dari sederetan/sekumpulan data atau informasi yang jika tidak diolah melalui pemikiran jernih dan tidak memperlihatkan relevansi bisa menyesatkan. Sementara itu, suatu posisi yang didasarkan pada pemikiran yang dibangun oleh argumen yang masuk akal, lurus, dan mengikuti kaidah-kaidah yang sesuai dengan konteks yang berlaku tidak dapat dinyatakan sebagai “opini”, melainkan penilaian kritis. Dengan demikian, opini adalah pernyataan atau pendapat seseorang atau kelompok tertentu yang jelas, bukanlah merupakan penilaian kritis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Untuk memperkuat pentingnya penilaian kritis sehingga orang tidak hanya berkutat dalam perdebatan antara opini atau fakta, berikut adalah tiga bentuk pertanyaan yang sekiranya memperjelas perbedaan antara opini, fakta, dan penilaian kritis:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Apakah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;      kepemimpinan itu penting? Bentuk pertanyaan seperti ini hanya membutuhkan satu      jawaban, ya &lt;i&gt;atau &lt;/i&gt;tidak. Pertanyaan      yang membutuhkan satu jawaban yang &lt;i&gt;benar&lt;/i&gt;      berarti tergolong ke dalam fakta. Apakah fakta itu relevan atau tidak      relevan adalah urusan lain, yang penting ia membutuhkan satu jawaban.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Manakah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;      yang lebih enak, sate bumbu kacang atau sate bumbu kecap? Jawaban terhadap      jawaban ini adalah pendapat karena berdasar pada selera setiap orang yang      beragam. Dengan demikian, jelas, jawaban terhadap bentuk pertanyaan      seperti ini termasuk ke dalam opini.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Bagaimanakah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;      cara terbaik mengatasi krisis bangsa? Jawaban terhadap pertanyaan ini      membutuhkan penilaian kritis agar setiap jawaban bisa diuji kekuatan dan      kebenarannya menggunakan kaidah-kaidah intelektual, seperti: kejernihan, kedalaman,      dan kelurusan argumen serta didukung oleh berbagai data dan fakta yang      relevan. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Setelah memperhatikan ketiga bentuk pertanyaan di atas, maka kita dapat sampai pada kesimpulan bahwa sudah selayaknya orang tidak terjebak pada “pertengkaran” antara dua kutub, opini atau fakta, yang tidak kunjung berakhir, melainkan diharapkan mampu melampui kedua hal itu dengan tiba pada penilaian kritis. Mengapa penilaian kritis? Karena ia mengatasi dengan melampaui dikotomisasi opini atau fakta. Penilaian kritis menjadi begitu penting karena dengannya manusia dituntun untuk berpikir mendalam, lurus, hati-hati, dan bisa mempertanggungjawabkannya. Bagaimana kita bisa sampai pada penilaian kritis? Senantiasa mengawasi dan menyadari kelemahan pikiran kita, seperti: mudah jatuh pada delusi, rasionalisasi, dan terburu-buru mengambil kesimpulan. Selalu awas terhadap opini dan tidak segera puas terhadap fakta merupakan pintu gerbang yang membawa kita pada penilaian kritis. Dengan demikian, pilihannya bukan lagi opini atau fakta, melainkan penilaian kritis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-1281098731245325965?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/1281098731245325965/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2011/08/opini-atau-fakta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/1281098731245325965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/1281098731245325965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2011/08/opini-atau-fakta.html' title='Opini atau Fakta?'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-6560507184656314989</id><published>2011-08-06T19:53:00.006+07:00</published><updated>2011-08-17T10:05:41.486+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berpikir Kritis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Abad 19 &amp; 20 (Bagian Keempat -Terakhir)</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Seri tulisan kali ini membahas perkembangan tradisi berpikir kritis di abad 19 dan 20 sekaligus bagian terakhir seri tulisan “Sejarah Singkat Pemikiran Kritis.”&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Di abad ke-19 pemikiran kritis meluas memasuki kehidupan sosial masyarakat yang dilahirkan melalui pemikiran &lt;b&gt;Comte&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;Spencer&lt;/b&gt;. Dalam bidang ekonomi dan sosial lahir pemikiran kritis &lt;b&gt;Marx&lt;/b&gt; yang menelisik masalah kapitalisme. Sementara itu, dalam bidang sejarah perkembangan budaya manusia yang berdasar pada kehidupan biologis lahir karya &lt;b&gt;Darwin&lt;/b&gt; yang berjudul &lt;i&gt;Descent of Man&lt;/i&gt;. Sedangkan dalam bidang kesadaran dicirikan melalui tokoh &lt;b&gt;Sigmund Freud&lt;/b&gt;. Abad ini ditandai dengan semakin berkembangnya kajian-kajian kritis dalam bidang antropologi-budaya serta linguistik yang menganalisis berbagai fungsi simbol dan bahasa dalam kehidupan manusia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Pada abad 20, pemahaman dan kesadaran akan pentingnya berpikir kritis semakin kuat dan muncul dalam bentuk-bentuknya yang semakin eksplisit. Tahun 1906 &lt;b&gt;William Graham Sumner &lt;/b&gt;meluncurkan tulisan yang mendobrak mengenai dasar-dasar sosiologi dan antropologi dalam &lt;i&gt;Folkway&lt;/i&gt;. Dalam karyanya tersebut Sumner menjelaskan kecenderungan pikiran manusia untuk berpikir secara sosiosentris dan kecenderungan sejajar dengan dunia pendidikan (sekolah-sekolah) demi melayani fungsi sosial yang tidak kritis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Sejalan dengan pemikiran Sumner, &lt;b&gt;John Dewey&lt;/b&gt; mengungkapkan bahwa manusia sepatutnya meningkatkan kesadaran berpikir dengan menggunakan pikirannya yang jernih dan terutama mendasarkannya pada tujuan, harapan, dan hal-hal yang sesuai dengan pikiran sehat. &lt;b&gt;Ludwig Wittgenstein&lt;/b&gt; juga menekankan pentingnya bagi manusia untuk meningkatkan kesadarannya, bukan hanya melalui konsep-konsep berpikir yang jernih, melainkan juga melalui analisis terhadap konsep-konsep tersebut dan menilai segala kekuatan dan kelemahannya. Sementara itu &lt;b&gt;Piaget&lt;/b&gt; menyadarkan kita bahwa kecenderungan-kecenderungan egosentrisme dan sosiosentrisme dalam pikiran manusia harus diredam dengan menerapkan dan mengembangkan gaya berpikir kritis sehingga manusia mampu memandang, menilai, dan menjelaskan sesuatu hal dari banyak sudut pandang. Ini menjadikan manusia, dalam istilah Piaget, menjadi “menyadari kesadarannya.”&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Setelah memperhatikan sejarah perkembangan tradisi pemikiran kritis dari akarnya hingga abad 20 kita semakin mengetahui dan menyadari bahwa setiap bidang kehidupan manusia lahir dari pemikiran kritis. Semangat berpikir kritis yang diusung dan dikembangkan para pemikir di masa lalu telah menyumbangkan banyak hal bermanfaat dalam kehidupan manusia. Melalui ilmu pengetahuan, manusia didorong untuk menyadari pentingnya mengumpulkan data dan informasi dengan hati-hati serta selalu disadari terhadap kemungkinan adanya ketidaktepatan, distorsi, dan penyalahgunaan data dan informasi tersebut. Sedangkan psikologi mengajak manusia untuk selalu rendah hati menyadari bahwa pikirannya dapat mengecoh atau mengelabui diri sendiri dan secara tidak sadar membangun berbagai ilusi dan delusi serta cenderung mudah terjebak pada stereotipe, terburu-buru mengambil kesimpulan, berpikir sempit, dan melakukan rasionalisasi. Dengan demikian, jelas, pemikiran dan ilmu pengetahuan manusia bisa berkembang karena manusia senantiasa mengembangkan gaya berpikir kritisnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-6560507184656314989?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/6560507184656314989/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2011/08/abad-19-20.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/6560507184656314989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/6560507184656314989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2011/08/abad-19-20.html' title='Abad 19 &amp; 20 (Bagian Keempat -Terakhir)'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-5204185360449675766</id><published>2011-08-06T07:47:00.002+07:00</published><updated>2011-08-17T10:06:11.827+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berpikir Kritis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Zaman Pencerahan (Bagian Ketiga)</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Jika tulisan sebelumnya membahas Abad Pertengahan dan Renaissance, maka tulisan kali ini mengangkat masa-masa setelahnya, yakni abad ke-17 sampai ke-18.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Dua pemikir besar Inggris (abad ke-16 dan 17), &lt;b&gt;Hobbes&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;Locke &lt;/b&gt;mengusung semangat berpikir kritis yang sejajar dengan Machiavelli. Keduanya menolak cara berpikir tradisional yang dimiliki sebagian besar orang pada masanya, juga tidak menerima hal-hal yang dianggap “normal” dalam budaya masa itu. Hobbes dan Locke mengedepankan gaya berpikir kritis untuk membuka wawasan dalam mempelajari segala hal. Hobbes memandang dunia dari sisi naturalistik, di mana setiap hal harus dijelaskan melalui bukti dan daya pikir. Sementara Locke menyatakan bahwa pengamatan dan pengalaman harus digunakan setiap hari dalam kegiatan berpikir. Ia telah meletakkan dasar teoretik kritis mengenai hak-hak manusia dan semua kewajiban pemerintah untuk bersedia dikritik oleh warga negaranya yang kritis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Semangat berpikir kritis dan kebebasan intelektual juga terdapat diri orang-orang seperti &lt;b&gt;Richard Boyle&lt;/b&gt; (abad 17) dan &lt;b&gt;Sir Isaac Newton &lt;/b&gt;(abad 17 dan 18). Dalam karyanya, &lt;i&gt;Sceptical Chymist&lt;/i&gt;, dengan tajam Boyle mengkritik teori kimia yang sudah ada. Demikian juga Newton yang mengembangkan secara menyeluruh bingkai berpikir yang mengkritik dunia pandang yang telah sekian lama diterima banyak orang. Ia melanjutkan pemikiran kritis pada pendahulunya, seperti &lt;b&gt;Copernicus&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;Galileo&lt;/b&gt;, dan &lt;b&gt;Kepler&lt;/b&gt;. Sejak masa Boyle dan Newton semakin banyak orang berpikir serius mengenai dunia naturalistik dan pandangan-pandangan yang berpusat pada diri sendiri harus ditinggalkan demi pandangan-pandangan yang seluruhnya didasarkan pada bukti-bukti yang ada serta diperoleh melalui kegiatan berpikir yang jernih dan lurus.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Pada masa Pencerahan di Prancis juga muncul nama-nama, seperti &lt;b&gt;Bayle&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;Montesquieu&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;Voltaire&lt;/b&gt;, dan &lt;b&gt;Diderot&lt;/b&gt;, yang mengembangkan gaya berpikir kritis di dalam karya-karya mereka. Para pemikir kritis tersebut mengawali gaya berpikir kritis mereka dengan menyatakan bahwa pikiran manusia, ketika diatur oleh akal sehat, akan lebih mampu menjelaskan dunia sosial dan politik. Lebih jauh, akal sehat harus ditujukan pada diri sendiri demi menemukan berbagai kelemahan dan kekuatan dalam berpikir. Mereka mengutamakan diskusi intelektual yang teratur sehingga semua pandangan melalui analisis yang mendalam dan kritik yang tajam. Para pemikir Prancis ini percaya bahwa semua otoritas harus (bisa) dipertanyakan, dianalisis, dan diuji dengan akal sehat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Pada abad ke-18 suasana berpikir kritis tidak mengendur, malah semakin meluas. Pada masa itu muncul &lt;i&gt;Wealth of Nations&lt;/i&gt; yang ditulis oleh &lt;b&gt;Adam Smith&lt;/b&gt;, yang di dalamnya membahas masalah ekonomi. Pada masa yang sama juga muncul &lt;i&gt;Declaration of Independence&lt;/i&gt; yang mempertanyakan konsep tradisional tentang kesetiaan terhadap raja. Selain itu, &lt;i&gt;Critique of Pure Reason &lt;/i&gt;dilahirkan dari filsuf besar Jerman, &lt;b&gt;Kant&lt;/b&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Semangat berpikir kritis pada masa setelah Renaissance telah merambah ke berbagai bidang lain seperti hak-hak asasi manusia dan politik. Ini menjadi salah satu bukti bahwa kegiatan berpikir kritis menuntun orang pada hal-hal lebih luas yang lahir dari pemikiran yang mendalam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-5204185360449675766?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/5204185360449675766/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2011/08/zaman-pencerahan-bagian-ketiga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/5204185360449675766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/5204185360449675766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2011/08/zaman-pencerahan-bagian-ketiga.html' title='Zaman Pencerahan (Bagian Ketiga)'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-8105706833815661021</id><published>2011-08-05T20:44:00.005+07:00</published><updated>2011-08-17T10:06:39.685+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berpikir Kritis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Abad Pertengahan &amp;  Renaissance (Bagian Kedua)</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Setelah bagian pertama dari seri tulisan “Sejarah Singkat Pemikiran Kritis” yang membahas akar pemikiran kritis yang dipelopori oleh &lt;b&gt;Sokrates&lt;/b&gt; yang kemudian dilanjutkan oleh para filsuf Yunani setelahnya, maka bagian kedua ini membahas para pemikir kritis yang hidup di Abad Pertengahan sampai masa Renaissance.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Pada Abad Pertengahan, tradisi pemikiran kritis terkandung dalam berbagai tulisan dan pengajaran para pemikir yang hidup di zaman itu, salah seorangnya adalah &lt;b&gt;Thomas Aquinas&lt;/b&gt;. Dalam karyanya, &lt;i&gt;Sumna Theologica&lt;/i&gt;, Aquinas menyatakan bahwa gaya berpikirnya sejalan dengan semangat kritisisme yang dicirikan oleh kerunutan penyampaian pendapatnya, penuh pertimbangan, dan selalu menjawab semua kritik yang ditujukan terhadap pandangan-pandangannya. Hal-hal ini dianggapnya sebagai tahap penting dalam membangun gaya berpikirnya. Aquinas menegaskan bahwa kesadaran manusia bukan hanya melibatkan kekuatan proses berpikir yang jernih dan runut, namun juga melibatkan perlunya berpikir jernih dan runut tersebut disajikan dengan bijak dan bertanggung jawab serta mampu diuji. Pemikiran Aquinas tidak selalu berarti bahwa seseorang yang berpikir kritis selalu menolak keyakinan-keyakinan yang telah ada, melainkan menolak keyakinan-keyakinan yang tidak dilandaskan pada dasar-dasar yang kuat.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Pada masa Renassaince (abad ke-15 dan 16), banyak para pemikir Eropa mulai berpikir secara kritis mengenai seni, masyarakat, hakikat manusia, hukum, kebebasan, dan agama. Ini didasarkan pada pemikiran bahwa sebagian besar kehidupan manusia perlu dikaji kembali dan dikritisi. Di antara para pemikir tersebut adalah &lt;b&gt;Colet&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;Erasmus&lt;/b&gt;, dan &lt;b&gt;Moore&lt;/b&gt;.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Salah seorang pemikir asal Inggris, &lt;b&gt;Francis Bacon&lt;/b&gt;, secara gamblang mengungkapkan keprihatinannya terhadap bagaimana manusia keliru menggunakan pikirannya dalam mencari pengetahuan. Ia menyatakan bahwa pikiran (manusia) tidak bisa ditumpukan pada kecenderungan-kecenderungan yang seringkali mengecoh dan menyesatkan. Dalam bukunya, &lt;i&gt;The Advancement of Learning&lt;/i&gt;, ia menekankan pentingnya mempelajari dunia secara empiris. Bacon meletakkan dasar bagi ilmu pengetahuan modern dengan menekankan pada proses-proses mengumpulkan informasi. Ia juga memberikan perhatian pada kenyataan bahwa sebagian besar orang, jika hidup hanya berdasar pada kecenderungan-kecenderungan tadi sangat mudah terjatuh pada kebiasaan-kebiasaan berpikir yang salah dan menyesatkan. Kebiasaan-kebiasaan ini disebutnya “berhala-berhala.”&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;“Berhala-berhala” itu adalah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 7pt; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;“Berhala suku” = bagaimana pikiran manusia cenderung mudah mengelabui dirinya sendiri&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 7pt; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;“Berhala pasar” = bagaimana manusia keliru menggunakan kata-kata&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 7pt; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; line-height: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;“Berhala (gedung) teater” = kecenderungan manusia untuk terjebak dalam sistem-sistem pemikiran&amp;nbsp; yang kuno&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 7pt; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: 400; line-height: normal;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;“Berhala aliran pemikiran” = masalah-masalah dalam berpikir ketika didasarkan pada aturan-aturan yang kaku dan membuat bodoh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Buku Bacon tersebut bisa diperhitungkan sebagai salah satu karya mula-mula dalam pemikiran kritis karena tujuan yang terkandung di dalamnya menampilkan tradisi pemikiran kritis yang sudah dimulai oleh Sokrates.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Sekitar 50 tahun setelah munculnya karya Francis Bacon, Di Prancis, &lt;b&gt;René Descartes &lt;/b&gt;melahirkan sebuah buku – &lt;i&gt;Rules For the Direction of the Mind&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;– yang bisa dianggap sebagai tulisan kedua dalam pemikiran kritis. Dalam buku tersebut Descartes menegaskan perlunya sebuah cara sistematis khusus untuk melatih pikiran demi menghasilkan pemikiran yang jernih dan tepat karena itulah tujuan berpikir kritis. Ia mengemukakan sebuah metode berpikir kritis yang dilandaskan pada &lt;i&gt;prinsip meragukan sistematis&lt;/i&gt;. Ia menegaskan pentingnya untuk mendasarkan cara berpikir yang baik pada asumsi-asumsi yang mendasar. Setiap bagian dalam berpikir harus dipertanyakan, diragukan, dan diuji.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Pada masa yang sama, &lt;b&gt;Sir Thomas Moore&lt;/b&gt; (asal Inggris) mengajukan sebuah model baru dari tatanan sosial dalam karyanya &lt;i&gt;Utopia&lt;/i&gt;. Di dalamnya ia menyatakan bahwa setiap bagian dari dunia masa kini harus (bisa) dikritisi. Secara tersirat ia mengungkapkan bahwa sistem-sistem sosial perlu dianalisis dan dikritisi secara mendasar.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Sementara itu di masa Renaissance di Italia ditandai oleh karya &lt;b&gt;Machiavelli&lt;/b&gt;, &lt;i&gt;The Prince&lt;/i&gt;, yang mengkritisi politik pada masanya dan meletakkan dasar bagi pemikiran politik modern yang kritis. Machiavelli menolak jika pemerintah berfungsi sebagaimana dikatakan oleh pihak yang memiliki kekuatan dan berkuasa. Oleh karena itu, ia dengan kritis ia mengkaji bagaimana pemerintah berfungsi dan meletakkan dasar bagi pemikiran politik yang memperhatikan semua hal, baik berbagai tujuan para politikus, pertentangan dan ketidaksesuaian dari para politikus yang licik dan jahat pada saat itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt; line-height: 115%;"&gt;Perkembangan tradisi berpikir kritis pada masa Renaissance telah membuka jalan bagi lahirnya ilmu pengetahuan, perkembangan demokrasi, hak-hak manusia, dan kebebasan berpikir. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-8105706833815661021?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/8105706833815661021/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2011/08/abad-pertengahan-renaissance-bagian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/8105706833815661021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/8105706833815661021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2011/08/abad-pertengahan-renaissance-bagian.html' title='Abad Pertengahan &amp;  Renaissance (Bagian Kedua)'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-2615780224478022957</id><published>2011-08-04T19:57:00.010+07:00</published><updated>2011-08-17T08:43:56.166+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sokrates'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berpikir Kritis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Sejarah Singkat Pemikiran Kritis (Bagian Pertama)</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Berikut adalah sejarah singkat perkembangan pemikiran kritis yang disajikan dalam beberapa seri tulisan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Akar pemikiran kritis bisa ditelusuri jauh sampai pada visi dan praktik yang terdapat dalam diri seorang filsuf Yunani, &lt;b&gt;Sokrates&lt;/b&gt;, 2500 tahun lalu dengan cara mengajukan pertanyaan supaya orang mampu memberikan argumen masuk akal dan meyakinkan demi mendukung pendapat yang dikemukakannya. Argumen tersebut harus didasarkan pada pengetahuan yang jernih, relevan, bisa dibuktikan kesahihannya, dan mampu dipertanggungjawabkan. Pemahaman-pemahaman yang tidak jelas/kabur, bukti yang lemah dan tidak relevan, serta keyakinan-keyakinan yang saling bertentangan pada dirinya sendiri seringkali dianggap hal sepele sehingga luput dari pengamatan banyak orang, sekalipun seseorang yang berpendidikan tinggi. Ketiga hal tersebut mengakibatkan seseorang tidak bisa dikategorikan sebagai orang yang berpikir kritis. Sokrates menegaskan bahwa seseorang tidak boleh mendasarkan argumennya pada, contohnya, ketiga hal tadi. Artinya, ketiga hal tersebut tidak bisa dijadikan “otoritas”, di mana pengetahuan dan pemikiran yang layak berasal. Oleh karena itulah Sokrates menekankan perlu dan pentingnya mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar dan relevan sebagai dasar pemikiran sebelum seseorang tiba pada kesimpulan atau sebelum seseorang menerima pemikiran-pemikiran (termasuk kepercayaan) orang lain.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Demi menegaskan pandangannya mengenai berpikir kritis Sokrates menekankan pentingnya bagi seseorang untuk selalu mencari bukti-bukti, mengkaji berbagai ide atau &amp;nbsp;pemikiran dan asumsi yang melatarbelakangi pandangan orang lain, menganalisis konsep-konsep dasar, serta menelusuri berbagai dampak yang bisa terjadi, baik yang berasal dari ucapan maupun perbuatan. Metode pertanyaan yang diajukan Sokrates itu dikenal dengan “Pertanyaan Sokratik.” Dalam pertanyaan (-pertanyaan) tersebut Sokrates menekankan perlunya bagi manusia untuk berpikir secara jernih dan lurus demi pemahaman yang jelas, relevan, dan masuk akal.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Sokrates meletakkan dasar-dasar dalam tradisi pemikiran kritis, seperti: mempertanyakan secara mendalam berbagai penjelasan dan keyakinan yang umum, hati-hati membedakan antara berbagai keyakinan yang masuk akal dan lurus/runut secara argumentatif dengan keyakinan-keyakinan – walaupun sepertinya menarik – yang tidak lebih dari mengedepankan agenda-agenda tertentu (seperti: popularitas atau uang) dan terlebih tidak didukung oleh bukti-bukti relevan dan jelas serta tidak berdasar pada argumen yang lurus dan masuk akal.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Visi dan semangat Sokrates dalam berpikir kritis dilanjutkan oleh &lt;b&gt;Plato&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;Aristoteles&lt;/b&gt;, dan kaum &lt;b&gt;Skeptik &lt;/b&gt;Yunani, yang semuanya menekankan bahwa begitu banyak hal seringkali terlihat berbeda dari penampakannya. Oleh karena itu, hanya orang-orang yang selalu mau melatih dan menggunakan daya pikir kritisnya yang mampu melihat dan memahami banyak hal dengan jernih dan mendalam. Orang-orang seperti itu tidak mudah dikecoh atau dikelabui hanya dengan melihat hal-hal yang nampak dari luar seperti dialami sebagian besar orang, melainkan mampu melihat hal-hal yang berada di “bawah” penampakan tersebut atau mampu melampaui hal-hal yang nampak dari luar itu. Artinya, orang-orang yang berpikir kritis tidak mau hanya berhenti pada “penampakan luar” melainkan terus bergerak ke dalam bahkan melampaui “penampakan luar” tersebut demi pemahaman yang jernih dan masuk akal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Para pemikir dari tradisi Yunani klasik di atas telah mendorong dan menginspirasi generasi setelahnya untuk menyadari bahwa manusia perlu memahami berbagai kenyataan di sekitarnya secara mendalam, berpikir secara sistematis/runut/lurus, menelusuri berbagai dampak yang bisa terjadi secara luas dan mendalam, berpikir secara menyeluruh, berpikir hati-hati, dan terbuka terhadap perbedaan pendapat. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-2615780224478022957?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/2615780224478022957/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2011/08/sejarah-singkat-pemikiran-kritis-bagian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/2615780224478022957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/2615780224478022957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2011/08/sejarah-singkat-pemikiran-kritis-bagian.html' title='Sejarah Singkat Pemikiran Kritis (Bagian Pertama)'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-226564371496978458</id><published>2010-11-29T11:14:00.012+07:00</published><updated>2011-08-19T12:02:58.822+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Paranormal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hantu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Foto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skeptisisme'/><title type='text'>Hantu Perempuan Tertangkap Kamera?</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;&lt;a href="http://regional.kompas.com/read/2010/11/29/01444054/Terekam..Hantu.Cewek.Suka.Tindih.Cowok."&gt;&lt;span style="color: magenta;"&gt;Warga Kelurahan Mimbaan, Situbondo, Jawa Timur, dihebohkan oleh keberadaan sosok berwarna putih yang diyakini sebagai hantu dan berhasil ditangkap kamera.&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Hantu tersebut diduga belakangan ini telah mengganggu satu keluarga, khususnya salah seorang anggota keluarga (pemuda) yang mengklaim beberapa kali ditindih oleh hantu tersebut. Beberapa orang bahkan yakin bahwa hantu yang berhasil ditangkap dan dimasukkan ke dalam botol itu berjenis kelamin perempuan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Berikut adalah beberapa kejanggalan yang muncul setelah memperhatikan berita dan gambar yang diyakini beberapa orang sebagai sosok hantu itu:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;1. Diklaim bahwa hantu tersebut berjenis kelamin perempuan. Apakah dasarnya? Ketika memperhatikan gambar yang ditampilkan, tidak terlihat ciri-ciri jika hantu tersebut berjenis kelamin perempuan (misalnya: berambut panjang), kecuali hantu tersebut berambut pendek. Oleh karena itu, jika mendasarkan pada foto/gambar, seperti yang ditampilkan dalam berita, maka klaim bahwa hantu tersebut berjenis kelamin perempuan sangatlah lemah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;2. Klaim bahwa ada hantu perempuan yang selama ini mengganggu hanya dikatakan oleh seorang anggota keluarga. Kemungkinan besar ia mengatakan hantu yang mengganggu bahkan menindihnya berjenis kelamin perempuan karena yang mengatakan hal tersebut adalah seorang laki-laki. Sangat mungkin pernyataan ini didasarkan pada argumen: oleh karena yang ditindih adalah laki-laki, maka sudah pasti hantu yang menindih berkelamin perempuan, karena tidak mungkin hantu laki-laki (mau) menindih laki-laki. Pernyataannya anggota keluarga yang mengaku diganggu dan ditindih hantu laki-laki tersebut tidak didukung oleh keterangan lainnya, misalnya dengan menyebutkan ciri-ciri fisik perempuan secara rinci (rambut, buah dada, dan/atau suara). Dengan demikian, klaim bahwa ada hantu perempuan yang telah mengganggu sangat lemah karena tidak ditopang oleh penjelasan yang lebih rinci dan jelas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11.5pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;3. Inti dan yang paling menghebohkan adalah hantu tersebut dapat ditangkap dan dimasukkan ke dalam sebuah botol bening kemudian diabadikan dengan kamera. Jika memang ada yang dinamakan/disebut hantu kemudian bisa dimasukkan ke dalam botol, berarti definisi yang selama ini menjelaskan hantu sebagai "makhluk halus" yang tidak bisa disentuh dan menyentuh harus dirubah dan diganti karena ternyata hantu adalah makhluk yang bisa disentuh/dirasa dan menyentuh. (Hal yang sama berlaku pada poin dua.)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;4. Hal berikut yang mirip dengan hal di atas adalah, jika hantu adalah "makhluk halus" yang bisa ditangkap dengan kamera dan mata, berarti definisi hantu sebagai "makhluk halus" yang tidak bisa dilihat kasat mata haruslah dirubah karena sekarang hantu bisa dilihat secara kasat mata bahkan tertangkap oleh kamera.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Demi membuktikan dan menguji bahwa yang di dalam botol itu sungguh-sungguh hantu berarti&amp;nbsp; orang diperkenankan menyentuhnya, jadi tidak hanya mendasarkan kepercayaannya pada penglihatan apalagi pendengaran (mendengar cerita orang-orang). Jika yang di dalam botol itu sosok hantu biarlah beberapa orang - sebelumnya sama sekali tidak diberitahu jika sosok di dalam botol itu hantu - mencoba menyentuh, menggenggam, bahkan mengeluarkannya dari botol untuk dilihat dari luar botol. Inilah yang dinamakan dengan &lt;i&gt;double-blind investigation&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Tujuan utama dilakukannya langkah pembuktian seperti ini untuk menguji seberapa kuat dan sahih pernyataan orang dan fenomen yang ada. Jika dari lebih dari dua orang mengatakan bahwa ada sesuatu (benda fisik/materil) di dalam botol itu yang bisa disentuh, bahkan digenggam dan dibawa ke luar dari botol untuk dilihat oleh lebih banyak orang berarti pernyataan orang bahwa sosok di dalam botol itu adalah hantu bisa diperhitungkan sebagai kebenaran.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;5. Sejauh yang bisa dilihat karena berita hanya menampilkan satu gambar mengenai adanya sesuatu di dalam botol, seharusnya foto mengenai sosok di dalam botol tersebut diambil dari sebanyak mungkin sudut/arah. Hal inilah yang dilakukan ketika para peneliti mengkaji suatu fenomen/peristiwa. (Hal yang serupa dilakukan polisi atau kriminolog dengan mengambil sebanyak mungkin gambar satu objek dari berbagai sudut/arah.) Ini dilakukan untuk memperoleh kejernihan dan objektivitas sebuah objek. Jika objek yang sama direkam oleh kamera foto dari berbagai sudut/arah dan menghasilkan gambar yang serupa serta menghasilkan gambar/foto yang sama, hanya sudutnya saja yang berbeda, barulah objek tersebut bisa dianggap sebagai sesuatu yang nyata.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Namun, jika pada sudut/arah lain objek tersebut tidak "berubah bentuk" dengan tingkat perubahan yang sangat besar, atau bahkan tidak nampak sama sekali, berarti jelas, objek yang hanya bisa direkam dari satu sudut/arah haruslah diperhitungkan sebagai hasil dari pantulan cahaya dari objek lain ataupun adanya partikel yang sangat kecil/halus yang menempel pada lensa kamera sehingga menghadirkan foto/gambar berwarna putih karena sangat mungkin jika partikel debu yang sangat halus atau setitik air menempel pada lensa sehingga menghasilkan gambar seperti di berita di atas.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-size: 11.5pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Dengan demikian, klaim adanya hantu berjenis kelamin perempuan yang berhasil ditangkap dan dimasukkan ke dalam botol bening kemudian diabadikan oleh kamera foto sangatlah lemah karena tidak didukung oleh penjelasan yang rinci dan bukti-bukti fisik relevan yang bisa dipertanggungjawabkan penjelasannya. Selama hal-hal tersebut tidak bisa disajikan, maka klaim tersebut haruslah dianggap sebagai sesuatu yang tidak terbukti kebenarannya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11.5pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-226564371496978458?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/226564371496978458/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/11/hantu-tertangkap-kamera.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/226564371496978458'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/226564371496978458'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/11/hantu-tertangkap-kamera.html' title='Hantu Perempuan Tertangkap Kamera?'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-988849534499203832</id><published>2010-11-25T08:55:00.010+07:00</published><updated>2011-08-17T13:37:52.732+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritisisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Delusinasi'/><title type='text'>Agama &gt; Delusi &gt; Pembunuhan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Fakta sangat mengerikan kembali terjadi di mana agama kerapkali membuat orang-orang yang memeluknya mengalami delusi. Tidak berhenti di situ, agama pun tidak jarang membuat para pemeluknya tega melakukan tindakan yang sangat kejam, misalnya: membunuh. Contoh terkini seorang penganut agama yang tega berlaku keji, bahkan terhadap ibunya sendiri, ditemukan dalam diri seorang aktor Aktor Hollywood berkebangsaan Amerika Serikat. &lt;a href="http://id.omg.yahoo.com/news/penggal-ibu-sendiri-aktor-39ugly-betty39-ditahan-khjx-0000348951.html" style="color: magenta;"&gt;Aktor itu memenggal ibunya sendiri dengan sebilah samurai seraya di tangan lainnya memegang Alkitab.&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Meski kepada laki-laki tersebut segera akan dilakukan pemeriksaan psikologi untuk menentukan apakah ia mengalami penyakit atau gangguan tertentu yang membuatnya dengan keji telah memenggal ibunya sendiri, besar kemungkinan tindakan keji yang dilakukannya dipicu oleh pemahaman agamanya yang sangat mengerikan. Pemahaman agama yang sarat dengan kekerasan dan darah itulah yang membuat laki-laki itu mengalami delusi sehingga kemudian membunuh ibunya sendiri.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Ini merupakan hal yang sangat mungkin terjadi karena banyak ayat dan kisah dalam Alkitab yang memang mengumbar dan menggambarkan kekerasan yang penuh darah, khususnya dalam bagian Perjanjian Lama. Jadi, sama sekali tidak mengherankan jika kisah-kisah tersebut bisa sampai membakar semangat umat Kristen untuk bertindak keras, karena "kitab suci"-nya sendiri pun memuat bahkan membenarkan kekerasan itu. Sesuatu yang sangat mengerikan!&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Mungkin ada pendapat yang menentang pandangan di atas dengan mengatakan: "Jangan salahkan agama dan/atau kitab sucinya melainkan orangnya, karena itu semua bergantung pada pemahaman masing-masing orang." Pendapat ini sangat lemah karena malah semakin memperlemah kedudukan agama dan "kitab suci" (dhi. Alkitab) agama tersebut, bukankah agama serta "kitab suci"-nya dibuat oleh manusia? Jika yang dipersalahkan adalah orangnya, berarti orang-orang yang membentuk agama dan membuat/menyusun "kitab suci"-lah yang memiliki kesalahan terberat karena mereka telah mengakibatkan begitu banyak orang di zaman-zaman setelah mereka bertindak keji. Artinya, para pembentuk agama dan pembuat/penyusun "kitab suci" itulah yang telah memicu peristiwa berdarah atas nama agama terjadi selama ribuan tahun, bahkan hingga saat ini.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Jika dikatakan: "bergantung pada pemahaman masing-masing orang beragama", ini pun sangatlah lemah karena pertanyaan menjadi: apakah tolok ukurnya? agama? "kitab suci"? Jika begitu banyak orang beragama mengatakan bahwa agama yang benar mengajarkan kasih dan perdamaian, dan ketika ada orang beragama bertindak kejam atas nama agamanya dianggap memiliki pemahaman yang salah atau minim terhadap agamanya (menyalahkan orang tersebut), maka argumen ini (seharusnya) membawa orang yang mengatakannya pada pertanyaan dan masalah yang sudah muncul di paragraf sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Bagaimana dengan kenyataan bahwa lebih banyak orang beragama (dhi. Kristen) berlaku penuh kasih? Ada dua kemungkinan: &lt;i&gt;pertama&lt;/i&gt;, mereka tidak mengetahui bahwa latar belakang agama yang dipeluknya penuh dengan kekerasan dan banyak kisah dalam Perjanjian Lama yang bernuansa pertumpahan darah, atau, &lt;i&gt;kedua&lt;/i&gt;, mereka mengetahui kedua hal tersebut, namun mengacuhkannya dan menganggapnya tidak ada. Sikap yang pertama menunjukkan minimnya pengetahuan orang tersebut mengenai agama dan "kitab suci"-nya sendiri dan keengganan untuk belajar, sedangkan sikap yang kedua berarti orang tersebut bohong dan munafik. Bukankah hal-hal ini dilarang oleh agama Kristen?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Kembali pada berita di atas, jelas, agama membuat para penganutnya mengalami delusinasi, dan dapat mendorong orang-orang beragama untuk bertindak keras terhadap sesamanya serta memiliki kecenderungan membahayakan keberadaan sekitarnya. Jika tindakan keji seperti yang dilakukan laki-laki dalam berita tersebut - memenggal ibunya sendiri - bisa dilakukan, maka juga ada kemungkinan (bahkan lebih besar kemungkinannya) jika orang-orang beragama akan bertindak keras terhadap orang-orang yang berbeda paham dengan diri atau kelompoknya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Dengan demikian, tidaklah tepat jika dikatakan agama (dhi. Kristen) adalah agama yang mengedepankan dan menguatamakan ajaran kasih, atau mengatakan Kristen adalah agama kasih, karena pernyataan ini tidak didukung oleh kenyataan yang terjadi. Kenyataannya malah terbalik 180%, di mana bukan kasih yang muncul melainkan kekejaman. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-988849534499203832?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/988849534499203832/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/11/agama-delusi-pembunuhan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/988849534499203832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/988849534499203832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/11/agama-delusi-pembunuhan.html' title='Agama &gt; Delusi &gt; Pembunuhan'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-6935992923889127222</id><published>2010-11-24T23:02:00.003+07:00</published><updated>2011-08-18T09:47:09.563+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skeptisisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Delusinasi'/><title type='text'>Alasan "Gaib"</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;a href="http://regional.kompas.com/read/2010/11/24/16291525/Pemerkosa.Anak.anak.Itu.Dihukum.20.Tahun" style="color: magenta;"&gt;Seorang pemuda memerkosa banyak gadis cilik dengan alasan untuk memenuhi permintaan makhluk gaib yang telah menyelamatkannya dari kecelakaan maut&lt;/a&gt;&lt;span style="color: magenta;"&gt;.&lt;/span&gt; Mungkin orang banyak orang segera bereaksi terhadap pengakuan pemuda tersebut dengan mengatakan: "Ah, alasan &lt;i&gt;ajah&lt;/i&gt;, bilang &lt;i&gt;ajah kalo emang mo &lt;/i&gt;perkosa anak-anak!" atau "Dasar orang gila, bilang &lt;i&gt;ajah pengen&lt;/i&gt; &lt;i&gt;merkosa &lt;/i&gt;anak-anak kecil, &lt;i&gt;ga usah&lt;/i&gt; bawa-bawa makhluk gaib segala!"&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Dua reaksi di atas bisa dianggap emosional akibat geram dan benci terhadap tindakan pemuda tersebut. Di satu sisi, reaksi yang demikian&amp;nbsp; bisa diterima, terlebih jika diungkapkan orangtua-orangtua yang memiliki anak-anak gadis yang masih kecil, karena mungkin saja mereka terbayang seandainya hal tersebut dialami oleh anak-anak gadis mereka yang masih kecil. Artinya, reaksi tersebut sangatlah lumrah jika dilontarkan oleh orangtua. Namun di sisi lain, reaksi tersebut bisa diperhitungkan sebagai hambatan untuk membaca pernyataan pemuda itu secara lebih jernih, dengan meminimalkan penggunaan emosi yang tidak sehat. Dikatakan tidak sehat karena sangat mungkin reaksi tersebut lahir akibat penggunaan emosi yang tidak pada tempatnya sehingga serta-merta mengatai pemuda tersebut sebagai orang gila.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Bisa saja apa yang diakui oleh pemuda tersebut benar. Artinya, ia mendengar bahwa ada suara yang mendorongnya untuk memerkosa anak-anak gadis yang masih kecil. Bagaimana hal tersebut bisa diketahui? Tentu, dengan melakukan pemeriksaan/penelitian psikologi yang melibatkan unsur-unsur pikiran serta mental pemuda tersebut. Jika pemeriksaan psikologi yang ketat telah dilakukan dan hasilnya mengatakan bahwa pemuda tersebut memang memperoleh suara-suara tertentu yang mendorongnya melakukan pemerkosaan, maka pengakuannya tersebut bisa diperhitungkan sebagai kebenaran. Tentu, pemeriksaan ini harus dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur dan perangkat (orang dan alat) yang baik sehingga hasil pemeriksaan tersebut bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Jika demikian, pemuda tersebut diperhitungkan mengidap &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Delusion" style="color: magenta;"&gt;delusi&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Jika pemuda tersebut terbukti benar mengalami delusi, apakah ia akan lolos dari hukuman? Dalam pengertian tertentu ya. Artinya, penjara bukanlah tempat yang cocok untuk seseorang yang mengidap delusi melainkan rumah sakit jiwa-lah tempat yang lebih cocok. Penjara hanya cocok untuk orang-orang yang tidak mengidap penyakit, sedangkan delusi digolongkan ke dalam salah satu penyakit yang mempengaruhi, baik mental maupun fisik penderitanya. Oleh karena itu, tidak tepat jika orang yang mengidap delusi dipenjarakan, tepatnya orang tersebut dirumahsakitkan. Jika setelah mengalami "penahanan" di rumah sakit keadaan orang bersangkutan (pemuda yang mengaku mendapat bisikan dari makhluk gaib) membaik dan bisa diperhitungkan tidak mengidap delusinasi lagi, maka ia bisa diajukan ke pengadilan untuk dituntut dan dikenai sanksi-sanksi akibat perbuatannya, untuk kemudian dipenjarakan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Mungkin ada pendapat mengatakan: "Mengapa tidak dipenjarakan saja, nanti &lt;i&gt;kalo&lt;/i&gt; &lt;i&gt;cuma&lt;/i&gt; dimasukin ke rumah sakit kabur&lt;i&gt; deh...&lt;/i&gt;?!" atau "Wah, enak banget cuma dimasukin ke rumah sakit jiwa, bukan ke penjara!" Masalah kabur atau tidaknya si pengidap delusi merupakan tanggung jawab pihak rumah sakit dan bukan juga mengenai mana yang lebih enak. Fokus tulisan ini menanggapi berita di atas adalah mengenai penanganan yang tepat terhadap warga negara. Jika bangsa ini mengaku sebagai bangsa yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dengan memperjuangkan hak asasi kemanusiaan, maka penanganan yang tepat terhadap setiap warganya adalah salah satu bukti nyata yang bisa dipertanggungjawabkan. Tanggung jawab aparat hukum-lah untuk menerapkan ketepatan penanganan terhadap setiap warga negara. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-6935992923889127222?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/6935992923889127222/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/11/alasan-gaib.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/6935992923889127222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/6935992923889127222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/11/alasan-gaib.html' title='Alasan &quot;Gaib&quot;'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-624578194364253213</id><published>2010-11-12T10:31:00.003+07:00</published><updated>2011-08-17T10:07:09.826+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UFO'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skeptisisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berpikir Kritis'/><title type='text'>Ekstrinsik + Intrinsik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;a href="http://teknologi.vivanews.com/news/read/188316-7-hal-pemicu--hoax--penampakan-ufo-di-langit" style="color: magenta;"&gt;Berita dalam Viva News mengatakan setidaknya ada tujuh hal yang menjadi pemicu orang percaya pada adanya UFO dan alien&lt;/a&gt;&lt;span style="color: magenta;"&gt;.&lt;/span&gt; Sementara ketujuh hal tersebut berasal dari luar diri orang yang percaya pada UFO, maka dalam tulisan ini ditambahkan satu penyebab orang percaya pada UFO, dan penyebab ini lebih berasal dari dalam diri orang tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Banyak orang mempercayai keberadaan UFO karena mereka mudah menerima pernyataan atau kesaksian orang lain mengenai adanya UFO. Mereka percaya UFO ada karena pernyataan tersebut berasal dari orang-orang tertentu, misalnya: ahli antariksa dan/atau pemerintah. Hal tersebut membuat banyak orang dengan tanpa keraguan mempercayai suatu hal. Hal tersebut diperkuat dengan tayangan film atau dokumenter yang berkisah mengenai adanya UFO dan alien yang membuat keyakinan banyak orang mengenai adanya UFO semakin dipertebal.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Banyak orang menganggap jika tayangan yang bergenre "dokumenter" sudah berarti benar, tidak mungkin salah apalagi suatu kebohongan. Ini adalah pandangan yang keliru sekaligus bisa menyesatkan orang lain. Namun demikian, tidak berarti bahwa tayangan dokumenter harus serta-merta ditolak dan sama sekali tidak (bisa) dipercaya. Sikap yang kedua ini pun tidak bijak. Dengan demikian, sikap bijak menanggapi fenomena UFO adalah tidak segera/mempercayainya sekaligus tidak serta-merta menolaknya. Oleh karena itu, yang dibutuhkan adalah berbagai bukti relevan dengan didukung argumen yang kuat. Jika hal ini bisa dicapai, maka orang tidak menjadi "penolak" ataupun "penerima" setiap hal, termasuk UFO.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Setelah melihat ketujuh hal ekstrinsik yang tidak mendukung keberadaan UFO ditambah satu&amp;nbsp; hal intrinsik yang juga meragukan keberadaan UFO, maka dengan demikian keberadaan UFO bisa ditolak atau tidak dipercaya karena berbagai bukti yang ada bukannya memperkuat keberadaan UFO melainkan memperlemahnya. Jadi, dengan berdasar pada delapan poin itu dapat disimpulkan bahwa UFO bukanlah sesuatu yang nyata melainkan bentukan hal-hal lain, baik yang material (tujuh hal ekstrinsik) maupun imaterial (satu hal intrinsik = kepercayaan pada kesaksian/pengakuan orang lain). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-624578194364253213?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/624578194364253213/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/11/ufo-satu-lagi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/624578194364253213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/624578194364253213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/11/ufo-satu-lagi.html' title='Ekstrinsik + Intrinsik'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-169161110607329415</id><published>2010-11-12T08:20:00.003+07:00</published><updated>2011-08-17T08:50:32.996+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesurupan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Paranormal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skeptisisme'/><title type='text'>Kejahatan X Kebaikan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;;"&gt;Begitu banyak orang beranggapan dan percaya jika kesurupan terjadi akibat unsur yang berasal dari luar tubuh seseorang (seperti: hantu/makhluk halus) kemudian hantu tersebut merasuki tubuh orang itu. Dengan demikian, begitu banyak orang mengatakan bahwa kesurupan diakibatkan oleh gangguan yang dialami manusia berasal dari luar unsur tubuhnya. Apakah benar demikian? Pandangan ini salah dan cenderung menyederhanakan persoalan dengan meniadakan unsur yang berasal dari dalam tubuh manusia.&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;;"&gt;&lt;a href="http://regional.kompas.com/read/2010/10/28/13004768/.quot.Penghuni.quot..SMA.Marah..10.Siswi.Kesurupan"&gt;&lt;span style="color: magenta; text-decoration: none;"&gt;Contoh kesurupan yang dipercayai hanya akibat yang berasal dari luar tubuh manusia adalah terjadi baru-baru ini di Bangkalan, Madura, di mana sekitar 10 siswa mengalami kesurupan.&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Peristiwa kesurupan terjadi ketika para siswa tersebut sedang mengikuti salah satu kegiatan yang diadakan sekolah. Namun, pihak sekolah segera menyatakan bahwa anak-anak yang kesurupan itu bukan akibat kegiatan sekolah yang diadakan sekolah melainkan hal lainnya, seperti:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;;"&gt;1. Sekolah akan mengadakan kegiatan agama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;;"&gt;2. Sekolah menebang beberapa pohon besar di lingkungan sekolah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;;"&gt;Pihak sekolah menganggap jika kedua hal ini menjadi penyebab kesurupan yang dialami anak-anak akibat "penunggu" sekolah tidak suka/marah sehingga "penunggu" itu merasuki beberapa siswa. Dengan demikian, pihak sekolah menolak jika acara yang diadakan sekolah sebagai penyebab beberapa anak mengalami kesurupan dan lebih "menyalahkan" sesuatu yang bernuansa supernatural. Ini artinya, sekolah lebih percaya pada sesuatu yang tidak kasat mata ketimbang yang kasat mata dan memiliki materi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;;"&gt;Mengapa hal demikian bisa terjadi? Hal seperti itu bisa terjadi karena&amp;nbsp; hal-hal yang bernuansa supernatural lebih misterius dan seru dibandingkan hal-hal yang terlihat kasat mata. Hal-hal yang tidak kasat mata bisa membuat merinding ketimbang hal-hal materil yang tidak bisa membuat bulu kuduk berdiri. Hal ini sejajar dengan agama dan kepercayaan kepada Tuhan, di mana bisa membuat manusia takjub, merinding, bahagia, bahkan menangis. Artinya, manusia menggemari hal-hal yang membuat emosinya "naik-turun" karena sesuatu yang misterius dan tidak kasat mata. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan ketika melihat/mengetahui bagaimana cara manusia menangani fenomena kesurupan, yakni dengan membacakan ayat-ayat yang berasal dari "kitab suci."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;;"&gt;Pembacaan ayat-ayat "kitab suci" yang ditujukan bagi orang-orang yang mengalami kesurupan didasarkan pada kepercayaan bahwa kesurupan diakibatkan oleh sesuatu supernatural yang jahat, oleh karenanya harus dilawan oleh sesuatu supernatural juga, namun yang baik. Jadi, ada pemikiran banyak orang bahwa sesuatu yang tidak kelihatan harus diperhadapkan dengan sesuatu yang tidak juga tidak kelihatan, dan karena kesurupan diakibatkan oleh hantu, maka harus dilawan oleh Tuhan. Kejahatan harus dilawan oleh kebaikan. Akibatnya, banyak orang meniadakan atau tidak mempedulikan hal-hal yang sesungguhnya kasat mata. Artinya, orang lebih mempercayai hal-hal yang tidak kelihatan (supernatural) ketimbang hal-hal yang keliatan (material).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="color: black; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;;"&gt;Contoh inilah yang ditemukan dalam berita di atas ketika pihak sekolah bukannya memperhatikan kegiatan telah dan sedang dilakukan anak-anak melainkan membiarkan pikirannya dikuasai oleh hal-hal yang tidak kelihatan. Pihak sekolah sama sekali tidak memperhitungkan kemungkinan jika kegiatan yang diadakannya telah membuat beberapa anak merasa tidak nyaman, dan anak-anak yang tidak merasa nyaman tersebut tidak memiliki pikiran yang kuat sehingga mereka mengalami kesurupan. Inilah salah satu contoh nyata (lagi) di mana manusia lebih mempercayai sesuatu yang supernatural ketimbang material. Akibatnya, penanganan yang diberikan pun sangat sederhana bahkan &lt;i&gt;ga nyambung&lt;/i&gt; karena menafikan psikologi serta melibatkan orang-orang yang keliru.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-169161110607329415?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/169161110607329415/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/11/kesurupan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/169161110607329415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/169161110607329415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/11/kesurupan.html' title='Kejahatan X Kebaikan'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-3101616092296418317</id><published>2010-11-11T19:08:00.002+07:00</published><updated>2011-08-17T08:51:10.151+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesurupan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Paranormal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skeptisisme'/><title type='text'>Hantu Curhat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;a href="http://regional.kompas.com/read/2010/10/21/07321978/Siswi.SMP.Ini.Diajak.Curhat.Hantu.Cewek" style="color: magenta;"&gt;Dua remaja perempuan (SMP) yang berada dalam keadaan "kesurupan" mengaku jika hantu yang ditemui masing-masing perempuan itu mengajak mereka curhat.&lt;/a&gt; Salah seorang remaja&amp;nbsp; perempuan yang kesurupan itu mengatakan bahwa hantu (makhluk halus) yang dijumpainya dalam keadaan kesurupan itu bercerita tentang keluarganya, bahkan meminta tolong agar anaknya yang sedang sakit ditolong. Sementara remaja yang lainnya mengaku ketika dalam keadaan kesurupan ia berjumpa dengan seorang anak kecil dan perempuan sama-sama mengenakan pakaian putih. Dan ia mengatakan bahwa perempuan yang dijumpainya itu mengajaknya curhat. Mungkin banyak orang dengan cepat menghakimi atau menganggap pernyataan kedua remaja perempuan itu sebagai hal yang bohong-bohongan atau yang mereka katakan tidak lebih dari omong kosong. Sikap-sikap seperti itu tidaklah bijak karena ada sikap yang lain yang bisa ditampilkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Fenomena kesurupan mesti dipahami sebagai peristiwa yang sungguh terjadi. Artinya, orang yang mengalaminya tidak sedang melakukan kebohongan ataupun omong kosong, jika ia benar-benar mengalami kesurupan. Peristiwa kesurupan memang bisa terjadi akibat pikiran seseorang tidak mampu lagi menampung atau menguasai emosi yang berada dalam diri seorang ketika berbenturan dengan kenyataan sosial yang dialami orang tersebut. Ketika pikiran tersebut tidak mampu menguasai benturan kedua hal itu, misalnya dengan menyalurkannya pada aktivitas tertentu, maka yang terjadi adalah "kesurupan."&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Oleh karena itulah harus dikatakan bahwa kesurupan yang dialami seseorang bukanlah akibat tubuh ataupun pikiran orang itu dimasuki oleh hantu (makhluk halus) melainkan akibat pikiran yang tidak mampu menguasai emosinya setelah orang tersebut mengalami suatu peristiwa yang menekan pikirannya. Orang yang mengalami kesurupan bukanlah sedang melakukan kebohongan atau omong kosong melainkan pikirannya tidak mampu menampung emosi yang begitu meluap sehingga hal tersebut membuat tubuhnya melakukan gerakan-gerakan motorik di luar kemampuan kendali pikirannya. Oleh karena itulah sama sekali tidak perlu menjadi heran ketika orang kesurupan tubuhnya menjadi mengejang, tidak jarang disertai dengan teriakan, bahkan tangisan, dan banyak gerakan yang jika dalam keadaan sadar orang tersebut tidak akan dan tidak mampu melakukannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Bagaimana dengan pengakuan kedua remaja perempuan dalam berita di atas yang mengaku masing-masing telah bertemu dengan hantu yang curhat dengan mereka? Apakah mereka mengatakan sesuatu yang omong kosong atau benar? Kedua remaja tersebut tidak mengatakan hal yang omong kosong apalagi berbohong, tetapi mereka menyampaikan ingatan tertentu yang muncul di dalam pikiran mereka. Namun ingatan tersebut sangat mungkin merupakan sesuatu yang sangat tidak menyenangkan buat mereka. Ingatan tersebut telah membangkitkan emosi tertentu yang tidak mampu ditampung atau dikendalikan atau disalurkan oleh pikiran mereka sehingga mereka pun mengalami kesurupan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Dari manakah ingatan itu berasal? Bisa jadi ingatan itu berasal dari pengalaman mereka, entah sudah lama ataupun tidak lama terjadi ketika mereka berjumpa atau mendengar cerita seseorang yang mengalami kesulitan/kemalangan. Setelah mendengar cerita, maka cerita itu pun disimpan dalam memori otak mereka. Dan ketika mereka mengalami suatu peristiwa, entah mirip ataupun tidak mirip dengan pengalaman, maka ingatan yang tersimpan dalam memori otak itu pun muncul ketika mereka mengalami kesurupan, walaupun kemungkinan besar yang terjadi adalah bahwa peristiwa tersebut memiliki kemiripan dengan peristiwa yang pernah dialami.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Jadi, jelas, kedua remaja perempuan dalam berita di atas tidaklah bohong karena peristiwa berjumpa dengan orang yang mau curhat ketika mereka dalam keadaan kesurupan sungguh-sungguh terjadi. Ya, terjadi dalam pikiran mereka, bukan di luar pikiran mereka. Dengan demikian, pengakuan kedua perempuan remaja itu sama sekali bukanlah omong kosong karena mereka memang berjumpa dengan figur-figur tertentu dalam pikirannya, yang sangat mungkin dipicu oleh peristiwa serupa yang sangat tidak menyenangkan pikiran mereka sehingga ingatan yang mirip itu pun muncul ketika mereka mengalami kesurupan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-3101616092296418317?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/3101616092296418317/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/11/hantu-ternyata-punya-keluarga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/3101616092296418317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/3101616092296418317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/11/hantu-ternyata-punya-keluarga.html' title='Hantu Curhat'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-7297613582383893252</id><published>2010-11-11T13:16:00.002+07:00</published><updated>2011-08-17T08:52:27.870+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Paranormal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skeptisisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kematian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ketakutan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Delusinasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Supernatural'/><title type='text'>Ketakutan &gt; Loncat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Ternyata ketakutan bisa mengakibatkan peristiwa yang cukup tragis, apalagi jika ketakutan itu begitu mencekam sehingga orang yang mengalaminya tidak mampu memisahkan dan membedakan antara kenyataan dan halusinasi. &lt;a href="http://id.news.yahoo.com/kmps/20101026/twl-ada-setan-11-orang-terjun-dari-lanta-70701a2.html" style="color: magenta;"&gt;Hal inilah yang dialami 11 orang termasuk seorang bayi ketika mereka dikejutkan oleh teriakan seseorang yang menganggap dirinya telah melihat setan.&lt;/a&gt; Kontan setelah mendengar teriakan itu ke-11 orang itu pun loncat dari lantai dua sangking takutnya. Peristiwa konyol tersebut terjadi sekitar pukul 03.00 ketika 13 orang sedang menonton televisi. Kemudian seorang laki-laki mendengar bayinya menangis, ia pun beranjak membuatkan susu dalam keadaan tidak mengenakan pakaian. Ketika sedang membuatkan susu itulah beberapa orang melihat laki-laki telanjang tersebut dan menganggapnya sebagai setan dengan berteriak, "Ada setan... ada setan...!"&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Ketika ketakutan yang mencekam menguasai seseorang akibat mudah terpengaruh oleh adanya teriakan, itu artinya orang tersebut tidak mampu membedakan antara hal yang riil/nyata dan hal yang merupakan halusinasi. Hal tersebut semakin diperparah karena orang tersebut sangat mudah percaya pada sesuatu yang berasal dari luar dirinya, misalnya: teriakan atau perkataan orang lain. Ia serta-merta percaya kepada orang lain dan hal itulah yang menyebabkannya bertindak/berlaku berdasarkan sesuatu yang berasal dari luar dirinya. Akibatnya, salah satunya adalah seperti peristiwa yang terjadi di Versailles, Perancis, dalam berita di atas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Jika orang beranggapan rasionalitas seseorang menentukan keputusan yang dimiliki seseorang, khususnya dalam kaitannya dengan hal-hal supernatural dan paranormal, ternyata anggapan tersebut tidaklah tepat karena rasionalitas seseorang belum cukup membuat seseorang untuk mampu membedakan antara yang nyata dan halusinasi serta delusinasi. Artinya, rasionalitas seseorang tidak cukup untuk membuat manusia untuk tidak percaya dan menerima hal-hal yang supernatural dan paranormal, bahkan tidak jarang orang yang rasionalistis malah sangat mempercayai berbagai hal yang bernuansa supernatural dan paranormal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Dengan demikian, hal apakah yang bisa dijadikan tolok ukur untuk menilai berbagai hal yang berkaitan dengan supernatural dan paranormal? Setidaknya ada satu "benteng" yang bisa diandalkan, yakni: sikap skeptis. Ini artinya jika seseorang memiliki sikap yang kritis, ia tidak akan mau, apalagi mudah, percaya pada pandangan ataupun kepercayaan orang lain. Seorang yang skeptis tidak akan menerima pernyataan ataupun argumen orang lain sekalipun pernyataan atau argumen itu dikeluarkan oleh otoritas tertentu dalam masyarakat. Seorang skeptik tidak mau menerima dan memeluk kepercayaan orang lain sebelum ia mengujinya terlebih dahulu dengan daya kritis yang dimilikinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Oleh karena itulah rasionalitas seseorang seharusnya muncul/berangkat dari sikap skeptis yang dimilikinya, di mana awalnya ia meragukan segala hal yang terjadi di sekitarnya, terlebih meragukan pernyataan ataupun argumen orang lain. Semangat seorang skeptik adalah meragukan setiap sebelum hal itu melalui "pengadilan" akal budinya sendiri yang didukung oleh pikiran kritis dan argumen kuat yang dimilikinya. Jika hal ini terjadi maka&amp;nbsp; sudah sepantasnyalah peristiwa konyol yang ada dalam berita di atas tidak akan terulang kembali. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-7297613582383893252?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/7297613582383893252/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/11/ketakutan-loncat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/7297613582383893252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/7297613582383893252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/11/ketakutan-loncat.html' title='Ketakutan &gt; Loncat'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-6892698934250506245</id><published>2010-11-04T11:58:00.004+07:00</published><updated>2011-08-18T09:47:38.751+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kekerasan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologis'/><title type='text'>Menangis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Seorang remaja lelaki berusia 16 tahun menangis di sel tahanan setelah ditangkap akibat dituduh telah melakukan perkosaan terhadap seorang remaja perempuan yang seusia dengannya. &lt;a href="http://regional.kompas.com/read/2010/11/03/20551973/Pria.Ini.Menangis.Setelah.Memerkosa" style="color: magenta;"&gt;Menurut berita remaja lelaki itu menangis karena menyesali perbuatannya&lt;/a&gt;, dan hal seperti inilah yang menjadi pandangan umum. Jadi, banyak orang yang menafsirkan dan/atau menganggap ketika seseorang menangis setelah perbuatan jahatnya diketahui, artinya orang tersebut tengah menyesali perbuatannya, apalagi jika tangisan itu disertai dengan pengakuan orang yang bersangkutan bahwa ia telah menyesali perbuatannya. Terlebih, tangisan itu dilakukan oleh seorang remaja dan/atau anak di bawah umur. Apakah benar demikian? Bisa saja, namun ada kemungkinan lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Setidaknya ada dua kemungkinan yang menyebabkan seseorang menangis setelah perbuatan jahatnya diketahui orang lain yang mengakibatkan orang itu ditangkap dan ditahan. Selain kemungkinan pertama - pandangan umum - yang telah dikemukakan di atas, di mana penyebab orang yang menangis itu karena ia dianggap menyesali perbuatannya, ada kemungkinan kedua, yakni: orang tersebut khawatir bahkan takut apa yang akan terjadi pada dirinya. Hal normal ketika orang menangis akibat takut terhadap hal apa yang akan menimpanya karena berkaitan dengan hukuman yang harus dijalani apalagi sampai hidup di penjara. Oleh karena itu, sangat mungkin seseorang menangis setelah perbuatan jahatnya diketahui dan dirinya ditangkap.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Orang akan menangis ketika perbuatan jahatnya diketahui dan sadar jika dirinya akan menghadapi hukuman untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya tersebut. Terlebih jika kejahatan dilakukan oleh seorang remaja atau anak di bawah umur karena di dalam benaknya sudah ada gambaran kehidupan sebagai seorang tahanan yang berada di penjara. Ini artinya ia menyadari bahwa dirinya tidak akan bisa berkumpul dengan keluarga dan bertemu dengan teman-teman bermainnya seperti ketika ia berada di luar penjara. Oleh karena itulah seseorang, apalagi remaja atau anak di bawah umur akan merasa ketakutan dan menangis karena sesungguhnya ia menyadari bahwa dirinya tidak bisa bebas lagi jika berada dalam tahanan penjara.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Ketika orang (dhi. petugas hukum) menyadari adanya kemungkinan kedua ini, maka kasus kejahatan yang dilakukan seseorang bisa disikapi dengan jernih dengan mengutamakan dan mengedepankan sikap yang didasarkan pada hukum yang adil. Artinya, hukum ditegakkan dengan tidak memandang latar belakang seseorang, sekalipun perbuatan jahat dilakukan oleh seorang remaja atau anak di bawah umur. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-6892698934250506245?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/6892698934250506245/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/11/menangis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/6892698934250506245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/6892698934250506245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/11/menangis.html' title='Menangis'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-917533053222615087</id><published>2010-10-31T23:29:00.002+07:00</published><updated>2011-08-18T09:34:13.252+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Prediksi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skeptisisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kematian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Internasional'/><title type='text'>Memprediksi Kematian Sendiri?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;a href="http://tempointeraktif.com/hg/amerika/2010/10/31/brk,20101031-288384,id.html" style="color: magenta;"&gt;Seorang mahasiswa Amerika mati setelah memprediksi kematiannya sendiri&lt;/a&gt;&lt;span style="color: magenta;"&gt;.&lt;/span&gt; Setidaknya itulah judul yang diberikan mengenai kabar "keberhasilan" prediksi mahasiswa tersebut terhadap kelangsungan hidupnya, atau itulah yang dipercaya beberapa orang bahwa mahasiswa itu mampu dengan tepat memprediksi kematiannya hanya beberapa saat sebelum ajal menjemputnya. Apakah mahasiswa itu memang "sukses" memprediksi kematiannya sendiri?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Beberapa saat sebelum kematiannya, mahasiswa tersebut memposting dalam twitternya: "Hembusan angin hingga 60mph hari ini akan menyenangkan . . .&amp;nbsp; saya kira saya sudah hidup cukup lama." Tulisan inilah yang dijadikan orang sebagai patokan jika mahasiswa itu telah memperkirakan kematiannya sendiri, khususnya kalimat yang terakhir. Namun jika dibaca secara cermat kalimat terakhir itu sama sekali tidak menunjukkan jika mahasiswa itu telah memperkirakan hidupnya akan berakhir tidak lama setelah ia mempostingkan tulisan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Kalimat, "saya kira saya sudah hidup cukup lama" malah bisa diartikan jika pada saat itu mahasiswa tersebut sedang menikmati hidupnya, khususnya jika kalimat tersebut dihubungkan dengan kalimat sebelumnya. Dengan demikian, kalimat kedua tersebut sama sekali, baik implisit terlebih eksplisit, tidak menunjukkan jika mahasiswa itu tengah memprediksi kematiannya. Orang saja yang gemar menghubung-hubungkan berbagai peristiwa yang terjadi di sekitarnya ataupun yang dialaminya dirinya walaupun hal-hal tersebut sama sekali tidak berhubungan. Inilah yang juga terjadi ketika orang menghubungkan kalimat di twitter mahasiswa tersebut dengan akhir hidupnya sehingga orang pun mengatakan bahwa mahasiswa tersebut telah "berhasil" memprediksi kematiannya sendiri.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-917533053222615087?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/917533053222615087/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/10/memprediksi-kematian-sendiri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/917533053222615087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/917533053222615087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/10/memprediksi-kematian-sendiri.html' title='Memprediksi Kematian Sendiri?'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-3498719547804414421</id><published>2010-10-30T10:14:00.003+07:00</published><updated>2011-08-19T12:03:42.220+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Paranormal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tuyul'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Foto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skeptisisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Confirmation Bias'/><title type='text'>Tuyul Masuk Botol Aqua</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;a href="http://megapolitan.kompas.com/read/2010/10/29/22272662/Tuyul.Gegerkan.Warga.Grogol.Utara" style="color: magenta;"&gt;Seorang warga Jalan Pulo Mawar, Grogol Utara, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, mengaku telah menangkap empat tuyul yang selama ini dianggap menjadi penyebab warga kehilangan uangnya&lt;/a&gt;. Warga yang mengklaim telah menangkap tuyul-tuyul itu pun mengaku keluarganya sering kehilangan uang. Sekitar seminggu lalu ia tidak sengaja melihat tuyul-tuyul itu lewat di depan rumahnya, dan ia pun langsung menangkap keempat tuyul tersebut yang kemudian dimasukkan ke dalam botol aqua ukuran tanggung.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Berikut adalah beberapa kejanggalan yang bisa ditemukan dengan cukup mudah di dalam berita mengenai hal tersebut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Pertama: di alinea pertama ditulis bahwa empat makhluk aneh (tuyul) ditangkap dalam waktu hampir bersamaan, namun di alinea ketiga dikatakan bahwa seorang warga menangkap keempat tuyul itu ketika keempatnya sedang lewat di depan rumahnya. "Kemudian tanpa pikir panjang dirinya langsung menangkap keempatnya" [tuyul-tuyul]. Berita di alinea ketiga tersebut bisa diartikan bahwa keempat tuyul itu ditangkap pada waktu yang bersamaan. Dengan demikian, dari berita tersebut tidak terlihat adanya kesamaan waktu, di mana alinea pertama&amp;nbsp; mengatakan &lt;i&gt;hampir bersamaan&lt;/i&gt; sedangkan alinea kedua &lt;i&gt;bersamaan&lt;/i&gt;. Ini artinya, ada perbedaan waktu mengenai penangkapan tuyul-tuyul tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Kedua: di alinea kedua tertulis: "Warga curiga dengan keberadaan tuyul yang dipelihara oleh seseorang." Jika warga bisa mengatakan hal tersebut, ini artinya warga sudah menyimpulkan bahwa ada tuyul dipelihara manusia. Atau, ada orang yang memelihara tuyul. Pertanyaannya adalah: bagaimana warga bisa mengetahui bahwa ada orang memelihara tuyul sedangkan belum melihat keberadaan tuyul itu sendiri? Ini artinya warga sudah memiliki asumsi mengenai keberadaan tuyul dari cerita-cerita yang diperolehnya, baik melalui orang lain maupun bacaan-bacaan populer.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Ketiga: di aline ketiga dikatakan bahwa, Toto, seorang warga yang menangkap keempat tuyul itu "&lt;i&gt;tidak sengaja&lt;/i&gt; melihat tuyul-tuyul itu lewat di depan rumahnya" (penekanan ditambahkan), sementara di alinea berikutnya dikatakan: "keempat tuyul yang tidak dapat dilihat secara jelas itu . . . ." Jika tuyul adalah makhluk yang tidak dapat dilihat secara jelas, maka bagaimana bisa seseorang melihatnya &lt;i&gt;hanya&lt;/i&gt; dengan cara tidak sengaja? Bagaimana orang yang sama bisa mengatakan bahwa yang dilihatnya secara tidak sengaja itu adalah makhluk yang disebut, dikenal, atau dinamakan tuyul? Dengan demikian, ini pun bisa dikatakan bahwa orang yang bersangkutan sebelumnya telah memiliki "gambaran" tertentu mengenai tuyul yang diperolehnya, baik melalui cerita-cerita orang maupun berita-berita di media populer mengenai keberadaan tuyul tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Keempat: berdasarkan berita dikatakan bahwa peristiwa penangkapan tuyul itu terjadi seminggu lalu, dan sejak itu banyak warga berdatangan ke kediaman Toto karena hendak menyaksikan atau membuktikan adanya tuyul dalam botol aqua tersebut. Jika benar demikian, mengapa sampai saat ini belum ada satu pun foto yang mengabadikan keberadaan tuyul-tuyul dalam botol aqua itu? Setidaknya, ada bukti fisik yang menyatakan bahwa benar ada tuyul yang ditangkap manusia kemudian dimasukkan ke dalam botol aqua. Jika ada bukti fisik yang menyatakan hal tersebut barulah penyelidikan lanjutan bisa dilakukan. Jika tidak, berarti penyelidikan terhadap keberadaan tuyul dalam berita tersebut pun berhenti sampai di sini.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Jadi, apakah memang ada yang namanya tuyul itu, bahkan orang bisa menangkap dan memasukkannya ke dalam botol aqua? Berdasarkan keempat poin di atas, maka bisa disimpulkan bahwa keberadaan tuyul-tuyul tersebut hanyalah milik orang-orang yang memang sebelumnya sudah memiliki asumsi mengenai adanya tuyul. Bahkan mungkin lebih dari itu, orang-orang sudah percaya terlebih dulu bahwa makhluk yang dinamakan tuyul itu memang ada, nyata, riil. "Kepercayaan" yang sudah dimiliki itulah yang mengendalikan kesimpulan banyak orang mengenai suatu hal karena mereka percaya dulu baru membuktikan. Atau lebih tepatnya, banyak orang langsung percaya tanpa mau membuktikannya. Inilah yang dinamakan dengan &lt;i&gt;self-confirmation bias&lt;/i&gt;, di mana orang mempercayai sesuatu yang sudah diyakininya lebih dulu sehingga apa yang dilihatnya menegaskan "kepercayaan"-nya tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-3498719547804414421?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/3498719547804414421/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/10/tuyul-masuk-botol-aqua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/3498719547804414421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/3498719547804414421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/10/tuyul-masuk-botol-aqua.html' title='Tuyul Masuk Botol Aqua'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-4275883975939240849</id><published>2010-10-29T09:56:00.003+07:00</published><updated>2011-08-17T09:31:45.314+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesurupan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skeptisisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologis'/><title type='text'>Kesurupan &amp; "Kitab Suci"</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Apakah seorang yang mengalami fenomena kesurupan bisa disembuhkan atau ditanggulangi dengan meningkatkan tradisi membaca "kitab suci?" Atau, apakah peristiwa kesurupan bisa ditekan atau diminimalisasi dengan cara mengadakan pembacaan "kitab suci?" &lt;span style="color: magenta;"&gt;J&lt;/span&gt;&lt;a href="http://regional.kompas.com/read/2010/10/28/22210993/Kesurupan..Lomba.Sumpah.Pemuda.Pun.Batal" style="color: magenta;"&gt;awaban yang diberikan adalah positif, setidaknya inilah yang dipercaya Kepala Sekolah Menengah Kejuruan I Kota Bengkulu setelah beberapa siswanya kesurupan&lt;/a&gt;. Apakah dengan membaca "kitab suci" mampu menghindarkan seseorang dari kesurupan atau apakah kebiasaan membaca "kitab suci" bisa mempengaruhi emosi seseorang sehingga orang tersebut bisa terhindar dari kesurupan?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Pandangan yang mengatakan bahwa kegiatan beragama, seperti salah satunya, mengadakan pembacaan "kitab suci" dapat mempengaruhi emosi seseorang masih sangat kuat mempengaruhi pikiran masyarakat luas, khususnya di Indonesia. Dalam tingkatan tertentu, kegiatan beragama bisa saja membuat seseorang - tentunya yang beragama - merasa lebih tenang, terkendali, dan &lt;i&gt;adem&lt;/i&gt;. Mereka yang percaya jika kegiatan beragama bisa mengendalikan emosinya mengatakan bahwa agama membawa dan melahirkan kebahagiaan&amp;nbsp; dan ketenangan batin. Bahkan tidak jarang juga jika hal tersebut "tertular" atau setidaknya, sampai dilihat oleh orang lain sehingga orang lain pun turut merasa tenang. Namun demikian, pandangan yang mengatakan bahwa kegiatan beragama bisa membuat orang beragama tenang amatlah lemah karena sekian kasus kesurupan yang terjadi di Indonesia malah dialami oleh orang-orang yang, setidaknya mengklaim diri sebagai orang beragama. Jika demikian adanya, maka klaim yang mengatakan bahwa kegiatan beragama bisa menenangkan bahkan mengendalikan emosi seseorang bersifat subjektif karena tidak terbukti pada orang lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Emosi yang dialami setiap orang tidak turun dari langit melainkan dibentuk, baik oleh bawaan gen yang dimiliki orang yang bersangkutan maupun lingkungan di mana orang itu hidup. Jika kegiatan beragama dianggap sebagai salah satu hal yang termasuk ke dalam unsur lingkungan/sosial, maka mungkin saja emosi seseorang bisa dipengaruhi oleh kegiatan beragama yang dilakukannya. Bagaimana dengan pembacaan "kitab suci?" Bukankah itu juga termasuk dengan kegiatan? Ya, dalam pengertian yang sangat sempit, namun tidak dalam pengertian yang lebih luas. Jika membaca "kitab suci" dilakukan secara pribadi aktivitas tersebut merupakan aktivitas yang lebih mengarah pada diri sendiri. Jika aktivitas membaca "kitab suci" dilakukan secara berkelompok, maka sesungguhnya yang terjadi adalah sugesti yang diperoleh seseorang atau beberapa orang yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Jadi, bukan "kitab suci" yang mampu membuat seseorang merasa tenang atau mengendalikan emosinya melainkan "perasaan" subjektif yang dimiliki orang yang bersangkutan karena sejak awal sudah datang dengan membawa keyakinan bahwa dirinya akan merasa tenang karena membaca "kitab suci."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Apakah dengan demikian kegiatan membaca "kitab suci" bisa diperhitungkan sebagai aktivitas yang mampu menenangkan atau mengendalikan emosi seseorang? Jawabannya adalah: ya dan tidak. Ya, jika seseorang memiliki keyakinan yang begitu kuat bahwa hal yang dilakukannya bisa menenangkan dirinya. Ini artinya, bukan "kitab suci" yang mampu membuat "perasaan" orang tersebut tenang melainkan pikirannya sendiri. Tidak, jika orang menempatkan aktivitas membaca "kitab suci" dalam konteks lebih luas, di mana kegiatan tersebut melibatkan orang lain. Jadi, bukan kegiatan membaca "kitab suci" yang membuat seseorang menjadi tenang atau &lt;i&gt;adem&lt;/i&gt; melainkan suasana tertentu yang dialami orang tersebut ketika ia berada dalam kegiatan membaca "kitab suci" secara berkelompok.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Dengan demikian, kegiatan membaca "kitab suci" tidak bisa mempengaruhi emosi seseorang atau tidak bisa membuat "perasaan" seseorang menjadi lebih tenang. Ini berarti bahwa tidak ditemukan hubungan antara "kitab suci" dan kesurupan yang bisa membuat orang berkesimpulan bahwa tindakan/aktivitas membaca "kitab suci" mampu menekan atau menghindari orang dari kesurupan karena kesurupan terjadi akibat lemahnya pengendalian emosi yang dilakukan seseorang yang berbenturan dengan fenomena sosial yang dihadapinya. Jika ini yang terjadi, maka rencana mengadakan kegiatan membaca "kitab suci" dalam upaya menanggulangi kesurupan merupakan tindakan yang menyederhanakan masalah karena kesurupan merupakan masalah psikologi sekaligus sosiologis, oleh karenanya tidak bisa ditanggulangi oleh kegiatan membaca "kitab suci."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-4275883975939240849?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/4275883975939240849/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/10/kesurupan-kitab-suci.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/4275883975939240849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/4275883975939240849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/10/kesurupan-kitab-suci.html' title='Kesurupan &amp; &quot;Kitab Suci&quot;'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-4179857613107381755</id><published>2010-10-15T08:32:00.005+07:00</published><updated>2011-08-18T09:06:48.230+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berpikir Kritis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rasionalitas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Emosi'/><title type='text'>Akibat Emosi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Inilah akibatnya ketika manusia tidak mampu berpikir jernih karena, entah sengaja ataupun tidak sengaja membiarkan dirinya dipengaruhi bahkan dikuasai sesuatu yang tidak "sehat" (dhi. emosi). Ketika manusia tidak mampu "mengambil jarak" dari sesuatu yang berada, baik di dalam maupun di luar dirinya, maka akibatnya manusia dikendalikan oleh hal tersebut. &lt;a href="http://bola.kompas.com/read/2010/10/14/03470125/Dituduh.PKI..PSSI.Naik.Pitam" style="color: magenta;"&gt;Emosi inilah yang menguasai dan mempengaruhi seorang pelatih sepakbola sehingga ia memaki pihak lain dengan sebutan yang sangat tajam&lt;/a&gt;. Jika manusia memang sepakat bahwa dirinya adalah makhluk yang memiliki rasio maka sudah sepatutnyalah setiap perkataan dan tingkah lakukan didasarkan pada rasio tersebut.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Mengapa rasio? Jika rasio yang selalu digunakan sebagai dasar setiap perkataan dan tindakan manusia, maka nyaris bisa dipastikan manusia tidak mudah dan cepat marah yang diakibatkan oleh emosi yang menguasai dirinya. Apakah ini artinya emosi yang mengakibatkan kemarahan harus disingkirkan sama sekali dari hidup manusia? Mungkin tidak. Maksudnya adalah bahwa emosi yang mengakibatkan kemarahan harus dikendalikan/dikuasai sehingga tidak membuat manusia melakukan hal-hal konyol yang tidak mencerminkan manusia sebagai makhluk rasional.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Bagaimana "melatih" rasio tersebut? Melakukan meditasi-kah? Bisa ya, bagi banyak orang. Bisa juga dengan memikirkan dampak tertentu yang bisa terjadi terhadap orang lain jika emosi yang mengakibatkan kemarahan tersebut dibiarkan. Artinya, manusia harus mampu memikirkan secara jernih akibat yang akan terjadi jika perkataan dan/atau tindakan tertentu dialamatkan pada, baik dirinya maupun orang lain. Jika dampak yang dihasilkan negatif (membuat orang lain marah/kecewa), ini artinya orang yang mengakibatkan hal tersebut tidak menggunakan rasio yang dimilikinya karena telah membiarkan dirinya dikuasai dan dikendalikan oleh emosi. Pada saat itulah orang tersebut tidak layak disebut sebagai makhluk yang memiliki rasio. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-4179857613107381755?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/4179857613107381755/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/10/akibat-emosi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/4179857613107381755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/4179857613107381755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/10/akibat-emosi.html' title='Akibat Emosi'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-3098618671175004525</id><published>2010-10-11T18:57:00.006+07:00</published><updated>2011-08-18T09:05:24.890+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritisisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Internasional'/><title type='text'>Sangat Mengerikan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Tidak berlebihan ketika para orangtua sangat melindungi anak-anaknya, khususnya ketika mereka mempercayakan anak-anaknya mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah tertentu. Bahkan tidak jarang orangtua yang &lt;i&gt;bawel&lt;/i&gt; dengan mempertanyakan setiap fasilitas yang dimiliki di sekolah demi "kenyamanan" anak-anaknya. Namun demikian, ketika "kenyamanan" fisik bisa terjamin karena terlihat kasat mata, kualitas para guru tidak bisa dilihat sejak awal ketika orangtua hendak memasukkan anak-anaknya ke sekolah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Institusi sekolah dan pendidikan (termasuk sarana fisik dan non-fisik) yang seharusnya sebagai sarana pencerdasan generasi yang lebih muda, ternyata tidak selamanya menjanjikan hal yang semestinya, baik bagi orangtua maupun mereka yang berhak mengenyam pendidikan tersebut. &lt;a href="http://www.bbc.co.uk/news/world-africa-11492499" style="color: magenta;"&gt;Apa yang terjadi di Kenya sungguh-sungguh menjadi salah satu contoh yang sangat mengerikan bagi setiap orang&lt;/a&gt;. Institusi sekolah, khususnya para guru, yang seharusnya menjadi salah satu kekuatan pencerdas (baca: mendorong murid-muridnya menjadi berwawasan) sekaligus pelindung dan teladan bagi para muridnya malah menjadi figur yang sangat mengerikan dan sama sekali tidak bisa dijadikan teladan. Tindakan para guru tersebut betul-betul tidak terpuji dan mengerikan, bukan saja bagi orangtua dan anak-anak, namun juga bagi setiap orang yang peduli terhadap pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Di sisi lain, tindakan pemerintah Kenya terhadap guru-guru kejam itu perlu dipuji dan didukung karena dengan tegas telah mengambil sikap terhadap tragedi yang sangat tidak manusiawi itu. Lebih dari itu, sudah seharusnya komunikasi dan kerjasama antara institusi pendidikan, pemerintah, dan orangtua terjalin dengan sehat sehingga peristiwa yang serupa tidak terjadi lagi, bukan hanya di Kenya melainkan di seluruh dunia sehingga generasi yang lebih muda bisa mengenyam pendidikan yang selayaknya. Jika slogan "pendidikan adalah hak semua orang" memang benar, maka sudah seharusnya hal tersebut mewujud nyata dalam kehidupan setiap bangsa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-3098618671175004525?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/3098618671175004525/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/10/sangat-mengerikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/3098618671175004525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/3098618671175004525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/10/sangat-mengerikan.html' title='Sangat Mengerikan'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-9195738690762267324</id><published>2010-10-10T17:42:00.005+07:00</published><updated>2011-08-18T09:06:01.527+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritisisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Internasional'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Minoritas'/><title type='text'>Apa Salah Mereka?!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Masyarakat yang simpatik dan mendukung kesetaraan hak yang patut diterima kaum minoritas (gay) memperoleh perlakuan yang sangat tidak terpuji dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. &lt;a href="http://www.bbc.co.uk/news/world-europe-11507253" style="color: magenta;"&gt;Peristiwa tidak manusiawi tersebut terjadi di ibukota Serbia, Belgrade, ketika kelompok Hak Gay mengadakan parade&lt;/a&gt;. Sekalipun acara tersebut berada di bawah pengawasan kepolisian, namun hal tersebut tidak menghambat para pemrotes menyerang kaum minoritas tersebut dengan bom minyak tanah dan batu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Peristiwa serupa di lokasi yang sama ternyata pernah terjadi beberapa tahun silam (2001) dan ketika itu kejadian yang mencoreng nilai-nilai kemanusiaan itu dipicu oleh kelompok "sayap kanan" (orang-orang beragama) di negeri itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Mengapa orang-orang yang tidak setuju terhadap gerakan penyetaraan hak gay menyerang kaum minoritas? Apakah yang telah dilakukan kaum gay Serbia sehingga orang-orang tidak menusiawi itu melakukan tindakan yang sama sekali tercela dan tidak terpuji? Apakah salah mereka sehingga para pemrotes dengan tega menyerang mereka dengan bom minyak tanah dan batu? Apalagi jika peristiwa yang merusak nilai-nilai kemanusiaan itu dilakukan oleh orang-orang yang mengaku bermoral karena beragama. Bukankah ironis ketika kaum yang selama ini mengagung-agungkan perbuatan baik dan cinta kasih malah menyerang dan menyakiti sesamanya? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-9195738690762267324?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/9195738690762267324/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/10/apa-salah-mereka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/9195738690762267324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/9195738690762267324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/10/apa-salah-mereka.html' title='Apa Salah Mereka?!'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-7475426448537255647</id><published>2010-10-10T12:53:00.002+07:00</published><updated>2011-08-17T09:12:10.881+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skeptisisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Numerologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Selective Thinking'/><title type='text'>10-10-10</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Tidak sedikit orang menganggap bahwa tanda-tanda tertentu - seperti angka-angka - yang terdapat di sekitarnya memiliki sebuah makna. Orang-orang yang mempercayai hal tersebut juga yakin bahwa angka dapat menyingkapkan sesuatu yang dalam dan hal itu mempengaruhi hidup dan kehidupan di sekitarnya. Dengan kata lain dapat diungkapkan bahwa angka pada dirinya sendiri sesungguhnya memiliki makna terselubung yang jika orang mampu memahaminya hal tersebut bisa bermanfaat baginya, seperti: menghindar dari kemalangan dan mencapai kesuksesan.&lt;span style="color: magenta;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;a href="http://internasional.kompas.com/read/2010/10/10/07210313/Hati-hati..Makna.Negatif.Angka.10-10-10" style="color: magenta;"&gt;Inilah sepertinya yang diyakini banyak warga Cina di seantero negeri itu ketika mereka berbondong-bondong mendaftarkan diri dan pasangannya untuk menikah pada tanggal 10 bulan 10 (Oktober) tahun 2010&lt;/a&gt;.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Kepercayaan 10-10-10 akan membawa berkah bagi warga Cina di negerinya berasal dari bahasa Mandarin angka 10-10-10 itu yang artinya "sempurna dalam semua sisi." Dengan berdasar pada permainan angka dan kata-kata itulah warga Cina percaya bahwa jika mereka mengadakan acara pada 10-10-10 maka hidup mereka selanjutnya akan mengalami keuntungan. Namun demikian, permainan angka yang dipadukan dengan kata-kata tersebut tidak menjelaskan apa dan bagaimana hubungan 10-10-10 dengan "keuntungan" dan "kesempurnaan" yang dimaksud. Jika 10-10-10 akan membawa keuntungan dan kesempurnaan, bagaimana orang menjelaskan hubungan semua kedua hal itu (angka dan keuntungan). Apakah hanya berdasar pada arti 10-10-10 dalam bahasa Mandarin yang maknanya "sempurna dalam semua sisi" tadi? Jika ya, maka penjelasan yang berdasar hanya pada makna angka-angka itu sangatlah lemah karena tidak didukung oleh fakta yang tengah terjadi saat ini di Cina, di mana bencana alam sedang melanda Cina.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Seperti telah diungkapkan dalam berita di atas, banyak warga Cina tidak mempedulikan bencana alam yang sedang menghantam negerinya demi "keuntungan" yang bisa diperoleh melalui 10-10-10 itu. Kenyataan bahwa banyak orang (warga Cina) tidak peduli pada sisi lain yang bisa muncul dari permainan angka yang dilakukannya menunjukkan dengan jelasa bahwa banyak orang cenderung memaknai dan mempercayai sesuatu yang sudahl lebih dulu dipercayainya. Maksudnya, orang-orang seperti itu tidak mau melihat apalagi memperhitungkan bahwa sesuatu yang dipercayainya itu tidak lebih dari sekadar hasrat dirinya yang ingin membenarkan keyakinannya yang&amp;nbsp; dibentuk dan dipengaruhi oleh sesuatu sehingga ketika ada hal lain yang bertentangan dengan kepercayaannya tersebut, maka mereka pun menolaknya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Inilah yang dinamakan dengan &lt;i&gt;selective thinking&lt;/i&gt;. Artinya, orang-orang yang mengalami &lt;i&gt;selective thinking&lt;/i&gt; hanya mau menerima atau mempercayai sesuatu yang sesuai dengan keinginan atau kepercayaan yang sudah dimilikinya lebih dulu. Orang-orang yang mengidap hal ini tidak akan mau menerima kenyataan bahwa keyakinannya salah karena tidak didukung oleh bukti yang jelas. Orang yang mengalami &lt;i&gt;selective thinking&lt;/i&gt; tidak akan pernah bisa mengubah keyakinannya sekalipun bukti yang ada sama sekali bertolak belakang dengan keyakinan yang dimilikinya. Oleh karena itulah tidak heran jika banyak warga Cina negerinya tersebut yang tidak peduli dengan kenyataan "negatif" yang muncul dari 10-10-10, tetapi percaya bahwa 10-10-10 hanya akan membawa keuntungan bagi mereka. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-7475426448537255647?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/7475426448537255647/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/10/10-10-10.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/7475426448537255647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/7475426448537255647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/10/10-10-10.html' title='10-10-10'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-958548224474262856</id><published>2010-10-09T11:16:00.005+07:00</published><updated>2011-08-17T09:14:30.561+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Paranormal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pohon Berdesah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skeptisisme'/><title type='text'>Daun Mangga Berdesah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;a href="http://regional.kompas.com/read/2010/10/08/13503148/Gempar..Daun.Mangga.Ini.Berdesah-14" style="color: magenta;"&gt;Daun pohon mangga miliknya mengeluarkan suara desahan seperti orang bernafas, menurut pengakuan Hamran Datundugon&lt;/a&gt;. Karena pengakuannya tersebut banyak warga yang tinggal di sekitarnya berbondong-bondong mendatangi pohon itu untuk membuktikannya. Pengakuan pemilik pohon mangga tersebut diamini oleh tetangganya yang juga pernah mendengar suara yang sama, bahkan ia mengaku suara itu dapat terdengar sampai rumahnya meski samar-samar. Ia pun mengklaim bahwa pada saat itu tidak ada angin berhembus yang bisa menyebabkan daun-daun di pohon itu bergoyang sehingga dapat menghasilkan bunyi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Apakah pengakuan orang-orang yang mengatakan daun pohon mangga berdesah tanpa sama sekali ada angin bisa diterima dan dipercaya? Berikut adalah beberapa tanggapan dan pertanyaan yang mencoba menganalisis dan menguji keakuratan pengakuan dan keakuratan fenomena tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Pertama, pengakuan itu berasal hanya dari beberapa orang dan tidak didukung oleh pengakuan yang sama dari lebih banyak orang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Kedua, sekalipun pengakuan itu berasal dari banyak orang, tidak serta-merta membuat pengakuan tersebut benar. Artinya, banyaknya orang tidak bisa dijadikan patokan untuk menyimpulkan bahwa sesuatu itu benar atau peristiwa tertentu sungguh-sungguh terjadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Ketiga, apa yang membuat daun pohon mangga milik Hamran Datundugon "istimewa" sehingga bisa mengeluarkan suara seperti orang berdesah sedangkan pohon mangga lainnya di seluruh dunia tidak bisa mengeluarkan suara seperti miliknya? Pertanyaan yang juga harus bisa dijawab adalah: mengapa daun pohon mangga tersebut mengeluarkan suara seperti desahan manusia?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Keempat, mengapa dikatakan ketika hari terang (bukan malam) daun pohon mangga itu tidak mengeluarkan suara? Mengapa ia hanya mengeluarkan desahan pada malam hari dan tidak pada siang hari?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Jika poin ketiga bisa dijawab, maka fenomena daun mangga yang berdesah itu bisa diperhitungkan sebagai peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi dan bukan rekaan orang-orang yang sengaja melakukannya, entah awalnya berpikir pohon itu bisa mengeluarkan suara seperti desahan manusia ataupun sengaja mengarang cerita sehingga pohon dan dirinya menjadi tenar. Namun, jika poin ketiga tidak bisa dijawab, maka pengakuan mengenai daun mangga yang dianggap bisa berdesah itu tidak lebih dari kebohongan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-958548224474262856?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/958548224474262856/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/10/daun-mangga-berdesah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/958548224474262856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/958548224474262856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/10/daun-mangga-berdesah.html' title='Daun Mangga Berdesah'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-1821482490977934344</id><published>2010-10-08T10:45:00.002+07:00</published><updated>2011-08-17T09:15:43.798+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UFO'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skeptisisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lompat pada Kesimpulan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berpikir Kritis'/><title type='text'>Lompat pada Kesimpulan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Begitu banyak orang, sengaja atau tidak sengaja, langsung lompat pada kesimpulan tanpa terlebih dulu menganalisis pendapat, penglihatan, atau pengetahuan yang ada. Beberapa hal bisa dianggap sebagai penyebab, seperti:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;1. Tiadanya pengetahuan yang memadai untuk melakukan pertimbangan dan penilaian.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt; Orang seperti ini nyaris tidak bisa melakukan pertimbangan dan penilaian karena kurangnya pengetahuan yang dimiliki. Jika orang dalam kategori ini tidak mau memperluas wawasannya, maka orang-orang dalam kategori ini cenderung mengikuti pandangan orang-orang tertentu (otoritas) dan/atau pandangan umum yang berlaku di masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;2. Kemalasan yang dimiliki seseorang sehingga ia sengaja tidak mau melakukan pertimbangan dan penilaian. Orang-orang dalam kategori ini enggan memperkaya wawasan dan pengetahuannya sehingga mereka mendasarkan pendapatnya pada pandangan otoritas tertentu dan/atau suara terbanyak (popularitas) suatu hal.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;3. Takut pada otoritas tertentu. Orang dalam kategori ini bukannya hormat pada otoritas tertentu, tetapi takut pada otoritas karena mungkin, takut dikucilkan. Ia takut dianggap dianggap sebagai pemberontak/pengkhianat/musuh karena memiliki pandangan yang berbeda dari otoritas itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;4. Pengetahuan yang tidak didasarkan pada pikiran kritis dan sikap skeptis. Berbeda dari poin no. 1, pada poin ini seseorang memiliki pengetahuan yang cukup mengenai suatu hal namun hal itu tidak ditopang oleh pemikiran kritis dan sikap skeptis. Artinya, pengetahuan yang dimilikinya itu tidak ditunjang oleh berbagai bukti relevan dan argumen jernih. Orang dalam kategori ini menganggap langsung menganggap bahwa pengetahuan yang ada (yang dimilikinya) sebagai kebenaran tanpa berusaha mengujinya terlebih dulu dan berulang kali.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;a href="http://tempointeraktif.com/hg/sains/2010/10/07/brk,20101007-283198,id.html" style="color: magenta;"&gt;Beberapa fenomena unik yang muncul pada malam hari di langit Cina yang terjadi belakangan dan diyakini banyak warga Cina sebagai penampakan UFO &lt;/a&gt;merupakan salah satu contoh di mana orang tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai suatu objek/fenomena (poin 1). Hal itu&amp;nbsp; diperparah oleh keengganan orang untuk memperkaya pengetahuan (poin 2) sehingga mereka pun mudah menyimpulkan sesuatu tanpa sebelumnya melakukan pertimbangan dan penilaian yang didasarkan pada berbagai bukti relevan dan argumen yang jernih. Akibatnya adalah kesimpulannya pun mudah ditebak dan sangat sederhana: fenomena unik yang terjadi di langit pada malam hari merupakan UFO. Itulah yang dinamakan dengan lompat pada kesimpulan tanpa sebelumnya melakukan pertimbangan dan peniliaian yang cermat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-1821482490977934344?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/1821482490977934344/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/10/lompat-pada-kesimpulan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/1821482490977934344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/1821482490977934344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/10/lompat-pada-kesimpulan.html' title='Lompat pada Kesimpulan'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-1890648161947448810</id><published>2010-10-06T23:53:00.004+07:00</published><updated>2011-08-18T09:32:46.517+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Solidaritas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Internasional'/><title type='text'>Aksi Solidaritas</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Beberapa Rabi dan warga Yahudi mendatangi desa Beit Fajjar setelah salah satu Masjid di wilayah Tepi Barat itu diserang dan dirusak sekelompok orang tidak dikenal, walaupun diduga kuat perbuatan keji tersebut dilakukan orang-orang Yahudi. Tindakan yang dilakukan oleh beberapa Rabi dan warga Yahudi yang mendatagi desa Beit Fajjar itu&amp;nbsp; dianggap sebagai gerakan solidaritas terhadap warga Muslim Palestina yang tinggal di desa itu secara khusus, dan wilayah Tepi Barat secara umum. &lt;a href="http://www.bbc.co.uk/news/world-middle-east-11477037" style="color: magenta;"&gt;Ketika melakukan aksi solidaritasnya tersebut mereka pun membawa selusin Al-Quran untuk disumbangkan bagi warga Muslim yang beribadat di Masjid yang mengalami serangan itu&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Di satu sisi aksi yang dilakukan beberapa Rabi dan warga Yahudi tersebut bisa dianggap sebagai tindakan solidaritas terhadap warga Muslim Palestina yang mengalami serangan. Setidaknya, tindakan mereka tersebut bisa memberikan gambaran kepada warga Muslim Palestina bahwa tidak semua orang Yahudi berlaku keras sehingga diharapkan warga Muslim Palestina tidak melakukan stereotipe dan takut, bahkan membenci semua orang Yahudi. Untuk hal ini tindakan beberapa Rabi dan warga Yahudi yang tinggal di sekitar desa Beit Fajjar tersebut perlu dijadikan teladan karena mereka berusaha menenangkan sesamanya yang mengalami tindak kekerasan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Namun di sisi lain, aksi solidaritas yang dilakukan beberapa Rabi dan warga Yahudi tersebut sangat mungkin menjadi sia-sia jika di antara pihak-pihak (Yahudi dan Palestina) yang bertikai terus melakukan aksi terornya dengan berdasar pada agama yang dianutnya. Ketika suatu tindakan yang mengancam kesejahteraan dan keselamatan orang lain didasarkan pada tradisi agama ("kitab suci" merupakan salah satu tradisi dalam agama), maka sesungguhnya agama tersebut telah gagal menuntun para pengikutnya untuk bertindak manusiawi. Agama yang selama ini diagung-agungkan dapat membawa manusia (baca: pengikutnya) menjadi lebih baik (manusiawi) ternyata malah membawa manusia pada jalan kekerasan. Jika demikian, agama tidak mampu membawa manusia pada keadaan yang lebih baik, tetapi sebaliknya, malah mengakibatkan manusia menjadi tidak manusiawi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Aksi solidaritas yang dilakukan beberapa Rabi dan warga Yahudi seperti dalam berita di atas akan sia-sia jika tidak didukung oleh pemerintah, baik pemerintah Israel maupun Palestina, yang lebih mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Ketika berbagai aksi kekerasan yang dilakukan atas nama agama masih terus terjadi, maka sudah waktunya bagi manusia untuk meninjau kembali agama (-agama) yang ada, apakah masih relevan atau tidak. Jika ya, mengapa masih terjadi kekerasan yang dilakukan berdasarkan agama. Jika tidak, berarti agama sudah usang dan tidak perlu dijadikan dasar lagi sebagai kehidupan manusia, karena jika tetap dijadikan dasar, mau sampai kapan korban kekerasan akibat agama terus berjatuhan?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-1890648161947448810?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/1890648161947448810/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/10/aksi-solidaritas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/1890648161947448810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/1890648161947448810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/10/aksi-solidaritas.html' title='Aksi Solidaritas'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-1158337026497029648</id><published>2010-10-05T12:07:00.004+07:00</published><updated>2011-08-17T09:23:23.717+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Paranormal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kuntilanak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skeptisisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Supernatural'/><title type='text'>Ribuan Orang Menonton Kuntilanak Terbang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Warga kota Mamuju, Propinsi Sulawesi Barat (Sulbar) geger karena menyaksikan kuntilanak yang melayang-layang di atas sebuah rumah kosong di Jalan Macciranae. Diakui warga setempat bahwa kuntilanak itu terbang dan menghilang di langit menjelang tengah malam. Para saksi mata mengaku jika peristiwa itu terjadi lebih dari satu kali alias berulang kali. &lt;a href="http://www.randi.org/site/index.php/swift-blog/1096-what-it-means-to-be-a-skeptic.html" style="color: magenta;"&gt;Dikabarkan juga bahwa peristiwa tersebut disaksikan bukan oleh beberapa atau puluhan orang, bahkan disaksikan ribuan orang&lt;/a&gt;. Apakah peristiwa penampakan kuntilanak yang disaksikan ribuan orang terbang berulang kali menjelang tengah malam itu bisa diperhitungkan sebagai sesuatu yang nyata? Apakah pengakuan ribuan orang yang menyaksikan peristiwa yang sama bisa dianggap sebagai kebenaran? Apakah pengakuan ribuan orang itu bisa dipercaya?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Mari kita perhatikan dua pengakuan dalam berita di atas, yang pertama berasal dari Iccal (alinea kedua). Dia mengatakan bahwa sudah beberapa hari belakangan (hingga Sabtu minggu lalu) warga sekitar tempat kejadian muncul dan terbangnya kuntilanak itu geger karena peristiwa tersebut. Pengakuan Iccal tersebut sama sekali tidak menyebutkan apakah ia sendiri pernah menyaksikan peristiwa yang sama melainkan hanya melaporkan bahwa warga dihebohkan oleh kemunculan kuntilanak. Oleh karena itulah ia tidak bisa dianggap sebagai saksi mata. Artinya, Iccal hanya melaporkan pengakuan yang didengar dari orang lain. Ini artinya ia tidak menguji informasih yang diperolehnya dari orang lain. Tidak begitu jelas apakah Iccal sendiri mempercayai pengkuan orang lain atau tidak mempercayainya. Dengan demikian, pengakuan Iccal tersebut tidak bisa dijadikan pegangan, patokan, apalagi dipercaya sebagai kebenaran karena ia hanya melaporkan pengakuan yang diperolehnya dari orang lain dan sama sekali tidak jelas, entah ia percaya ataupun tidak percaya pada informasi yang telah diperolehnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Pengakuan kedua berasal dari Bambang (khususnya alinea ketujuh). Berbeda dari Iccal yang sama sekali tidak jelas, apakah ia percaya atau tidak percaya pada kuntilanak yang terbang itu, sementara Bambang, mengaku telah melihat sendiri keberadaan kuntilanak itu. Meski ia mengaku telah melihat sendiri dengan jelas kuntilanak itu, namun ia tidak menjelaskan bentuk/rupa kuntilanak yang dilihatnya, apakah persis sama dengan bentuk/rupa yang sebelumnya dilihat warga, yakni "kain putih yang mengepak-ngepak" (alinea kelima) atau "kain putih melayang di udara yang terbang ke sana kemari" (alinea keenam). Pengakuan Bambang sama sekali tidak berisi informasi mengenai bentuk/rupa makhluk yang dilihatnya melainkan ia hanya mengatakan telah melihat makhluk tersebut. Dengan demikian, pengakuan Bambang pun tidak bisa diperhitungkan sebagai laporan yang kuat karena sama sekali tidak menyediakan informasi yang jelas. Artinya, pengakuan Bambang sangatlah akibat tidak didukung oleh informasi yang relevan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Hal berikut yang harus juga diperhatikan dari berita di atas adalah banyaknya orang (ribuan) yang mengaku telah melihat kuntilanak itu. Sebagian besar orang begitu mudah menerima/percaya pada pengakuan orang lain dan menganggap jika suatu peristiwa disaksikan orang banyak maka peristiwa tersebut benar atau sungguh-sungguh terjadi. Ini adalah salah satu kesesatan dalam berpikir karena mengandalkan banyaknya suara yang mengatakan hal yang sama mengenai fenomena tertentu. Mengapa sesat? &lt;a href="http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010_02_01_archive.html" style="color: magenta;"&gt;Karena belum tentu banyaknya suara (popularitas) sesuatu menjadikan hal tersebut sebagai kebenaran&lt;/a&gt;. Belum tentu suara terbanyak itu yang benar karena bisa saja yang banyak itu telah keliru atau bahkan salah melihat, menganalisis, dan menyimpulkan suatu objek atau fenomena. Inilah yang dinamakan dengan halusinasi massa ketika banyak orang menganggap telah melihat sesuatu dan memperhitungkannya sebagai kebenaran. Contoh: &lt;a href="http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/06/dibuat-oleh-apa-atau-siapa.html" style="color: magenta;"&gt;fenomena &lt;i&gt;crop circle&lt;/i&gt;&lt;/a&gt; yang awalnya dianggap dibuat oleh &lt;i&gt;alien&lt;/i&gt; ternyata dibuat oleh orang-orang yang memang sengaja membuatnya, entah untuk menipu orang lain (membuat heboh) ataupun sebagai suatu karya seni.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Dengan demikian, meski suatu peristiwa/fenomena diakui telah disaksikan oleh begitu banyak orang, hal tersebut tidak bisa dijadikan tolok ukur untuk menilai dan menyimpulkan hal tersebut sebagai kebenaran karena seringkali emosi seseorang terlibat bahkan menguasai orang-orang yang bersangkutan. Artinya, orang-orang tersebut memang sudah datang dengan keinginan yang kuat untuk melihat sesuatu yang sebelumnya sudah dipercayainya, atau setidaknya, mereka datang dengan keinginan yang begitu kuat untuk melihat sesuatu yang memang ingin dilihatnya. Mereka datang karena ingin memuaskan kepercayaan/keyakinan yang sudah dimiliknya terlebih dulu. Oleh karena itulah ketika mereka melihat sesuatu yang unik, janggal, atau aneh mereka segera menafsirkan dan menyimpulkan hal tersebut sebagai sesuatu yang sudah diyakininya. Dengan berdasar pada penilaian seperti inilah, maka fenomena kuntilanak yang melayang seperti di dalam berita di atas dianggap sebagai kebenaran oleh ribuan warga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Jadi, bagaimanakah sikap yang bijak dalam menanggapi berita-berita dan berbagai pengakuan orang khususnya yang berbau paranormal? Pertama, orang harus dengan sadar penuh mencurigai suara terbanyak karena hal tersebut bisa saja salah karena sesungguhnya yang dialami orang banyak itu adalah apa yang dinamakan dengan halusinasi. Kedua, orang harus mengawasi emosi yang seringkali mengendalikan dirinya. Artinya, seseorang harus sadar penuh bahwa ia tidak boleh melibatkan emosinya ketika menafsirkan, menilai, dan menyimpulkan suatu peristiwa/fenomena. Bagaimana cara mengawasi dan mengendalikan kedua hal tersebut? Gunakanlah ilmu pengetahuan untuk menilai setiap hal yang bernuansa paranormal dan supernatural, tentu, dengan ditopang oleh pikiran kritis dan sikap skeptis. Jika ini dilakukan maka tidak akan terjadi hal seperti yang dialami ribuan warga Sulbar yang menafsirkan dan menyimpulkan kain putih yang melayang di udara sebagai makhluk yang disebut dengan kuntilanak yang sampai beberapa hari membuat heboh warga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-1158337026497029648?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/1158337026497029648/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/10/menonton-kuntilanak-terbang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/1158337026497029648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/1158337026497029648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/10/menonton-kuntilanak-terbang.html' title='Ribuan Orang Menonton Kuntilanak Terbang'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-2536120302075724152</id><published>2010-10-04T20:15:00.004+07:00</published><updated>2011-08-17T15:19:32.142+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hantu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skeptisisme'/><title type='text'>Hantu Pendendam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Ternyata kemunculan hantu &lt;i&gt;pok-pok&lt;/i&gt; yang akhir pekan lalu meresahkan warga Kecamatan Sario, Kelurahan Titiwungen, sekitar Kompleks Rumah Makan Srisolo, Manado, Sulawesi Utara, masih berlanjut. &lt;a href="http://regional.kompas.com/read/2010/10/04/11104258/Satu.Hantu.Perempuan.Sudah.Dibunuh-7" style="color: magenta;"&gt;Hal ini dikarenakan ia (hantu &lt;i&gt;pok pok&lt;/i&gt; laki-laki) tersebut hendak membalaskan dendam kematian teman perempuannya karena dibunuh oleh &lt;i&gt;tonaas&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;. Berdasar berita tersebut baru diketahui, setidaknya oleh saya bahwa: pertama, hantu memiliki jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) seperti manusia dan, kedua, hantu memiliki "perasaan" balas dendam. Pertanyaan yang bisa diajukan berkaitan dengan pernyataan di atas adalah: bagaimana orang-orang yang mengaku melihat hantu &lt;i&gt;pok pok &lt;/i&gt;itu bisa sampai pada kesimpulan bahwa ada hantu &lt;i&gt;pok pok&lt;/i&gt; laki-laki dan perempuan? Bagaimana orang-orang itu bisa mengatakan jika hantu &lt;i&gt;pok pok&lt;/i&gt; yang datang hendak membalaskan dendam kematian temannya? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Selain hal (baru) di atas, berita di atas juga mengandung kejanggalan atau keanehan, berkaitan dengan lamanya peristiwa itu. Peristiwa kemunculan/penampakan hantu &lt;i&gt;pok pok &lt;/i&gt;tersebut sudah berlangsung sejak akhir pekan lalu dan peristiwa tersebut telah menarik perhatian banyak warga, bahkan dikabarkan puluhan kendaraan bermotor terlihat di sekitar lokasi peristiwa tersebut. Ini menandakan banyaknya orang yang mendatangi tempat tersebut karena sengaja hendak menyaksikan peristiwa itu. Jika demikian yang terjadi, masakan tidak ada seorang pun yang merekam peristiwa langka tersebut, entah dengan kamera ataupun telepon genggam. Tiadanya objek hasil rekaman - video dan/atau foto - bisa dianggap sangat janggal khususnya di era teknologi maju seperti sekarang ini, karena bertentangan dengan kebiasaan sebagian banyak &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;orang yang berusaha mengabadikan sebanyak atau sesering mungkin, khususnya hal-hal yang dianggapnya unik. Dengan demikian, tidak adanya satu pun video dan/atau foto bisa dikatakan sebagai sesuatu yang janggal sekali bahkan tidak mungkin terjadi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Hal aneh berikut yang sangat kentara mengenai adanya ketidakkonsistenan, setidaknya bisa dibaca melalui berita tersebut, di mana pada paragraf keempat dikatakan hantu &lt;i&gt;pok pok &lt;/i&gt;tersebut berjenis kelamin perempuan, namun pada paragraf ketujuh diakui hantu &lt;i&gt;pok pok &lt;/i&gt;itu berjenis kelamin laki-laki. Ketidakkonsistenan tersebut terjadi di antara orang-orang yang mengaku telah melihat keberadaan hantu tersebut. Jika demikian kenyataannya, maka pertanyaan yang segera mengemuka adalah: apakah di antara orang-orang itu melihat dua hantu yang berbeda? Jika ya, maka hal tersebut semakin menimbulkan keanehan karena sejak awal sepertinya warga hanya melihat atau merujuk pada hantu yang sama. Jika mereka sebenarnya melihat hantu yang sama, namun mengapa pengakuan di antara mereka tidak konsisten?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Dengan demikian, ada tiga kejanggalan/keanehan yang bisa ditemukan dalam berita di atas:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;1. Persoalan bagaimana mengenali, membedakan, dan menentukan mana jenis hantu laki-laki dan perempuan karena sama sekali tidak dijelaskan. Bahkan kalimat terakhir alinea keempat dikatakan "manusia jadi-jadian itu diperkirakan perempuan." Jelas, pernyataan tersebut sama sekali tidak bisa diperhitungkan sebagai kebenaran karena yang mengakuinya pun, entah sadar ataupun tidak sadar sesungguhnya tidak yakin pada jenis kelamin hantu &lt;i&gt;pok pok &lt;/i&gt;yang telah dilihatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;2. Sama sekali tidak adanya hasil rekaman yang berupa, baik foto maupun video merupakan yang sangat janggal, khususnya di zaman yang perkembangan teknologinya sangat pesat, di mana kebanyakan orang memiliki hasrat yang cukup kuat untuk mengabadikan berbagai yang terjadi di sekitarnya, terlebih jika hal tersebut dianggapnya unik atau langka. Tentu, keberadaan hantu &lt;i&gt;pok pok &lt;/i&gt;tergolong fenomena yang sangat unik dan langka, dan oleh karenanya bisa dipastikan banyak orang berusaha mengabadikannya. Namun kenyataannya, tidak ditemukan sebuah foto atau video yang jelas mengenai hantu tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;3. Adanya ketidakkonsistenan di antara orang-orang yang mengaku melihat hantu itu karena ada yang mengatakan hantu tersebut berjenis kelamin laki-laki, namun ada juga yang mengatakan hantu yang sama berjenis kelamin perempuan. Ini merupakan hal yang sangat janggal karena ketidakkonsistenan di antara orang-orang yang melihat diperhitungkan sebagai kelemahan. Artinya, semakin sulit untuk mempercayai pengakuan/laporan siapa atau manakah yang bisa dipercaya karena adanya dua laporan yang berbeda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Apakah memang ada yang dinamakan hantu &lt;i&gt;pok pok &lt;/i&gt;seperti diakui oleh warga Kecamatan Sario, Kelurahan Titiwungen, Manado, Sulawesi Utara? Setelah memperhatikan ketiga kejanggalan di atas yang sangat vital, maka bisa dikatakan hantu &lt;i&gt;pok pok &lt;/i&gt;hanyalah rekaan warga yang sejak semula memang sudah percaya dan/atau cenderung mau percaya pada sesuatu yang bernuansa paranormal. Dengan demikian, sama sekali tidak mengherankan jika banyak warga mudah percaya pada keberadaan hantu &lt;i&gt;pok pok&lt;/i&gt; tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-2536120302075724152?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/2536120302075724152/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/10/hantu-pendendam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/2536120302075724152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/2536120302075724152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/10/hantu-pendendam.html' title='Hantu Pendendam'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-619707760088470911</id><published>2010-10-04T00:35:00.006+07:00</published><updated>2011-08-17T15:19:52.430+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hantu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skeptisisme'/><title type='text'>Hantu Pok Pok</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;a href="http://regional.kompas.com/read/2010/10/03/00540387/11.Hantu.Tak.Berkepala.Balas.Dendam-7" style="color: magenta;"&gt;Warga Kecamatan Sario, Kelurahan Titiwungen, Manado, Sulawesi Utara, belakangan ini tidak tenang karena dihantui oleh kehadiran hantu &lt;i&gt;pok pok &lt;/i&gt;yang dipercaya suka menyantap bayi&lt;/a&gt;. Tidak dijelaskan lebih lanjut mengenai bentuk atau ukuran hantu &lt;i&gt;pok pok &lt;/i&gt;tersebut, namun warga yakin akan keberadaan makhluk tersebut. Tidak dijelaskan bentuk dan ukuran hantu &lt;i&gt;pok pok&lt;/i&gt; merupakan hal yang lain dari kebiasaan selama ini, di mana warga yang percaya pada keberadaan "makhluk halus" seperti kuntilanak dan pocong selalu memberikan keterangan mengenai bentuk dan ukurannya, bahkan dengan cukup rinci. Artinya, baru kali ini warga yang percaya pada keberadaan "makhluk halus" tertentu tidak memberikan keterangan mengenai bentuk dan ukuran makhluk yang dimaksud.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Sementara salah satu sumber yang sepertinya dipercaya oleh warga adalah pengakuan seorang remaja yang pernah menyaksikan perkelahian antara &lt;i&gt;pok pok &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;tonaas&lt;/i&gt;. Remaja tersebut bahkan mengaku bahwa ia menyaksikan perkelahian antara kuasa jahat (&lt;i&gt;pok pok&lt;/i&gt;) dan kuasa baik (&lt;i&gt;tonaas&lt;/i&gt;) itu yang awalnya terjadi di lapangan kosong hingga mereka saling berkejaran ke sebuah pekuburan yang ada pohon besarnya. Berdasar pada pengakuan remaja tersebut, maka bisa diajukan beberapa tanggapan/pertanyaan:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;1. Jika peristiwa tersebut terjadi di lapangan kosong, apakah ada orang lain yang menyaksikan peristiwa tersebut?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;2. Pada pukul berapakah peristiwa itu terjadi di lapangan kosong seperti pengakuan remaja tadi karena, entah terjadi pada waktu siang hari ataupun malam hari, masakan tidak ada orang lain yang menyaksikan peristiwa itu?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;3. Sepertinya peristiwa tersebut juga tidak terjadi dalam waktu yang singkat, maka kemungkinan remaja tersebut histeris (berteriak-teriak) sehingga menarik perhatian orang banyak umumnya terjadi, namun berdasar pada pengakuannya, sepertinya hanya dia yang menyaksikan peristiwa tersebut. Bukankah ini merupakan hal yang janggal karena dalam waktu yang cukup lama tidak ada orang lain yang menyaksikan peristiwa itu?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Berita sangat pendek mengenai keberadaan hantu &lt;i&gt;pok pok&amp;nbsp;&lt;/i&gt; yang dipercaya warga tersebut merupakan tipikal kisah-kisah "pertempuran" yang terjadi antara kuasa jahat dan kuasa baik, di mana kuasa jahat direpresentasikan melalui keberadaan hantu &lt;i&gt;pok pok&lt;/i&gt; sedangkan kuasa baik diwakili melalui keberadaan figur&lt;i&gt; &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Minahasa" style="color: magenta;"&gt;tonaas&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;. Hal ini bukanlah sesuatu yang janggal apalagi aneh karena pemikiran warga dan begitu banyak orang yang masih dikuasai oleh dualisme antara "baik" lawan "jahat," "dunia atas" dan "dunia bawah," dan "terang vs. "kegelapan." Sejauh kedua polarisasi tersebut dipahami secara metaforis, tidak terlalu bermasalah karena orang menganggap dan memahaminya sebagai gaya bercerita suatu tradisi di daerah tertentu. Namun, jika hal yang sama dipahami secara &lt;i&gt;letterlijk &lt;/i&gt;(harfiah), maka kisah seperti berita di atas-lah yang terjadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Berita di atas bukan saja akibat pemahaman yang harfiah terhadap tradisi yang turun-temurun (perhatikan: yang mengaku pernah melihat wujud&lt;i&gt; pok pok &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;tonaas&lt;/i&gt; hanyalah seorang remaja), namun terlebih, merupakan upaya mewujudkan tradisi yang selama ini diturunkan melalui kisah-kisah serupa (tradisi lisan dan mungkin juga tradisi tulisan) ke dalam ke dalam bentuk yang lebih nyata dan hidup. Oleh karena itulah warga yang awalnya sudah pernah mendengar cerita yang serupa sejak kecil atau remaja dari orang-orang tua atau kakek dan nenek menjadi semakin tertarik dan mudah percaya ketika objek yang sama muncul secara nyata dan diyakini hidup di sekitar mereka. Jika ini yang terjadi, maka reaksi warga kompleks Titiwungen Manado, Sulawesi Utara, sama sekali tidak aneh apalagi mengangetkan karena sejak awal mereka sudah pernah mendengar kisah serupa yang kemudian dinyatakan "hidup" di sekitar mereka. Inilah yang dinamakan: awalnya hanya "hidup" dalam pikiran dan dunia imajinasi, namun kemudian menjadi nyata dalam kehidupan yang sesungguhnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-619707760088470911?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/619707760088470911/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/10/hantu-pok-pok.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/619707760088470911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/619707760088470911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/10/hantu-pok-pok.html' title='Hantu Pok Pok'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-3952909958787662508</id><published>2010-10-01T11:48:00.002+07:00</published><updated>2011-08-17T09:29:59.693+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesurupan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Paranormal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Guru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skeptisisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Salah Panggil</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Setelah "kasus" &lt;a href="http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/08/salah-penanganan.html" style="color: magenta;"&gt;salah penanganan&lt;/a&gt; yang dilakukan sebuah sekolah dengan memanggil polisi untuk menangani masalah psikologis yang dialami murid-muridnya, sekarang kasus yang serupa dilakukan sekolah lainnya ketika berusaha menangani permasalahan yang sama. &lt;a href="http://id.news.yahoo.com/lptn/20100930/tid-belasan-siswa-sd-di-jambi-kesurupan-c237b35.html" style="color: magenta;"&gt;Peristiwanya adalah ketika belasan murid salah satu SD di Kota Jambi mengalami kesurupan&lt;/a&gt;. Seperti yang dipahami dan diyakini kebanyakan orang lainnya, di mana fenomena kesurupan diakibatkan oleh makhluk halus yang masuk dan mengganggu jasmani seseorang, dan karenanya sekolah tersebut memanggil "orang pintar" untuk mengusir makhluk halus tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Tindakan yang dilakukan sekolah tersebut sangatlah tidak bijak dan sama sekali tidak tepat karena menunjukkan bahwa sekolah sama sekali tidak mengetahui permasalahan sesungguhnya yang telah terjadi. Oleh karena itulah para guru bukan hanya perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan, seperti: mendidik anak-anak, bagaimana menangani anak-anak yang membutuhkan penanganan khusus, dan menyusun rencana pengajaran, namun para guru perlu bahkan sangat perlu (melihat banyaknya kasus "kesurupan" yang dialami anak-anak di lingkungan sekolah) dibekali dengan pengetahuan psikologi dasar khususnya psikologi anak dan remaja. Ini dilakukan dengan harapan agar pihak sekolah mampu memberikan penanganan yang bijak dan cermat setiap kali murid (-muridnya) mengalami gangguan, tekanan, atau masalah psikologis di sekolah. Tentu hal seperti ini perlu didukung oleh pemerintah, khususnya Departemen Pendidikan untuk menjadi fasilitator, penyedia, atau&amp;nbsp; penyelenggara bagi pendidikan atau pelatihan bagi para guru terkait dengan psikologi dasar tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Jika setiap warga negara Indonesia termasuk pemerintah menganggap bahwa pendidikan adalah hal dasariah yang sangat penting bagi setiap warga (baca: anak), maka penanganan yang bijak dan tepat terhadap anak-anak merupakan sesuatu yang sangat penting dan mendesak untuk direalisasikan, terlebih ketika anak-anak mengalami peristiwa tertentu di lingkungan sekolah. Tentu, penanganan yang bijak dan tepat terhadap anak-anak yang dilakukan di sekolah sudah seharusnya dilakukan dengan berdasar pada pengetahuan relevan yang ditopang oleh pemikiran kritis yang memadai. Pengetahuan relevan yang dimaksud dalam konteks ini adalah dengan memperhatikan perkembangan psikologis anak/remaja dan konteks sosial di mana mereka hidup, baik di lingkungan sekolah bersama teman-temannya, hubungannya dengan para guru, dan tugas-tugas sekolah, maupun di rumah bersama keluarga, pergaulan di sekitar rumah, dan tugas-tugas yang dikerjakan di rumah. Ketika perkembangan psikologis anak/remaja diperhatikan dalam kaitannya dengan konteks sosial anak/remaja yang luas, maka diharapkan para guru mampu memahami sedikit-banyak murid-muridnya. Tentu tidak secara keseluruhan dan mendalam, namun setidaknya, para guru cukup bisa mengetahui ketika murid (-muridnya) mengalami masalah psikologis tertentu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Tawaran atau saran di atas bukanlah suatu &lt;i&gt;mission impossible&lt;/i&gt; atau sesuatu yang mengawang-awang, namun sebaliknya, suatu yang sangat masuk akal, realistis, dan tidak sulit untuk diejawantahkan. Hal yang dibutuhkan adalah kemauan dan komitmen untuk memperlakukan dan menangani anak-anak didik dengan bijak dan tepat yang semuanya dilandaskan pada pengetahuan yang relevan dan pemikiran kritis yang memadai. Jika ini bisa dilakukan maka niscaya pihak sekolah tidak perlu dan tidak akan memanggil "orang pintar" ke sekolah karena yang dialami anak-anak itu sesungguhnya adalah perihal psikologis bukannya sesuatu yang bernuansa paranormal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-3952909958787662508?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/3952909958787662508/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/10/salah-panggil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/3952909958787662508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/3952909958787662508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/10/salah-panggil.html' title='Salah Panggil'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-6864654560343880217</id><published>2010-09-30T16:50:00.001+07:00</published><updated>2011-08-17T09:33:45.909+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Survei'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ateisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ilmu Pengetahuan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Iman'/><title type='text'>Iman &gt;&lt; Pengetahuan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Banyak orang seringkali dengan keliru menghubungkan antara keberimanan dan pengetahuan yang dimiliki seseorang karena kedua hal tersebut sesungguhnya seringkali tidak saling mempengaruhi. &lt;a href="http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/internasional/10/09/29/137293-ternyatawarga-as-yang-atheis-melek-agama-termasuk-islam" style="color: magenta;"&gt;Inilah yang terjadi di AS - berdasar pada sebuah survei - di mana kaum ateis AS memiliki pengetahuan yang cukup, bahkan mereka memiliki pengetahuan agama (dhi. Agama Kristen) yang lebih dalam daripada kaum teis dan/atau beragama itu sendiri&lt;/a&gt;. Hal ini menegaskan pernyataan seorang fisikawan AS yang mengatakan bahwa warga AS - walaupun bukanlah keseluruhan warga AS - tertarik untuk mengetahui landasan agama Kristen.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Berdasar pada hasil sebuah survei yang dilakukan dari Mei sampai Juli tahun ini dan pernyataan fisikawan tadi, orang bisa melihat bahwa yang dibicarakan adalah "pengetahuan," bukannya "iman" atau keberimanan. Jadi, kata kuncinya adalah "pengetahuan" dan bukannya "iman." Meski pengetahuan dalam pengertian tertentu (dibentuk/dipengaruhi oleh tradisi atau otoritas) yang dimiliki seseorang bisa saja mempengaruhi keberimanannya, entah mempertegas ataupun malah menolak imannya, namun seringkali atau bahkan lebih sering jika iman dan pengetahuan tidak saling mempengaruhi alias tidak berkaitan. Alasannya? Lihat saja banyaknya orang yang beragama dan/atau bertuhan, entah secara sadar ataupun tidak sadar, secara tersistematisasi (belajar serius) ataupun hanya ikut-ikutan karena tradisi atau diturunkan beragama karena keturunan. Dengan masih banyaknya orang yang, entah yang mengaku ataupun tidak mengaku beragama dan/atau bertuhan, maka dengan demikian bisa dikatakan bahwa iman seseorang tidak dipengaruhi oleh pengetahuan walaupun pengetahuan (berbagai bukti yang ada) yang bertolak belakang dengan iman seseorang sangatlah banyak. Namun hal tersebut tidak membuat banyak orang beragama/bertuhan mengubah pendirian/pandangan/kepercayaannya terhadap agama dan/atau keberimanan yang dianutnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Bagaimana dengan orang-orang yang mengubah pendirian atau kepercayaannya terhadap agamanya sendiri, entah dengan memeluk agama lain (pindah agama) ataupun meninggalkan agama sama sekali dengan menjadi, misalnya, ateis? Bukankah orang-orang yang berpindah ataupun meninggalkan agama, sedikit-banyaknya dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimilikinya? Kemungkinan besar ya, namun bukan pengetahuan-lah yang menyebabkan mereka memutuskan untuk mengubah pandangan dan pendiriannya melainkan argumentasi-argumentasi yang berasal dari pemikiran akal sehat mereka. Pengetahuan pada dirinya sendiri sesungguhnya tidak memiliki kekuatan atau pengaruh apapun pada diri seseorang jika orang tersebut tidak mengolah pikiran dan melakukan permenungan. (Permenungan yang dimaksud di sini bukanlah berfokus pada meditasi walaupun hal itu sah-sah saja dilakukan orang dan membuatnya mengubah pandangan dan pendiriannya setelah bermeditasi. "Permenungan" yang dimaksud di sini adalah melakukan analisis yang serius dan mendalam terhadap objek tertentu.)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Dengan demikian, pengetahuan saja tidak cukup mampu mengubah pandangan seseorang karena yang dibutuhkan lebih dari itu. Oleh karena itu, yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk berpikir secara cermat dan tajam serta keberanian menyatakan diri dengan jelas dan tegas, setidaknya, terhadap diri sendiri, di mana semuanya itu dilakukan dengan kesadaran penuh dan tersistematisasi dengan baik. Apapun posisi seseorang, entah ia adalah seorang percaya yang beriman terhadap figur yang disebut, dipanggil, dan dinamakan Tuhan atau Allah&amp;nbsp; atau Brahma atau yang ilahi, ataupun ia seorang ateis yang tidak mempercayai keberadaan figur yang lebih "tinggi" yang melampaui, bahkan mengendalikan hidup dan alam semesta ini, orang tersebut harus mampu menjelaskan posisinya tersebut dengan jelas dan tegas (sekali lagi, setidaknya, pada dirinya sendiri) dengan mengemukakan berbagai argumentasi yang runut, masuk akal, dan jelas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Apakah dengan demikian pengetahuan tidak diperlukan karena tidak penting? Pengetahuan sangatlah penting karena bisa merangsang orang untuk berpikir lebih dalam sekaligus luas dan tiada henti. Namun, pengetahuan jika tidak ditopang oleh argumentasi-argumentasi yang runut dan jelas serta keputusan diri yang dilakukan secara sadar, mandiri, dan disistematasi, maka sesungguhnya pengetahuan menjadi sesuatu yang kosong dan sia-sia belaka. Pengetahuan pada dirinya sendiri merupakan sesuatu yang baik, namun yang baik itu menjadi semakin nyata dan bermanfaat ketika orang mampu menyerap dan menggunakan pengetahuan itu untuk menjelaskan posisinya secara sadar dan bertanggung jawab. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-6864654560343880217?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/6864654560343880217/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/iman-pengetahuan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/6864654560343880217'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/6864654560343880217'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/iman-pengetahuan.html' title='Iman &gt;&lt; Pengetahuan'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-6562520171504319385</id><published>2010-09-29T10:36:00.005+07:00</published><updated>2011-08-18T09:10:16.844+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritisisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Demonstrasi'/><title type='text'>Panik Akibat Dugaan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;a href="http://id.news.yahoo.com/lptn/20100928/tid-demo-fpi-tolak-pemutaran-film-homose-e390447.html" style="color: magenta;"&gt;FPI melancarkan protes dan demonstrasi terhadap pemutaran film yang dilakukan di Pusat Kebudayaan Jerman Goethe House, Jakarta Pusat, karena mereka &lt;i&gt;menduga&lt;/i&gt; film tersebut berisi kampanye tentang hubungan sesama jenis&lt;/a&gt;. Mereka menganggap film tersebut sangat tidak sesuai dengan ajaran agama dan dapat merusak moral bangsa terutama generasi muda. Tindakan FPI tersebut sangatlah konyol karena sangat mungkin belum ada di antara mereka yang menonton film itu, namun sudah melancarkan aksi. Sikap inilah yang masih banyak dianut orang di mana mereka belum membaca, menyaksikan, atau melihatnya sesuatu melainkan&amp;nbsp; hanya mendengarnya dari orang lain (komentar orang bahkan gosip), tetapi sudah memberikan komentar, bahkan aksi protes yang hanya berdasar pada pengamatan orang lain. Inilah konyolnya di mana banyak orang bersikap &lt;i&gt;sok &lt;/i&gt;tahu terhadap sesuatu padahal hal itu sama sekali tidak diketahuinya atau ia memiliki pengetahuan yang minim mengenai hal itu, tetapi bersikap seolah-olah mereka mengetahui betul hal tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Sesungguhnya tindakan seperti yang dilakukan FPI tidaklah aneh, namun cukup membuat kening mengerenyit akibat aneh, bahkan mengakibatkan tawa sangking konyol. Ditambah tindakan FPI yang memprotes keras pemutaran film itu karena mengaitkannya dengan agama dan moral bangsa secara keseluruhan. Sepertinya mereka lupa atau memang tidak tahu jika banyak hal dalam seni yang tidak sejajar dengan agama alias bertentangan. Jangan lupa, film yang diputar dan kemungkinan besar juga akan diputar di pusat-pusat kebudayaan lainnya di Jakarta itu memang bukan film agama. Mungkin saja film itu memang berdasar pada kisah nyata, namun tetap saja itu hanya merupakan sebuah film.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Dengan demikian, pahamilah film sebagai sebuah karya seni bukan sejarah sekalipun film tersebut berkisah tentang sejarah. Artinya, dalam sebuah karya seni ada unsur-unsur yang tidak bisa dipahami melalui sudut agama karena memang sudut pandangnya yang berbeda. Agama pun merupakan cara pandang orang terhadap sesuatu yang coba dipahami dan direfleksikan berdasar konteks di mana orang itu berada. Demikian pun dengan film, karena mencoba menampilkan segi tertentu mengenai sebuah objek atau suatu peristiwa. Oleh karena itu, pandangan dan penilaian masing-masing orang tentu berbeda. Kesalahannya - seperti yang dilakukan FPI - ketika orang mencampuradukkan, bahkan memasukkan sudut pandangnya terhadap sesuatu yang dibaca, dilihat, atau disaksikannya. Tanpa disadari orang tersebut sesungguhnya ia telah memperkosa sebuah ide atau objek yang dibaca, dilihat, atau disaksikannya karena ia berusaha memasukkan pemikirannya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Kekonyolan yang juga banyak dilakukan orang - seperti juga dilakukan FPI - adalah menarik suatu peristiwa "kecil" menjadi persoalan yang begitu besar atau luas. Yang dilakukan oleh Goethe House Institute Jakarta hanyalah memutar sebuah atau beberapa film. Namun, hal itu dianggap FPI (mungkin juga banyak orang lainnya) bisa mempengaruhi pikiran banyak orang, tidak peduli apakah mereka menonton atau tidak menonton film (-film) tersebut. Apakah sebuah atau beberapa film mempengaruhi pikiran orang? Sangat mungkin. Namun apakah sebuah atau beberapa film mempengaruhi masyarakat? Sangat diragukan. Dalam konteks Indonesia, film tidak mempengaruhi masyarakat secara luas, namun individu-individu-lah yang mempengaruhi masyarakat secara luas. Artinya, individu-individu tertentu yang memiliki dan dianggap sebagai otoritas dalam masyarakat yang sangat bisa memberikan pengaruh yang lebih luas, dimulai dari kelompoknya sendiri. Dengan demikian, dalam konteks Indonesia, kekuatan sebuah atau beberapa film untuk mempengaruhi pikiran masyarakat Indonesia tidaklah begitu kuat/besar seperti yang dipikir, diduga, dianggap, atau dipercaya FPI dan&amp;nbsp; mungkin banyak orang lainnya karena yang memiliki kekuatan yang sangat besar untuk mempengaruhi bahkan mengendalikan pikiran masyarakat adalah otoritas-otoritas tertentu dalam masyarakat yang bergerak mulai dari kelompoknya sendiri. Jelas, sikap FPI menunjukkan kepanikan yang berlebihan terhadap sesuatu yang sesungguhnya "kecil" karena kemungkinannya untuk mempengaruhi masyarakat luas sangatlah tipis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Terakhir, apa yang dilakukan FPI - terlepas dari film yang telah dan akan diputar - malah sangat mungkin akan membuat banyak orang yang tidak mengetahui film tersebut (karena awalnya hanya diputar di pusat-pusat kebudayaan di Jakarta) penasaran ingin menyaksikan film tersebut karena rencananya film tersebut akan ditayangkan di bioskop-bioskop, selain juga di kampus-kampus. Jadi, yang dilakukan FPI bukannya menghambat atau menutup "akses" kepada orang banyak, tetapi sebaliknya, mereka malah membuat banyak orang tahu mengenai "keberadaan" film tersebut dan sangat mungkin akan membuat orang banyak ingin menyaksikan film tersebut, entah di bioskop ataupun membeli DVD bajakannya. Jika ini yang terjadi, maka ucapan "terima kasih" tidak layak dilayangkan kepada FPI karena mereka telah membuat film itu menjadi diketahui masyarakat (baca: warga Jakarta) luas. Jika film yang diputar berjudul &lt;i&gt;Fucking Different Tel Aviv&lt;/i&gt;, maka kata-kata yang tepat untuk tindakan FPI tersebut adalah: &lt;i&gt;Fucking Silly &lt;/i&gt;&lt;i&gt;FPI&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-6562520171504319385?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/6562520171504319385/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/panik-akibat-dugaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/6562520171504319385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/6562520171504319385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/panik-akibat-dugaan.html' title='Panik Akibat Dugaan'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-3838205048534460197</id><published>2010-09-28T00:17:00.003+07:00</published><updated>2011-08-17T09:35:46.531+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UFO'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skeptisisme'/><title type='text'>Mengapa Baru Sekarang?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;a href="http://english.kompas.com/read/2010/09/27/06015562/UFOs.Attacked.U.S..Nuclear.Missile.Sites-14" style="color: magenta;"&gt;Enam mantan anggota Angkatan Udara AS tidak lama lagi akan mengungkapkan kepada umum bahwa UFO beberapa puluh tahun lalu telah merusak fasilitas persenjataan nuklir AS&lt;/a&gt;. Mereka mengatakan bahwa puluhan tahun lalu UFO pernah beberapa kali mengganggu bahkan mengacaukan peralatan nuklir AS, seperti yang terjadi di Pangkalan Udara Malmstrom di Montana tahun 1967 dan yang terjadi pada tahun 1948 (tempatnya tidak disebutkan). Mereka juga hendak mengungkapkan bahwa selama ini Angkatan Udara AS telah berbohong mengenai keamanan nasional akibat munculnya benda di angkasa yang berada di dekat pangkalan-pangkalan nuklir AS. Oleh karena itulah mereka hendak membongkar berbagai kebohongan yang telah dilakukan pihak Angkatan Udara AS mengenai keberadaan UFO dan dampaknya terhadap keamanan nasional AS.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Beberapa pertanyaan sekaligus tanggapan yang segera muncul setelah membaca berita tersebut adalah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;1. Mengapa baru sekarang keenam mantan anggota Angkatan Udara AS itu akan mengungkapkan fakta mengenai keberadaan UFO yang diakui telah beberapa kali mengganggu bahkan mengacaukan peralatan nuklir AS? Bahkan berdasar pada pengakuan mereka kedatangan UFO sudah terjadi sejak tahun 1948. Mengapa setelah lebih dari 60 tahun mereka baru akan mengungkapkan hal tersebut kepada khalayak? Bukankah waktu lebih dari 60 tahun itu terlalu lama untuk menyimpan sebuah cerita atau kenyataan yang bisa menghebohkan sangat banyak orang? Mengapa baru sekarang?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;2. Siapa yang selama ini telah membuat mereka bungkam sehingga mereka tidak berani mengutarakan apa yang memang telah mereka lihat puluhan tahun lalu itu? Bahkan mulut mereka dibungkam sampai lebih dari 60 tahun? Apakah Angkatan Bersenjata atau pemerintah AS yang telah membuat mereka bungkam hingga begitu lama? Dan setelah pensiun mereka baru berani mengutarakan yang sesungguhnya. Mungkin saja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;3. Jika seperti yang dikatakan mereka bahwa selama ini Angkatan Udara AS telah berbohong mengenai keberadaan UFO dan dampaknya terhadap keamanan nasional AS, ini berarti Angkatan Udara AS mengetahui bahwa memang UFO dan makhluk luar angkasa itu memang sungguh-sungguh ada bahkan telah beberapa kali memasuki bumi (AS) termasuk mengganggu dan mengacaukan peralatan nuklir AS. Jika demikian, mengapa Angkatan Udara AS berbohong mengenai keberadaan UFO dan "kunjungan"-nya ke pangkalan-pangkalan nuklir di&amp;nbsp; AS? Apa manfaat Angkatan Udara AS dengan melakukan kebohongan seperti itu? Apa kepentingan Angkatan Udara AS dalam "bisnis" UFO tersebut dan seberapa penting Angkatan Udara AS sampai perlu berbohong mengenai keberadaan UFO bahkan sampai dampaknya pada keamanan nasional AS. Bukannya selama ini pemerintah AS malah dikenal dengan kehebohannya jika berkaitan dengan masalah keamanan, termasuk "keamanan" bangsa lain. Jika pemerintah AS menganggap UFO penting dalam kaitannya dengan keamanan nasional, maka hampir bisa dipastikan pemerintah akan menginformasikannya terhadap warganya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Pemerintah AS memang dikenal suka menyembunyikan informasi, namun selama ini selalu saja informasi itu akhirnya diketahui (baca: bocor) sehingga dunia pun tahu karena ada orang dalam yang akhirnya "berkicau." Jika demikian, mengapa informasi mengenai kedatangan UFO kemudian mengacaukan peralatan nuklir AS tersebut bisa tersimpan begitu rapi sampai tidak diketahui sama sekali sekalipun oleh warga AS sendiri. Suatu hal yang nyaris tidak mungkin terjadi, khususnya dalam negara seperti AS yang cukup terkenal terbuka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;4. Keenam mantan anggota Angkatan Udara AS tersebut menyebut tahun 1967 di mana menurut pengakuan mereka UFO telah mengacaukan fasilitas nuklir yang terdapa di Pangkalan Udara Malmstrom di Montana. &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Vietnam_War" style="color: magenta;"&gt;Pada tahun itu AS terlibat - lebih tepatnya melibatkan diri - dalam konflik Vietnam dengan mengirim banyak pasukan ke sana&lt;/a&gt;. Dalam perang Vietnam tersebut Amerika kehilangan begitu banyak tentara, bahkan bisa dikatakan AS mengalami kekalahan dalam perang tersebut karena dampak yang psikologis yang begitu hebat terhadap pemerintah AS (diprotes keras oleh warganya sendiri karena turut campur dalam urusan politik negara lain yang akhirnya mengakibatkan kerugian fisik dan psikologis).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Berdasar kenyataan seperti itu bisa saja dikatakan bahwa keenam pensiunan Angkatan Udara AS itu dengan sengaja menyebut tahun 1967 karena ketika itu AS sedang getol-getolnya terlibat dalam perang Vietnam, namun mengalami kekalahan. Seandainya saja UFO pada tahun itu tidak mengganggu dan mengacaukan fasilitas nuklir di AS, maka mungkin saja akhir perang Vietnam bisa berbeda karena nuklir AS bisa diluncurkan dari pangkalannya. Tentu saja, analisis seperti ini bisa dianggap gila atau berlebihan oleh banyak orang, namun setidaknya, analisis seperti itu tidak mengada-ada karena didasarkan pada latar belakang relevan yang terjadi ketika itu. Artinya, pada tahun itu (1967) AS tidak sedang adem-ayem melainkan sedang sibuk dan heboh berperang di Vietnam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Setelah memperhatikan beberapa argumen di atas maka jelas ada beberapa keberatan terhadap pengakuan keenam pensiunan Angkatan Udara AS mengenai keberadaan bahkan kedatangan UFO yang diakui telah mengacaukan fasilitas nuklir AS. Keempat argumen di atas untuk sementara mengatakan bahwa niat tertentu yang diupayakan oleh keenam orang tersebut, entah mereka melakukannya sendiri ataupun didukung oleh pihak lain yang memiliki kepentingan apakah itu politik atau memang sekadar cari perhatian atau hendak membuat heboh dengan "teori" mengenai UFO-nya. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa pernyataan keenam orang tadi mengenai keberadaan dan apa yang telah dilakukan UFO di negeri Barrack Obama pada puluhan tahun yang lampau sangat diragukan kebenarannya karena sangat lemah akibat tidak didukung oleh argumen yang kuat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-3838205048534460197?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/3838205048534460197/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/mengapa-baru-sekarang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/3838205048534460197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/3838205048534460197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/mengapa-baru-sekarang.html' title='Mengapa Baru Sekarang?'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-489599919577342021</id><published>2010-09-26T19:43:00.001+07:00</published><updated>2011-08-17T09:37:21.357+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritisisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Doa'/><title type='text'>Apa Hubungannya?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Berita mengenai aksi Patrick Mahoney - seorang pendeta - yang membagi-bagikan Al-Quran ke seluruh gereja yang ada di New York memang terdengar cukup melegakan, khususnya bagi kaum Muslim dan Nasrani AS yang beberapa minggu lalu sangat resah dengan rencana Terry Jones yang akan membakar Al-Quran (&lt;a href="http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/perintah-tuhan.html" style="color: magenta;"&gt;walaupun kabar terakhir mengatakan bahwa Jones urung melakukan rencananya tersebut&lt;/a&gt;). Namun, tujuan membagi-bagikan Al-Quran ke gereja-gereja di New York itu sangatlah aneh karena, &lt;a href="http://id.news.yahoo.com/repu/20100926/twl-tandingi-terry-jones-patrick-mahoney-4d6e3f4.html" style="color: magenta;"&gt;menurut Mahoney, pembagian Al-Quran itu dilakukan agar kaum Nasrani dapat mendoakan kaum Muslim&lt;/a&gt;.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Setidaknya dua pertanyaan segera muncul setelah membaca kalimat tersebut:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;1. Apa hubungan antara "kitab suci" dengan doa? Apakah ini mengandaikan bahwa orang beragama/bertuhan tidak bisa berdoa tanpa adanya "kitab suci"? Ditambah, "kitab suci" yang dimaksud adalah milik agama lain. Bukankah orang beragama/bertuhan tetap bisa mendoakan orang lain (mereka yang beragama lain) meski tanpa memiliki "kitab suci"-nya karena doa adalah perkara iman yang tidak perlu melibatkan "kitab suci."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;2. Apakah warga New York yang pergi ke gereja (Kristen) dan menerima Al-Quran bisa membacanya karena buku itu ditulis dalam bahasa Arab? Kemungkinan besar tidak. Jika demikian, apa gunanya Al-Quran di tangan orang-orang (baca: Kristen) yang tidak memiliki kemampuan membaca dan memahami bahasa Arab? Bukankah tindakan tersebut hanyalah kesia-siaan belaka?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Jelas, tindakan Mahoney tidak lebih dari suatu upaya untuk "mendinginkan" suasana keberagamaan di AS, yang di satu sisi ada baiknya. Namun di sisi lain, tindakannya tersebut bisa tidak memiliki arti atau manfaat apapun karena tidak adanya hubungan antara tindakan dan tujuannya melakukan hal tersebut. Selain itu, jika ia bersama kaum Nasrani dan Muslim, baik para pemimpin agama Kristen maupun Islam AS memang ingin meredam suasana panas yang belakangan diakibatkan oleh pernyataan dan tindakan para pemimpin Kristen di sana, lebih baik dilakukan tindakan yang lebih konkret, misalnya: dialog antar para penganut agama dan kepercayaan di AS dan/atau mendesak pemerintah AS menindak tegas orang/kelompok tertentu yang akan dan telah dianggap mengganggu kerukunan umat beragama di AS.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Dengan demikian, ketimbang melakukan tindakan yang tidak lebih dari sekadar simbolik yang tak berarti karena tidak menyentuh pada akar permasalahan yang ada dengan membagi-bagikan Al-Quran kepada umat Kristen, maka umat beragama di AS perlu melakukan dialog terbuka antar pemeluk agama sehingga masing-masing pihak bisa lebih mengenal dan memahami agama dan kepercayaan orang lain. Jika hal ini tidak berhasil, maka sangat tepatlah untuk mengatakan bahwa demikian agama telah gagal menciptakan suasana yang tenteram karena yang terjadi malah sebaliknya, saling ancam, serang, bahkan bunuh di antara orang-orang beragama yang selalu mengaku bermoral.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Jika ini yang terjadi, maka lebih baik orang-orang beragama mengakui saja bahwa agama tidak berfungsi karena terbukti ajaran-ajarannya bukannya membuat manusia semakin baik melainkan membuat manusia berpikir sempit dan dangkal. Ketika kenyataan yang sangat memprihatinkan ini terjadi maka sudah waktunya bagi manusia (orang-orang beragama) mulai mencari alternatif lain, pertama-tama meninggalkan agamanya untuk kemudian, misalnya, menjadi seorang sekularis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-489599919577342021?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/489599919577342021/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/apa-hubungannya.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/489599919577342021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/489599919577342021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/apa-hubungannya.html' title='Apa Hubungannya?'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-2591539767592643768</id><published>2010-09-26T10:02:00.002+07:00</published><updated>2011-08-17T09:38:14.164+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembunuhan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritisisme'/><title type='text'>Bunuh yang Seagama</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Tindakan mengadili, mengucilkan, menyiksa, bahkan membunuh orang yang beragama lain sudah banyak terjadi di dunia ini dan sudah menjadi "bagian" dalam kehidupan orang-orang yang mengaku bermoral karena memiliki "kitab suci." Oleh karena itu, tidak aneh apalagi mengagetkan lagi jika manusia membunuh sesamanya karena sesamanya itu memiliki agama yang berbeda dari si pembunuh, dan si pembunuh menganggap bahwa agama orang lain tidak benar sehingga ia pun tega membunuh sesamanya itu. Ini dilakukan karena kepercayaan seseorang yang begitu kuat terhadap kitab yang dianggapnya suci karena berasal dari yang ilahi. Namun sangat aneh bahkan cukup mengagetkan jika pembunuhan dilakukan terhadap orang memiliki agama yang sama. Pembunuhan dilakukan karena seseorang/kelompok menganggap orang/kelompok lain tidak atau kurang beriman atau tidak mematuhi ajaran yang benar. &lt;a href="http://internasional.kompas.com/read/2010/09/25/02494494/Dianggap.Tak.Islami..Guru.Ditembak.Mati" style="color: magenta;"&gt;Peristiwa inilah yang beberapa hari lalu terjadi di Dagestan, Rusia&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Jika kelompok yang dengan tega telah membunuh sesamanya yang beragama sama dengan mereka mengatakan bahwa mereka (orang-orang yang dibunuh) tidak mematuhi agama yang benar, bukankah mereka beragama dan beriman yang sama? Bukankah mereka membaca, menaati, dan berpedoman pada kitab yang sama? Jika mereka tidak, apakah ada lebih dari satu ajaran dalam agama yang sama itu? Jika dalam agama yang sama terdapat ajaran yang berbeda, bagaimana cara mengukur atau menilai ajaran mana yang lebih benar dari ajaran lainnya? Apakah ukuran yang digunakan untuk menilai ajaran yang satu lebih baik dari ajaran lainnya? Apakah ukuran yang dipakai untuk menilai adalah buku yang dianggap "suci" oleh orang-orang yang mempercayainya? Sekali lagi, bukankah mereka menggunakan buku yang sama? Lalu apakah ukurannya?&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Banyak orang tidak menyadari bahwa agama merupakan hasil tafsir masing-masing orang atau kelompok terhadap sesuatu yang dianggapnya "suci," berada melampaui dirinya, mengatur hidupnya, bahkan berkuasa atas kehidupannya. Semuanya itu berdasar pada buku yang dianggapnya "suci." Oleh karena mereka membaca berbagai kisah masa lalu dan peristiwa yang dipercayanya sebagai mukjizat, maka orang-orang itu meyakini bahwa ada sesuatu yang berada di luar dan di atas diri dan hidupnya. Orang-orang beragama percaya apa yang terjadi pada masa yang sangat lampau merupakan peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi, bahkan terjadi juga saat ini ketika mereka membaca kisah-kisah tersebut. Mereka tidak menyadari bahwa kisah-kisah itu juga merupakan hasil tafsir terhadap peristiwa yang sama karena sesungguhnya kita tidak bisa mengetahui secara pasti apakah peristiwa-peristiwa itu sungguh terjadi atau tidak.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Oleh karena agama hanyalah tafsiran orang-orang tertentu yang akhirnya percaya terhadap agama dan tuhan tertentu, maka dengan demikian, tidak ada ukuran yang pasti mengenai kepercayaan mana yang benar karena setiap orang menafsirkan menurut konteks di mana ia hidup dan kepentingan tertentu yang ada di belakangnya. Setiap orang akan memahami, menilai, dan menafsirkan sebuah tulisan/kisah yang terdapa dalam "kitab suci" berdasar pada konteks keberadaannya. Jadi, tidak ada ukuran pasti yang dapat digunakan untuk menilai ajaran mana yang lebih benar dari yang lainnya. Bahkan keberadaan Tuhan pun tidak lebih dari sekadar upaya manusia mencoba memahami dan menafsirkan sesuatu yang dianggapnya berada di luar dan di atas dirinya. Sesuatu yang dipercayanya mengatur bahkan berkuasa atas diri manusia. Jika demikian, maka "keberadaan" figur yang disebut dan dinamakan Tuhan atau Allah itu pun tidak lain dari hasil tafsir manusia setelah membaca berbagai tulisan/kisah yang terdapat dalam sebuah kitab yang dianggap "suci." Bagaimana seandainya cap "suci" itu disisihkan dari pemikiran sebagian besar orang (baca: orang beragama dan/atau bertuhan)? Kemungkinan besar hasil tafsirnya menjadi berbeda!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-2591539767592643768?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/2591539767592643768/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/bunuh-yang-seagama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/2591539767592643768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/2591539767592643768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/bunuh-yang-seagama.html' title='Bunuh yang Seagama'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-8328146240972229690</id><published>2010-09-26T09:10:00.001+07:00</published><updated>2011-08-17T10:32:32.210+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ateisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritisisme'/><title type='text'>Tidak Ada Cinta &amp; Keadilan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;a href="http://id.news.yahoo.com/viva/20100924/twl-berpidato-ahmadinejad-bawa-injil-dan-cfafc46.html" style="color: magenta;"&gt;Baru-baru ini pemimpin tertinggi Iran, Ahmadinejad, ketika berpidato di sidang tahunan Majelis Umum PBB membawa Al-Quran dan Alkitab&lt;/a&gt;. Hal ini dilakukannya untuk mengatakan bahwa seharusnya manusia menaruh hormat kepada semua "kitab suci" dan para pengikutnya. Dalam pidatonya tersebut Ahmadinejad juga menandaskan "bahwa para nabi ilahi memiliki misi bagi umat manusia untuk percaya pada satu Tuhan (monoteisme), cinta dan keadilan sekaligus menunjukkan belas kasih bagi kemakmuran serta menjauhi ateisme dan egoisme."&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Di satu sisi tindakan Ahmadinejad membawa dua "kitab suci" milik umat Muslim dan Kristen ketika berpidato di sidang tahunan Majelis Umum PBB di New York - meski seperti pedagang yang membawa dan menjajakan barang dagangannya - bisa dianggap positif karena ia berusaha menunjukkan pada banyak orang bahwa dirinya menghormati, bukan saja Al-Quran tetapi juga Alkitab. Pernyataannya mengenai cinta, keadilan, dan belas kasih juga bernuansa positif karena sepertinya ia berusaha menekankan dan mengajak orang untuk mengutamakan ketiga hal tersebut. Namun kenyataannya - sepertinya Ahmadinejad tidak menyadari hal ini - kenyataan di dunia berbeda 180 derajat dari pernyataannya. Yang terjadi bukanlah cinta, keadilan, dan belas kasih seperti yang didengungkan Ahmadinejad melainkan kekerasan, peperangan, dan pembunuhan. Terlebih, berbagai tindakan yang sama sekali tidak manusiawi dan tidak terpuji itu malah dilakukan oleh orang-orang yang mengaku beragama, bertuhan, dan memiliki moral yang berdasar pada kitab sucinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Ternyata pernyataan Ahmadinejad tersebut juga hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak jargon yang biasa dikumandangkan kaum beragama dan bertuhan, di mana kekerasan seharusnya tidak perlu terjadi jika umat beragama dan bertuhan sungguh-sungguh menaati dan mengimani "kitab suci"-nya. Ini dilakukan karena menurut umat beragama dan bertuhan kitab suci yang dimilikinya sesungguhnya mengajarkan moral yang baik, seperti: cinta, keadilan, dan belas kasih. Namun kenyataan yang terjadi hingga saat ini tidak demikian karena berbagai tindak kekerasan malah dilakukan orang-orang yang mengaku bermoral itu, bahkan tindakan yang mengatasnamakan "perintah Allah" semakin gencar dilakukan dilakukan kaum yang beragama dan bertuhan. Jika demikian, apakah masih tepat mengatakan jika "kitab suci" memang mengajarkan cinta, keadilan, dan belas kasih?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Ahmadinejad juga mengatakan agar manusia menjauhi ateisme dan egoisme. Egoisme memang harus dijauhi, namun ateisme? Menengok pada kenyataan yang terjadi di bumi dan membandingkannya dengan berbagai slogan yang selalu diumbar oleh kaum beragama dan bertuhan serta berbagai tindak kekerasan yang dilakukan oleh kaum yang mengaku bermoral karena memiliki "kitab suci," apakah ada tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kaum ateis? Atau, apakah seorang/kelompok ateis yang ketika melakukan tindakan yang keras (mengancam keberadaan orang banyak) berkata: "Saya/kami melakukan hal tersebut karena kami ateis!" atau "Saya/kami membunuh karena itu adalah perintah "kitab suci"!" atau saya/kami membakar bangunan itu karena tindakan itu merupakan ibadah dan perintah dari Tuhan kami!" Sama sekali tidak, bukan?&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Dengan demikian, jelas, pernyataan Ahmadinejad yang menyinggung agar orang menjauhi ateisme sama sekali tidak relevan karena kaum ateis tidak melakukan tindak kekerasan yang mengancam makhluk hidup lainnya, setidaknya, tidak mengaku bahwa tindakannya tersebut dilandaskan pada "kitab suci" dan/atau perintah yang diperoleh dari sesembahan kaum ateis. Mengapa? karena kaum ateis tidak punya "kitab suci" seperti kaum beragama dan bertuhan percaya pada buku yang dipercaya mengajarkan moral tertentu. Kaum ateis juga tidak percaya dan menyembah pada sesembahan yang dianggap mengatur hidupnya seperti kaum beragama dan bertuhan yang percaya dan sembah sujud pada figur tertentu yang berada di luar dirinya, bahkan di luar dunia di mana mereka berada yang mengatur seluruh alam semesta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-8328146240972229690?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/8328146240972229690/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/tidak-ada-cinta-keadilan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/8328146240972229690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/8328146240972229690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/tidak-ada-cinta-keadilan.html' title='Tidak Ada Cinta &amp; Keadilan'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-2330827549170126613</id><published>2010-09-25T21:44:00.003+07:00</published><updated>2011-08-17T10:33:32.252+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Terorisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritisisme'/><title type='text'>Sesembahan yang (Memang) Kejam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Ya, untuk kesekian kalinya sesembahan orang beragama/bertuhan - yang disebut, dipanggil, dinamakan Tuhan dan/atau Allah - menurunkan perintah kejam. &lt;a href="http://id.news.yahoo.com/kmps/20100924/tpl-ini-bukan-teror-ini-perintah-allah-81d2141.html" style="color: magenta;"&gt;Setidaknya, inilah yang dipercaya dan diakui oleh Sofyan Tsauri&lt;/a&gt;. Ia mengatakan bahwa tindakannya tersebut bukanlah termasuk ke dalam kategori teror karena merupakan ibadah. Sebaliknya ia mengatakan bahwa perbuatannya tersebut merupakan ibadah karena berasal dari Allah alias perintah Allah. Sepertinya yang ada dalam pikiran Tsauri melalui pernyataannya tersebut mengandaikan bahwa karena perintah itu berasal dari Allah, maka tidak bisa dikategorikan apalagi disebut sebagai teror karena teror hanyalah perbuatan manusia kerdil yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena perintah itu berasal dari yang ilahi maka tentu hasilnya pun demi kebaikan manusia, bahkan mungkin untuk seisi alam semesta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Jika yang dikatakan - yang berasal dari Tuhan benar dan baik - orang seperti Tsauri benar, namun mengapa hasil atau dampaknya malah menyengsarakan orang lain? Bukankah itu berarti pernyataan seperti itu bertolak belakang dengan kenyataan yang terjadi di dunia? Atau, apakah yang dibayangkan orang seperti Tsauri merupakan "dunia lain" atau dunia ideal yang keberadaannya bukan di bumi ini melainkan di tempat lain? Jika ya, di manakah dunia yang dimaksudkan oleh orang seperti Tsauri?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Banyak orang (beragama dan bertuhan) yang mengatasnamakan, menyebut, atau mengaitkan sesembahan atau agamanya demi membenarkan tindakan keji - menyengsarakan orang lain - yang dilakukannya sehingga perbuatannya tersebut dianggap sebagai kebaikan atau bahkan kebenaran. Ini merupakan pemikiran dan tindakan yang sangat salah bahkan menyesatkan. Namun, hal yang serupa menjadi tidak salah dan tidak menyesatkan jika saja orang-orang beragama dan bertuhan mengakui bahwa sesembahan yang dipercayanya telah memerintahkan dan agama yang dipeluknya memang telah mengajarkan para pengikutnya membunuh makhluk hidup lainnya. Jika demikian, sama sekali tidak keliru alias sangat tepat jika dikatakan bahwa sesembahannya itu memang figur yang kejam. Namun sayangnya, sejauh yang diketahui, tidak ada seorang beragama dan bertuhan pun yang rela jika agama yang dipeluknya dikatakan telah mengajarkan sesuatu yang kejam apalagi jika sesembahan yang dipercayanya disebut sebagai figur yang kejam.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Seandainya saja orang-orang beragama dan/atau bertuhan mau mengakuinya, maka setidaknya ada satu yang hal bisa disepakati bersama, baik oleh kaum percaya maupun kaum ateis, yakni: sesembahan orang beragama atau bertuhan memang kejam. Sayangnya hal ini tidak terjadi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-2330827549170126613?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/2330827549170126613/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/sesembahan-yang-memang-kejam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/2330827549170126613'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/2330827549170126613'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/sesembahan-yang-memang-kejam.html' title='Sesembahan yang (Memang) Kejam'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-4475079811676763477</id><published>2010-09-25T21:08:00.002+07:00</published><updated>2011-08-18T09:11:38.036+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritisisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Apa Ga Tau Sejarah?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Memang tidak sedikit orang yang cukup awas atau kurang peduli terhadap sejarah, apalagi mempelajari sejarah secara formal (melalui pendidikan) atau secara sadar mau berpikir kritis terhadap sejarah. Mengapa demikian? Salah satunya banyak orang menganggap bahwa sejarah merupakan bidang yang membosankan dan "tidak basah" atau tidak menguntungkan secara ekonomis, ditambah tidak populer dibandingkan bidang-bidang, seperti: ekonomi, kedokteran, dan/atau psikologi. Semua pendapat mengenai "sejarah" tersebut sah-sah saja. Artinya, orang bebas memberikan pandangannya mengenai bidang sejarah. Namun, sangat keliru bahkan menyesatkan jika ada pandangan yang mengatakan jika "sejarah" tidaklah penting dalam hidup manusia karena, setidaknya, hari ini bisa ada setelah kemarin telah berlalu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Hal yang sangat berbahaya dan menyesatkan terkait dengan "sejarah" adalah jika orang secara sadar dan sengaja sama sekali tidak peduli terhadap "sejarah" dengan alasan emosioanal karena orang bersangkutan terlibat dalam suatu proyek yang bisa membuatnya terkenal atau semakin terkenal dan hal ini membuat pundi-pundi tabungannya bertambah. Sepertinya inilah yang terjadi dengan penyanyi Marcell Siahaan. Ia akan memerankan figur Letnan Kolonel Soeharto dalam film "Laskar Pemimpi." Masalahnya adalah bukan karena Marcell akan memerankan figur Soeharto muda dalam film tersebut melainkan pernyataannya yang cukup naif mengenai figur Soeharto: "&lt;a href="http://id.omg.yahoo.com/news/marcell-siahaan-bangga-perankan-soeharto-khjx-0000343153.html" style="color: magenta;"&gt;meski Soeharto yang kemudian memimpin Indonesia selama 32  tahun penuh kontroversi, masyarakat Indonesia tidak seharusnya melupakan  sumbangsih sang pejuang dalam mewujudkan Indonesia sebagai sebuah  negeri merdeka&lt;/a&gt;" (alinea kelima).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Orang tidak bisa dengan mudah mengatakan bahwa hanya segelintir orang yang berjasa telah membawa sebuah negara pada kemerdekaannya karena bukan hanya segelintir orang itu yang berjasa melainkan ada banyak orang yang terlibat dirinya, apalagi jika hanya menyebut satu orang. Bisa saja orang yang dianggap berjasa itu memang telah melakukan sesuatu yang bermanfaat di masa lalu, namun keberjasaannya itu tidak bisa serta-merta menutupi berbagai hal yang dilakukannya di kemudian hari, di mana hal-hal yang dilakukannya itu sangat menyengsarakan banyak orang. Namun ini juga tidak berarti bahwa tindakan-tindakannya yang menyengsarakan orang lain itu menutupi jasa-jasa yang telah dilakukannya. Hal yang hendak ditekankan di sini adalah hendaknya orang memberikan penilaian yang lebih seimbang dengan memperhatikan tidak hanya salah satu unsur melainkan sebanyak mungkin unsur yang relevan. Jika ini dilakukan maka orang dapat memperoleh penjelasan yang lebih jernih.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Oleh karena itulah salah satu hal yang harus diperhatikan adalah "sejarah" sehingga hal yang seperti dilakukan Marcell tidak akan terulang di kemudian hari. Jika seorang melakukan beberapa tindakan heroik atau berjasa karena perbuatannya membuat banyak orang bahagia, kemudian dianggap sebagai pahlawan, namun setelah itu dalam jangka waktu yang lama menyengsarakan orang lain, bukankah orang tersebut bisa dikategorikan sebagai penjahat? Terlebih, jika perbuatannya yang telah menyengsarakan banyak orang itu memiliki dampak yang sangat besar dan lama. Apakah "kepahlawanannya" di masa lalu bisa disingkirkan begitu saja? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Saya tidak tahu. Namun yang lebih jelas, seharusnya pernyataan yang diungkapkan Marcell tidak perlu terjadi jika ia cukup mengetahui sejarah dalam konteks yang lebih luas dengan memperhitungkan banyak aspek.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Hal lainnya yang perlu dikemukakan adalah bahwa pernyataan Marcell mengandung bias. Tentu saja Marcell akan memuji figur yang akan diperankannya karena ia memperoleh keuntungan&amp;nbsp; (popularitas dan ekonomi) dari memerankan figur tersebut. Dengan demikian, jelas, pernyataan Marcell itu bias. Sangat kecil kemungkinan orang melakukan kritik terhadap sesuatu jika ia terlibat di dalam suatu hal/proyek apalagi hal itu memberikannya keuntungan popularitas yang sangat mungkin juga akan membuatnya memperoleh uang yang banyak. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-4475079811676763477?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/4475079811676763477/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/apa-ga-tau-sejarah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/4475079811676763477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/4475079811676763477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/apa-ga-tau-sejarah.html' title='Apa Ga Tau Sejarah?'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-6346978183249040610</id><published>2010-09-21T23:15:00.003+07:00</published><updated>2011-08-17T10:34:57.800+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Paranormal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skeptisisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jenglot'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Supernatural'/><title type='text'>Iseng</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Memang harus diakui jika banyak orang menyukai atau tertarik pada hal-hal misterius, seperti penampakan hantu, kuntilanak, tuyul, dan sejenisnya. Hal itu ditunjukkan dengan tidak sedikit nang yang mudah dan cepat memberikan berbagai penafsiran paranormal terkait dengan hal-hal itu tanpa memperhatikan berbagai bukti relevan karena mereka mudah percaya pada dan mengikuti opini publik. Oleh karena itu, banyak orang yang menafsirkan hal-hal misterius yang ditemui, bahkan hanya didengarnya dari orang lain itu secara berlebihan sehingga terkesan panik. &lt;a href="http://regional.kompas.com/read/2010/09/18/08190172/Warga.Bersama.Satpol.PP.Tangkap.Jenglot.#" style="color: magenta;"&gt;Inilah sepertinya yang baru-baru ini dialami warga Kelurahan Komet, Kota Banjarbaru, Kalimantan, mengenai penemuan barang aneh yang dinamakan dengan jenglot&lt;/a&gt;.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Warga Kota Banjarbaru mengaku ketika&amp;nbsp; mereka kembali setelah memanggil Satpol PP setempat untuk melaporkan penemuan benda aneh tersebut ternyata benda itu telah berpindah tempat sekitar 5-6 meter dari tempat semula ketika ditemukan warga. Tak pelak lagi hal tersebut semakin membuat warga terkejut, panik, dan merasa ada sesuatu yang sungguh aneh berkaitan dengan benda tersebut. Padahal warga tidak perlu merasa terkejut, panik, apalagi aneh mengenai keberadaan benda tersebut, terlebih menafsirkannya sebagai benda dan peristiwa yang berbau mistis atau paranormal. Mengapa? karena sangat mungkin hal itu tidak lebih dari keisengan orang (sekelompok orang) yang dengan sengaja telah melakukannya untuk menakut-nakuti atau membuat panik warga. Dan memang terbukti, banyak warga yang terkejut bahkan panik akibat adanya benda tersebut. Buktinya, warga sampai melaporkan hal tersebut kepada Satpol PP setempat.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Jangan-jangan jika suatu hari ada penemuan yang dianggap lebih heboh, aneh, dan mengejutkan warga, mereka akan melaporkannya pada polisi atau mungkin juga TNI. Jika ini benar-benar terjadi, betapa berlebihannya sikap warga tersebut. Sikap yang seharusnya sama sekali tidak perlu terjadi seandainya warga memiliki daya pikir kritis dan sikap skeptis yang memadai, khususnya terhadap berbagai hal yang selama ini dianggap paranormal dan/atau supernatural. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-6346978183249040610?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/6346978183249040610/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/iseng.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/6346978183249040610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/6346978183249040610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/iseng.html' title='Iseng'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-5330843317616669756</id><published>2010-09-20T20:19:00.003+07:00</published><updated>2011-08-18T09:07:27.170+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Adolf Hitler'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Angela Merkel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Internasional'/><title type='text'>Angela Merkel Bukan Adolf Hitler</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Semua orang tahu benar kekejaman Adolf Hitler ketika ia membantai orang-orang Yahudi Jerman pada tahun 1930-an dan 1940-an. Semua orang sadar betul kebejatan Adolf Hitler dengan kamp-kamp konsentrasinya yang bisa membuat bulu kuduk berdiri. Semua orang tentu masih ingat terhadap kekejian Adolf Hitler melalui pidato-pidatonya yang membakar semangat nasionalisme dangkal Jerman dengan menghembuskan kebencian terhadap kaum Yahudi, khususnya kaum Yahudi Jerman. Ternyata Angela Merkel - Kanselir Jerman - tidak mau mengikuti jejak mantan pemimpin Jerman beberapa tahun yang lampau tersebut. &lt;span style="color: magenta;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;a href="http://id.news.yahoo.com/antr/20100919/twl-merkel-masjid-akan-jadi-bagian-lebih-bbfa48e.html" style="color: magenta;"&gt;ni setidaknya bisa dilihat dari sikap Merkel melalui wawancara yang baru-baru ini dilakukannya dengan salah satu harian di kota Frankfurt.&lt;/a&gt; Merkel tidak mau mengulangi kesalahan sejarah yang dilakukan Adolf Hitler, seniornya itu. Ia, Merkel, bahkan mengajak warga negara Jerman untuk sadar, membuka diri, bahkan terbiasa dengan perubahan yang terjadi di negeri mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Sikap yang ditunjukkan oleh Merkel tersebut merupakan salah satu contoh nyata di mana seorang pemimpin bisa berkata-kata dan bersikap dengan bijak. Setidaknya melalui pernyataannya tersebut Merkel telah menghembuskan suasa sejuk di tengah-tengah berkecamuknya pertikaian dan hubungan yang memanas antar (pemeluk) agama di dunia (baca: mereka yang beragama sangat sempit dan dangkal). Jelas, sikap Merkel tersebut patut diteladani oleh pemimpin-pemimpin bangsa lainnya, yakni dengan mampu bersikap tenang dan bijak dalam menghadapi perubahan yang terjadi di negerinya. Ketimbang bersikap reaktif dan panik terhadap perubahan yang terjadi di negerinya, seorang pemimpin yang bijak malah akan berusaha bersikap tenang bahkan berusaha mengajak dan menyadarkan warga negaranya untuk mampu menghadapi perubahan yang terjadi bahkan terbiasa dengan perubahan itu.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Angela Merkel adalah seorang pemimpin bangsa yang bijak dan terpuji karena sikapnya yang terhormat. Sikapnya yang terbuka terhadap perubahan yang terjadi di negerinya merupakan sikap yang rendah hati yang seyogianya menjadi panutan banyak orang, bukan hanya para pemimpin bangsa lainnya. Sikap rendah hati Merkel tersebut sangat jarang ditemukan pada diri pemimpin, bahkan orang lainnya yang dengan angkuh dan reaktif menghadapi perubahan yang terjadi di sekitarnya. Mencari seorang pemimpin bangsa yang rendah hati dan bijak, tengoklah pada diri Angela Merkel, seorang Kanselir Jerman. Warga negara dan penduduk Jerman patut berbangga memiliki seorang figur pemimpin seperti Angela Merkel karena dia bukanlah seorang figur seperti Adolf Hitler, yang pernah membawa Jerman pada kehancuran melainkan akan membawa Jerman sebagai bangsa yang penuh dengan kerendahan hati dan kehormatan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-5330843317616669756?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/5330843317616669756/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/angela-merkel-bukan-adolf-hitler.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/5330843317616669756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/5330843317616669756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/angela-merkel-bukan-adolf-hitler.html' title='Angela Merkel Bukan Adolf Hitler'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-161433309904067165</id><published>2010-09-20T00:11:00.003+07:00</published><updated>2011-08-18T09:08:58.861+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemerintah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Internasional'/><title type='text'>Sekolah untuk Para Remaja yang Hamil</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Jika orang sepakat bahwa pendidikan sangat penting bagi segala golongan, baik usia, tingkat ekonomi, status sosial, tingkat kecerdasan, maupun keadaan fisik seseorang, maka upaya yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia bagian Malaka dengan membuka sekolah yang menerima para remaja hamil agar tetap bisa bersekolah dan menerima pendidikan yang layak merupakan tindakan yang selaras dengan semangat itu. Ya, &lt;a href="http://www.bbc.co.uk/news/world-asia-pacific-11339676" style="color: magenta;"&gt;pemerintah Malaysia bagian Malaka baru-baru ini membuka pertama kali sekolah yang memperbolehkan para remaja yang hamil untuk memperoleh pendidikan di sekolah tersebut.&lt;/a&gt; Tentu, tindakan yang dilakukan pemerintah Malaysia bagian Malaka tersebut bukan tanpa hambatan dan penolakan, khususnya dari kelompok-kelompok keagamaan (dhi. Islam) yang menyatakan bahwa ide tersebut malah bisa mendorong para remaja berani melakukan seks dan hamil. Namun, seperti dikatakan oleh salah seorang staf pemerintah Malaysia bagian Malaka, memisahkan para remaja yang hamil dari sistem pendidikan/sekolah umum akan semakin membuat para remaja hamil tersebut mengalami stigmatisasi oleh dan di dalam masyarakat. Oleh karena itulah mereka tetap diperbolehkan memperoleh pendidikan di sekolah umum seraya kepada mereka diberikan perlindungan dan kerahasiaan mereka dijaga.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Hal yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia bagian Malaka merupakan salah satu contoh nyata di mana komitmen terhadap pendidikan layak yang menjadi hak setiap warga negara berusaha tetap dilakukan, terlepas dari kondisi fisik seseorang (dhi. hamil). Meski tindakan tersebut mendapat penolakan, khususnya dari kelompok-kelompok agama, namun pemerintah Malaysia bagian Malaka tetap berpegang teguh pada hak yang seharusnya diperoleh setiap warga negara. Oleh karena pendidikan merupakan dasar terpenting dalam hidup manusia, maka pendidikan yang layak pun menjadi tanggung jawab pemerintah untuk diberikan kepada setiap warga negaranya. Jika pemerintah Malaysia bagian Malaka - meski belum Malaysia secara keseluruhan - sebagai negara Islam bisa mengupayakan hal terhormat tersebut bagi warganya, masakan hal yang serupa tidak bisa diupayakan oleh negara Indonesia yang mengaku Bhinneka Tunggal Ika? Jika pemerintah Malaysia bagian Malaka mampu lebih mengedepankan nilai kemanusiaan daripada aturan keagamaan, masakan pemerintah Indonesia tidak mampu melakukan hal serupa, padahal Indonesia bukanlah negara Islam?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Upaya yang dilakukan pemerintah Malaysia bagian Malaka merupakan tindakan terhormat dan terpuji yang bukan saja patut diteladani negara-negara yang mendasarkan hukum-hukumnya pada agama tertentu, terlebih perlu dicontoh oleh negara-negara yang selama ini selalu mendengung-dengungkan persamaan hak bagi warga negaranya dan kemanusiaan. Jika yang didengung-dengungkan itu sebatas jargon-jargon tanpa tindakan nyata, maka tiada artinya semua jargon itu karena sebatas teriakan kosong yang kemudian lenyap ditelan atau ditiup angin.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-161433309904067165?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/161433309904067165/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/sekolah-untuk-para-remaja-yang-hamil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/161433309904067165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/161433309904067165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/sekolah-untuk-para-remaja-yang-hamil.html' title='Sekolah untuk Para Remaja yang Hamil'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-4777691121347522343</id><published>2010-09-18T20:43:00.004+07:00</published><updated>2011-08-17T10:37:41.659+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembunuhan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Halusinasi'/><title type='text'>Hati-hati Memberikan Sebutan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;a href="http://regional.kompas.com/read/2010/09/18/08492376/Pembunuhan.Disebabkan.Hadirnya.Bayangan#" style="color: magenta;"&gt;Seorang lelaki mengaku alasan dirinya membunuh karena selalu didatangi bayangan yang menyerupai wajah korban.&lt;/a&gt; Oleh karena merasa terganggu oleh bayangan yang mendatangi dirinya itulah pelaku membunuh korban. Banyak orang mungkin segera bereaksi dengan mengatakan bahwa laki-laki itu hanya mencari-cari alasan untuk membunuh atau mengatakan laki-laki itu gila. Apakah laki-laki yang telah melakukan pembunuhan itu memang gila karena mengaku telah didatangi oleh bayangan yang wajahnya mirip dengan wajah korbannya?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Jika bayangan yang dilihat laki-laki tersebut terjadi ketika ia tidur, maka sesungguhnya ia hanya bermimpi. Namun, jika bayangan yang mendatanginya itu bukan terjadi pada saat tidur melainkan ketika ia berada dalam keadaan terjaga/bangun, maka kemungkinan besar ia mengalami halusinasi. Dengan demikian, mengatakan laki-laki tersebut gila sangatlah tergesa-gesa dan tidak bijak karena setidaknya dibutuhkan waktu enam bulan untuk melakukan diagnosa sebelum kata "&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Dementia" style="color: magenta;"&gt;gila&lt;/a&gt;" itu disematkan pada diri seseorang.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Oleh karena itu, kata yang tepat yang bisa ditujukan kepada laki-laki yang melakukan pembunuhan itu adalah "&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hallucination" style="color: magenta;"&gt;halusinasi&lt;/a&gt;." Artinya, pengakuan bahwa ia seringkali melihat bayangan&amp;nbsp; wajah seseorang dalam keadaan sadar merupakan salah satu ciri orang yang mengalami halusinasi. Sejauh keterangan yang bisa diperoleh melalui berita tersebut, maka halusinasi merupakan kata yang cukup bijak jika orang hendak menyebut laki-laki yang telah membunuh&amp;nbsp; itu karena gejalanya sesuai dengan keterangan yang tersedia.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Orang harus hati-hati ketika menyematkan sebutan tertentu kepada sesamanya karena hal tersebut bisa sangat menyesatkan apalagi jika hal yang sama dilakukan orang-orang lainnya terhadap orang yang sama. Hal ini bisa bertambah parah jika sebutan yang salah tersebut dengan cepat melekat pada orang yang bersangkutan padahal analisis medis belum dilakukan terhadap orang itu. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam memberikan sebutan terhadap orang lain karena sebutan itu bisa saja salah apalagi jika tidak didukung oleh penelitian yang memadai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-4777691121347522343?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/4777691121347522343/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/hati-hati-memberikan-sebutan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/4777691121347522343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/4777691121347522343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/hati-hati-memberikan-sebutan.html' title='Hati-hati Memberikan Sebutan'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-2277762480764806465</id><published>2010-09-18T15:45:00.010+07:00</published><updated>2011-08-17T10:38:47.659+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hantu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Foto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skeptisisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ingatan'/><title type='text'>Hantu Penunggang Kuda</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;a href="http://internasional.kompas.com/read/2010/09/11/08414092/Hantu.Penunggang.Kuda.di.Air.Terjun#" style="color: magenta;"&gt;Inilah contoh yang sangat nyata di mana pikiran manusia dengan sengaja dibentuk (dibuat sedemikian rupa) sehingga percaya pada objek yang dilihatnya.&lt;/a&gt; Awalnya pasangan (Stephen dan Sue Berringer) warga negara Inggris tersebut tidak menyadari jika objek yang diabadikan oleh kamera mereka tersebut adalah sosok yang mirip dengan sosok dalam sebuah film, namun setelah dilihat terus seraya "memanggil" ingatan mereka yang mirip dengan objek di foto, akhirnya mereka pun cukup yakin jika objek di foto mereka adalah gambar hantu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Mari kita perhatikan satu demi satu keterangan yang terdapat dalam berita tersebut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;1. Mereka pun takut dan tercengang karena ketika mengambil foto di air  terjun Ingleton di Yorkshire Dales (Inggris) itu tidak melihat obyek apa  pun yang mencurigakan (alinea kedua).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Tanggapan&lt;/u&gt;: ini merupakan contoh di mana awalnya orang tidak sadar karena tidak memikirkan hal-hal yang bernuansa paranormal melainkan hanya berpikir mengenai keindahann alam yang diabadikan melalui kamera. Namun, ketika orang mulai berpikir mengenai hal yang bernuansa paranormal dan mencoba mengaitkan objek yang diabadikan melalui kamera pada sesuatu yang bernuansa paranormal itu, maka yang terjadi adalah seperti yang terdapat dalam poin di bawah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;2. Sosok laki-laki berjubah dan berwajah seram itu dicermati agak lama  ketika mereka memerhatikan di layar komputer dan mengingat-ingat apakah  ada obyek di air terjun itu (alinea keempat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Tanggapan&lt;/u&gt;: ini adalah contoh yang sangat jelas ketika orang mulai mengingat-ingat objek tertentu yang pernah dilihat/disaksikannya kemudian mencoba menghubungkan objek dalam ingatannya tersebut dengan objek sedang dilihatnya. Inilah yang sesungguhnya terjadi pada pasangan dalam berita di atas, di mana mereka berusaha melihat objek dalam foto yang telah mereka abadikan dalam kaitannya dengan objek yang terdapat dalam memori otak mereka. Hasilnya jelas, ingatan mereka menutupi bahkan menggantikan objek dalam foto tersebut. Artinya, ingatan mereka telah menjadi sesuatu yang nyata melalui dan di dalam objek foto itu. &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;3. Setelah dicermati, air mengalir itu membentuk sebuah obyek seperti seorang laki serem yang mirip hantu Nazgul dalam film &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Lord of the Rings &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;(alinea keenam).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;u&gt;Tanggapan&lt;/u&gt;: ketika orang berhasil "memanggil" sebuah objek dalam ingatan mereka dan mampu memproyeksikannya dengan sangat jelas, maka hasilnya adalah pernyatan seperti yang terdapat dalam poin ketiga ini. Dan satu kata yang perlu digarisbawahi dalam pernyataan di atas adalah "mirip." Banyak orang, entah disadari ataupun disengaja telah mengaburkan pengertian kata "mirip" tersebut dengan mengartikannya sebagai sesuatu yang "sama persis." Kata "mirip" tidak berarti objek yang dimaksud "sama persis" melainkan memiliki pola atau garis atau bentuk yang menyerupai alisa tidak persis sama.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;4. "Kami tidak melihat sesuatu yang luar biasa ketika kami berada di air terjun dan kami bahkan duduk di sana untuk minum kopi" (pengakuan Sue Berringer di alinea ketujuh).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;u&gt;Tanggapan&lt;/u&gt;: ini merupakan contoh (tidak disadari) di mana orang berusaha memberikan penegasan bahwa awalnya objek yang dilihatnya bukanlah sesuatu yang aneh/janggal karena hal yang biasa. Namun, seperti telah diungkapkan dalam tanggapan terhadap poin ketiga, objek yang awalnya biasa "berubah" menjadi tidak biasa karena orang yang sama yang melihatnya dengan sengaja telah "memainkan" pikirannya dengan cara "memanggil" ingatannya terhadap objek yang mirip dengan objek dalam foto yang sedang dilihatnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;5. "Tapi ketika kami tiba di rumah dan melihat sosok gelap seorang pria berjubah, kami pun terheran-heran" (pengakuan Sue Berringer di alinea kedelapan).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;u&gt;Tanggapan&lt;/u&gt;: ini merupakan contoh ketika orang berusaha mempertegas bahwa objek yang awalnya biasa telah berubah menjadi objek yang tidak biasa akibat objek yang muncul dalam memori berhasil diproyeksikan dengan jelas terhadap objek dalam foto sehingga&amp;nbsp; gambaran objek dalam ingatan itu malah "menggantikan" objek dalam foto itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;6. Menurutnya, tidak ada batu di lokasi air terjun itu sehingga mereka  berpikir bahwa bentuk itu tidak sengaja terukir oleh air terjun secara  utuh (alinea kesembilan).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;u&gt;Tangggapan&lt;/u&gt;: bisa saja memang tidak ada batu di lokasi air terjun itu, namun hal tersebut tidak bisa digunakan sebagai alasan untuk menjelaskan bahwa itu merupakan hantu seperti di dalam film &lt;i&gt;Lord of the Rings&lt;/i&gt;. Lebih dari itu, tiadanya batu di lokasi air terjun tersebut tidak menjelaskan apa-apa. Oleh karena itu, diperlukan penjelasan yang memadai, mengapa air tersebut bisa membentuk "gambar" hantu dalam film tadi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Pertanyaan di atas bisa dijawab dengan menerapkan Pisau Ockham. Oleh karena hal itu (air terjun) merupakan salah satu fenomena alam, maka jawabannya pun harus dicari melalui alam. Dengan demikian, salah satu kemungkinan yang paling kuat adalah hal tersebut terjadi karena tiupan angin yang begitu kuat sehingga air terjun itu membentuk pola yang dilihat dan dipercaya pasangan tadi sebagai hantu. Padahal yang terjadi adalah tiupan angin dengan tidak sengaja telah membentuk pola tertentu pada aliran air terjun itu. Sangat sederhana dan alamiah, bukan? ketimbang mencari-cari jawaban dan penjelasan yang dikaitkan dengan sesuatu yang berbau paranormal dan/atau supernatural.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;7. Walau begitu, pasangan tersebut tetap tidak yakin bahwa apa yang dipotret adalah hantu (alinea kesepuluh).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;u&gt;Tanggapan&lt;/u&gt;: ini merupakan pernyataan yang sangat janggal karena bertentangan dengan "keyakinan" yang dimiliki pasangan tersebut, seperti telah diungkapkan di alinea-alinea sebelumnya, di mana mereka sepertinya cukup yakin jika objek dalam foto tersebut adalah hantu. Seharusnya ketidakyakinan mereka itu ditempatkan di "awal" ketika mereka pertama kali melihat foto itu. Jika ketidakyakinan tersebut ditempatkan di "awal" maka bisa jadi mereka akan mencoba mencari jawaban dan penjelasan yang alamiah dan masuk akal ketimbang memberikan kesimpulan yang bernuansa paranormal. (Pasangan tersebut sama sekali tidak memberikan penjelasan, tetapi langsung menyimpulkan.)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Ketidakyakinan atau keraguan terhadap suatu objek atau peristiwa - seringkali tidak diketahui dan tidak disadari oleh begitu banyak orang - sesungguhnya merupakan sikap skeptis. Dengan kata lain bisa dikatakan bahwa banyak orang tidak sadar jika dirinya termasuk kategori skeptik karena ketidakyakinan dan keraguannya terhadap sebuah objek atau suatu peristiwa. Namun, seorang skeptik yang sadar dan sengaja bertindak berdasarkan ketidakyakinan atau keraguannya, dengan sadar penuh dan secara runut berusaha mencari dan mengumpulkan sebanyak mungkin bukti yang relevan mengenai sebuah objek atau suatu peristiwa. Setelah bukti-bukti relevan terkumpul barulah ia menganalisis seraya menjelaskan suatu peristiwa&amp;nbsp; yang terjadi dengan berdasar pada bukti-bukti yang ada seraya mengawasi berbagai bias dalam dirinya dan kesesatan berpikir.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt; Seorang skeptik tidak mau tergesa-gesa loncat pada kesimpulan sebelum melakukan hal-hal di atas sekaligus menyusun argumentasi-argumentasi relevan, objektif, dan masuk akal berkaitan dengan objek yang dianalisisnya. Oleh karena itulah seorang skeptik awalnya selalu tidak yakin atau ragu, bahkan ciri seorang skeptik ia selalu tidak yakin dan ragu terhadap segala hal terlebih terhadap berbagai penjelasan yang bernuansa paranormal dan supernatural.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;8. Memang tidak seketika foto-foto hasil jepretannya di air terjun itu di-&lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;copy &lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;ke  komputer. Namun, selang tiga minggu dari liburan itu baru dimasukkan ke  komputer dan anehnya gambar hantu Nazgul tiba-tiba ada dalam fotonya di  air terjun itu (alinea kesepuluh).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;u&gt;Tanggapan&lt;/u&gt;: sepertinya pernyataan ini hendak mengatakan bahwa hantu yang diyakini pasangan tersebut awalnya tidak ada di dalam foto, namun setelah beberapa hari/minggu hantu itu muncul di dalam foto tersebut setelah foto tersebut dimasukkan dan disimpan di dalam komputer. Apakah ini artinya hasil jepretan foto berbeda dengan yang muncul di layar komputer? Kita tidak bisa mengetahuinya jika jepretan foto itu tidak melalui proses cuci-cetak yang kemudian muncul dalam kertas foto.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Terlepas dari hasil bidikan kamera tersebut, entah berbeda ataupun sama antara yang muncul di layar komputer dan di kertas foto, hal yang sangat jelas dan bisa dikatakan terhadap berita di atas adalah: pasangan warga negara Inggris tersebut dengan sengaja telah memainkan pikirannya sehingga objek yang dilihat di layar komputer merupakan sosok yang mirip dengan figur hantu seperti di dalam film (&lt;i&gt;Lord of the Rings&lt;/i&gt;) yang telah mereka tonton. Apa yang dilakukan pasangan tersebut merupakan contoh di mana orang melihat dan menamakan objek yang dilihatnya dengan berdasar pada ingatan yang dimilikinya. Lebih dari itu, banyak orang dengan mudah, bahkan berusaha keras menghubung-hubungkan objek yang sedang dilihatnya dengan objek yang terdapat di dalam memorinya, bahkan tidak sedikit orang yang malah "menutupi/menggantikan" objek dilihatnya dengan objek yang ada dalam ingatannya setelah mereka berusaha "memanggil" ingatannya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Ingatan seseorang sama sekali tidak bisa dijadikan ukuran untuk menilai kebenaran suatu peristiwa karena sifatnya yang sangat subjektif. Bagaimana dengan orang-orang yang tidak memiliki ingatan tertentu mengenai suatu hal, misalnya: belum menonton &lt;i&gt;Lord of the Rings&lt;/i&gt;. Tentu, mereka tidak memiliki gambaran mengenai sosok hantu di dalam film tersebut sehingga tidak mampu mengaitkan objek seperti yang dilihat pasangan tadi dengan hantu dalam film itu. Jangankan ingatan, gambaran mengenai hantu itu saja tidak dimiliki karena belum menonton &lt;i&gt;Lord of the Rings&lt;/i&gt;. Hal inilah yang terjadi pada saya ketika melihat objek yang dipercaya sebagai hantu oleh pasangan tadi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-2277762480764806465?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/2277762480764806465/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/hantu-penunggang-kuda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/2277762480764806465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/2277762480764806465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/hantu-penunggang-kuda.html' title='Hantu Penunggang Kuda'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-1469110199355849498</id><published>2010-09-18T12:53:00.004+07:00</published><updated>2011-08-19T12:04:33.514+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Paranormal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Foto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skeptisisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pareidolia'/><title type='text'>Wajah Setan di Dinding Kamar Mandi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;a href="http://internasional.kompas.com/read/2010/09/18/10443038/Ada.Wajah.Setan.di.Dinding.Kamar.Mandi-5#" style="color: magenta;"&gt;Sebuah wajah setan muncul di dinding kamar mandi, setidaknya itulah yang dipercayai oleh perempuan pemilik rumah tersebut.&lt;/a&gt; Tidak hanya di situ, perempuan itu pun mengaku telah dibuat begitu takut oleh penampakan wajah setan tersebut sehingga ia tidak mau mandi di kamar mandi itu lagi. Ada tiga pernyataan yang cukup menarik berkaitan dengan adanya wajah setan di dinding kamar mandi tersebut, seperti diungkapkan suami ibu tersebut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;1. Ketika rumat tersebut direnovasi wajah setan tersebut belum ada dan baru ada saat tengah malam. Seperti banyak pengakuan yang berkaitan dengan fenomena supernatural lainnya, hal-hal tersebut baru dan hanya muncul lewat tengah malam dalam keadaan gelap atau setidaknya saat minimnya cahaya. Dengan kata lain hendak dinyatakan bahwa fenomena supernatural hanya muncul dan bisa dilihat ketika cahaya tidak cukup banyak menerangi tempat di mana fenomena itu terjadi sehingga banyak orang menganggap telah melihat penampakan yang aneh, seperti: hantu atau wajah setan. Waktu yang menunjuk lewat tengah malam juga seringkali membuat pikiran banyak orang dipengaruhi hal-hal paranormal, di mana hal-hal mistis lebih sering terjadi ketika waktu menunjukan lewat tengah malam. Hal tersebut memunculkan pertanyaan, seperti: mengapa fenomena muncul seringkali ketika lewat tengah malam? Jawabannya yang bisa diberikan adalah: karena waktu lewat tengah malam lebih dramatis dan menyeramkan dibandingkan waktu siang hari, apalagi waktu tengah malam biasanya keadaan jauh lebih sunyi dibandingkan siang hari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;2. Temperatur kamar mandi yang selalu rendah alias dingin seperti es meski sudah menyalakan pemanas. Banyak orang percaya jika temperatur yang rendah atau keadaan yang dingin merupakan pertanda bahwa fenomena paranormal terjadi. Ini artinya bahwa banyak orang percaya bahwa keadaan dingin yang dialaminya menjadi alat ukuran bahwa hantu itu sungguh-sungguh ada sehingga polanya adalah: dingin &amp;gt; ada hantu. Sepertinya inilah yang juga dipercaya oleh pasangan Rumania tersebut yang menganggap keadaan kamar mandi yang dingin seperti sebagai tanda bahwa ada hal ganjil terjadi kemudian menafsirkannya sebagai fenomena paranormal.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Apakah orang tidak sadar bahwa kamar mandi memang tempat yang kadar kelembabannya cukup tinggi sehingga seringkali dianggap dingin (walaupun memang demikian adanya), apalagi di negara-negara yang temperaturnya cukup rendah seperti di Rumania. Jika dikatakan pemanas sudah digunakan namun tidak sanggup mengusir dingin di kamar mandi tersebut, apakah keadaan pemanas tersebut sudah dicek? Artinya, apakah alat pemanas tersebut masih berfungsi dengan baik alias tidak rusak? Jangan-jangan rusak. Kalaupun alat pemanas tersebut tidak rusak, sangat mungkin pikiran pasangan tersebut sudah begitu tersugesti dengan pandangan yang percaya bahwa fenomena paranormal mengakibatkan temperatur yang rendah alias mengakibatkan keadaan yang dingin pada tubuh. Jika ini kenyataannya, maka sesungguhnya yang terjadi adalah bahwa pikiran pasangan tersebut sudah terbentuk oleh opini publik mengenai hal-hal yang berkaitan dengna fenomena paranormal.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;3. Pasangan tersebut berusaha mengusir setan yang wajahnya muncul di dinding kamar mandi di rumah mereka. Perhatikan: awalnya hanyalah wajah setan yang muncul di dinding kamar mandi, namun hal ini dianggap sebagai sesuatu yang jauh lebih besar karena pasangan tersebut menafsirkan bahwa rumah mereka dihuni oleh setan yang berusaha mengganggu mereka sehingga mereka pun berusaha mengusir setan dari rumah mereka, mungkin melalui cara-cara tertentu (eksorsisme). Daripada melakukan eksorsisme, ganti saja keramik dinding kamar mandi tersebut sehingga wajah setan itu hilang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Setelah memperhatikan gambar seperti yang terdapat dalam berita mengenai fenomena penampakan wajah setan di dinding kamar mandi tersebut, semakin menunjukkan betapa manusia sangat mudah menafsirkan sesuatu yang sesungguhnya tidak ada menjadi ada. Lebih dari itu, pikiran manusia bisa menciptakan sesuatu yang tadinya tidak ada menjadi ada dengan berdasar pada hal-hal, seperti: opini publik, pola-pola yang dimiliki di kepalanya, dan/atau gambaran-gambaran tertentu yang tersimpan di dalam ingatannya. Oleh karena itu, ketika ia melihat objek tertentu yang sesungguhnya tidak jelas, namun ketika ia mengaitkan objek tersebut dengan salah satu atau ketiga hal tadi, maka objek yang dilihatnya tersebut menjadi sesuatu yang sangat jelas bahkan tidak sampai di situ karena objek itu pun dipercayainya sebagai sesuatu yang nyata.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Coba perhatikan gambar di berita tersebut, apakah memang ada wajah setan di dinding kamar mandi tersebut? (Perhatikan: gambar tersebut telah melalui proses pembesaran beberapa kali karena awalnya hanya sebesar titik atau noda di dinding.) Setidaknya ada dua jenis jawaban berbeda yang akan muncul. Pertama, ya. Jawaban ini diberikan oleh orang-orang yang memiliki gambaran tertentu dalam pikirannya mengenai wajah setan/hantu yang diperolehnya melalui gambar-gambar tertentu melalui film dan/atau bacaan. Kedua, tidak. Jawaban ini diberikan oleh orang-orang yang tidak memiliki gambaran tertentu dalam pikirannya mengenai wajah setan/hantu. Terlepas dari kedua jawaban yang bisa diberikan setiap orang, hal yang perlu digarisbawahi adalah betapa pikiran manusia mampu melahirkan hal-hal imajinatif. Namun sayangnya, hal-hal imajinatif tersebut seringkali juga malah melahirkan hal-hal yang yang bernuansa paranormal, seperti kasus wajah setan yang muncul di dinding kamar mandi dalam berita di atas. Hal imajinatif bernuansa paranormal seperti ini dinamakan pareidolia, sesuatu yang tidak disadari oleh begitu banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-1469110199355849498?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/1469110199355849498/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/wajah-setan-di-dinding-kamar-mandi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/1469110199355849498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/1469110199355849498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/wajah-setan-di-dinding-kamar-mandi.html' title='Wajah Setan di Dinding Kamar Mandi'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-6133865940032064817</id><published>2010-09-17T22:18:00.007+07:00</published><updated>2011-08-17T15:40:23.907+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hantu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skeptisisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CCTV'/><title type='text'>Hantu Casper</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Berbagai "bukti" disajikan orang untuk mengatakan bahwa makhluk yang disebut hantu sungguh-sungguh ada. Salah satunya seperti yang direkam melalui CCTV, di mana terlihat ada sosok hantu &lt;i&gt;Casper&lt;/i&gt; seperti dalam film kartun dengan nama yang sama. &lt;a href="http://english.kompas.com/read/2010/09/15/07010073/Proof.That.Ghosts.Exist-14" style="color: magenta;"&gt;Penampakan hantu Casper tersebut muncul lewat tengah malam di sebuah pub di Cumbrian, Inggris, ketika pub tersebut telah tutup dan tidak ada seorang pun di dalam ruangan tersebut.&lt;/a&gt; Berita tersebut menyebutkan bahwa CCTV menangkap fenomena penampakan hantu Casper seperti bola cahaya. Beberapa tanggapan bisa diberikan berkaitan dengan fenomena penampakan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;1. Kemungkinan besar objek yang akhirnya dipercaya beberapa orang sebagai hantu mirip &lt;i&gt;Casper&lt;/i&gt; melalui CCTV tersebut tidak lebih merupakan pantulan yang berasal dari objek (-objek) yang permukaannya terang. Selain itu, bisa jadi munculnya gambaran seperti itu merupakan hasil dari pantulan cahaya yang berasal dari partikel-partikel debu atau tetesan-tetesan air/embun yang terdapat dekat dengan lensa kamera. Oleh karena itu, salah satu dari kedua hal tersebut bisa menghasilkan gambar agak putih muncul di tengah ruangan yang diliputi kegelapan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;2. Meski CCTV menampilkan objek tersebut bergerak melintasi ruangan yang gelap itu sebelum menghilang melalui langit-langit ruangan tersebut, namun sangat mungkin sesungguhnya yang terjadi adalah bahwa partikel-partikel debu atau tetesan-tetesan air/embun - seperti terdapat dalam poin pertama - bergeser karena ditiup angin sampai ke luar jangkauan lensa kamera. Hal ini menjelaskan fenomena mengapa objek tersebut bergerak sebelum akhirnya menghilang dari penangkapan CCTV.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;3. Berkaitan dengan fenomena penampakan hantu Casper itu berita tersebut juga "didukung" oleh hal-hal ganjil yang terjadi di dalam dan sekitar pub seperti direkam melalui CCTV milik perusahaan yang berada di sebelah pub itu, seperti:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Mouse&lt;/i&gt; komputer di ruangan tersebut bergerak sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Kantor di pub itu diterangi cahaya lembut ketika layar komputer aktif.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Tidak lama kemudian papan pub yang terdapat di kaca depan jatuh.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Semenjak keganjilan-keganjilan tersebut anjing pemilik pub menggonggong setiap kali memasuki pub tersebut.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;4. Terakhir, beberapa orang karyawan perusahaan yang berada di sebelah pub mengatakan bahwa bangunan pub tersebut dulunya digunakan sebagai perusahaan jasa pemakaman.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Jika poin pertama dan kedua merupakan upaya menjelaskan fenomena penampakan hantu Casper melalui sudut pandang ilmiah, maka poin ketiga dan keempat merupakan penjelasan yang berkaitan dengan sisi psikologis yang sangat mungkin mempengaruhi pandangan orang-orang yang melihat tayangan CCTV tersebut dan/atau membaca berita mengenai fenomena tersebut. Oleh karena itu, poin ketiga dan keempat bisa dikatakan sebagai hal-hal yang "mendukung" dan mempertegas munculnya fenomena penampakan hantu Casper pada tengah malam di pub tersebut sehingga banyak orang memperhitungkan hal tersebut sebagai suatu kebenaran. Hal-hal ganjil yang terjadi di dalam dan sekitar pub tersebut sekalipun direkam oleh CCTV perusahaan yang berada di sebelah pub tersebut tidak bisa dijadikan bukti jika hantu Casper tersebut memang sungguh-sungguh telah muncul di pub pada tengah malam tersebut.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Satu hal yang juga sangat penting dan tidak boleh dikesampingkan adalah bahwa "sejarah" bangunan pub tersebut yang dulunya merupakan perusahaan jasa pemakaman. Hal ini menambah kesan misteri terhadap pub tersebut. (Hal yang berkaitan dengan pemakaman &amp;gt; kematian &amp;gt; hantu Casper.) Hal yang berkaitan dengan sejarah suatu tempat atau peristiwa seringkali memainkan peranan yang begitu vital dalam pengambilan keputusan seseorang. Artinya, sejarah atau peristiwa yang terjadi di masa lalu dianggap sebagai tolok ukur untuk menilai bahwa peristiwa yang terjadi saat ini sebagai kebenaran. Meski sejarah memainkan peranan yang sangat vital dalam menentukan kebenaran peristiwa yang terjadi saat ini, namun sejarah sama sekali tidak bisa dijadikan satu-satunya tolok ukur untuk menilai kebenaran tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Kembali pada fenomena penampakan hantu Casper di atas, maka orang harus mempertimbangkan secara cermat poin pertama dan kedua sekaligus memperhitungkan poin ketiga dan keempat sehingga orang tidak terjebak pada kepercayaan yang buta dan menyesatkan. Ketika orang mampu berpikir kritis - salah satunya dengan menggunakan tolok ukur sains - dan tidak lengah terhadap unsur-unsur psikologis, maka orang itu bisa dikategorikan sebagai makhluk hidup yang telah menggunakan nalarnya dengan maksimal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-6133865940032064817?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/6133865940032064817/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/hantu-casper.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/6133865940032064817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/6133865940032064817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/hantu-casper.html' title='Hantu Casper'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-1679055838022103307</id><published>2010-09-16T01:06:00.006+07:00</published><updated>2011-08-18T09:09:46.495+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritisisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Internasional'/><title type='text'>Pesan dari Tuhan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Meski Terry Jones membatalkan rencananya membakar Al-Quran pada tanggal 11 September lalu, namun para pendukung Jones tetap melaksanakan pembakaran Al-Quran di Springfield, AS. &lt;a href="http://dunia.vivanews.com/news/read/177671-pembakaran-alquran-jadi-dilakukan" style="color: magenta;"&gt;Bob Old dan Danny Allen - keduanya pendeta - mengaku melakukan aksi pembakaran Al-Quran karena memperoleh pesan dari Tuhan.&lt;/a&gt; Setelah Jones yang mengaku mengurungkan rencana pembakaran Al-Quran karena perintah Tuhan, sekarang kedua pendeta tersebut mengaku jika aksi mereka setelah menerima pesan dari Tuhan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Segera setelah membaca kedua pengakuan yang berbeda 180 derajat tersebut - keduanya berasal dari pendeta - muncul beberapa pertanyaan:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;1.&amp;nbsp; Apakah perintah dan pesan yang saling berbeda tersebut berasal dari Tuhan yang sama atau berbeda?&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;2. Jika berasal dari Tuhan yang sama, mengapa Tuhan memberikan pesan/perintah yang berbeda kepada para pendeta itu?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;3. Jika berasal dari Tuhan yang berbeda, Tuhan mana atau siapakah yang seharusnya dituruti, apakah Tuhan yang memberikan perintah larangan membakar Al-Quran (Tuhannya Jones) atau Tuhan yang memberikan pesan membakar Al-Quran (Tuhannya Old dan Allen)?&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;4. Terlepas dari Tuhan yang sama atau berbeda, jika memang benar perintah dan pesan itu berasal darinya, bukankah ini artinya ia adalah sosok yang membingungkan karena telah memberikan perintah dan pesan yang berlainan kepada orang yang berbeda?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;5. Jika ya, mengapa begitu banyak orang percaya, sujud syukur, bahkan rela mati demi namanya?&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;6. Jika Tuhan memang telah memberikan pesan membakar Al-Quran kepada manusia, bukankah ini artinya ia adalah figur kejam yang tidak peduli terhadap makhluk hidup (dhi. manusia)?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Kembali pada berita pembakaran Al-Quran yang telah dilakukan Old dan Allen, ketika&amp;nbsp; akan membakar Al-Quran mereka berkata bahwa Al-Quran adalah buku yang berisi kebencian, bukan cinta. Mereka sepertinya, entah disengaja ataupun tidak disadari, menyingkirkan fakta bahwa dalam Alkitab sendiri banyak kisah yang menampilkan hal-hal bernuansa kekerasan,&amp;nbsp; seperti: kebencian dan pembantaian terhadap suku bangsa tertentu yang semuanya dilakukan atas persetujuan Tuhan. (Sangat mungkin Old dan Allen dengan sengaja menganggap kisah-kisah seperti itu tidak terdapat alam Alkitab bagian Perjanjian Lama karena mereka adalah pendeta, jadi kemungkinannya sangat kecil jika mereka tidak mengetahui kisah-kisah seperti itu. Hal yang seringkali juga dilakukan umat Kristen lainnya.) Jika demikian, jelas, Old dan Allen pun telah memberlakukan standar ganda terhadap "kitab suci" agama lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;Helvetica&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Tindakan yang dilakukan Old dan Allen sama sekali tidak cerdas padahal mereka tidak suka jika dianggap tidak cerdas. (Orang beragama khususnya para pemimpinnya secara implisit tidak mau dianggap tidak cerdas karena mempelajari ilmu agama. Oleh karena itu, mereka menganggap diri cerdas karena mampu menggunakan akal sehatnya dengan baik.) Dengan demikian, pembakaran Al-Quran yang dilakukan Old dan Allen merupakan contoh nyata betapa manusia (baca: orang beragama) gagal menggunakan akal sehatnya untuk hal-hal yang jauh lebih positif, misalnya: daripada membakar Al-Quran, mereka bisa membuat tulisan yang isinya mengkritik (bukan mencela atau menghina) kepercayaan lain (dhi. Islam) sehingga terjadi perdebatan secara pemikiran, bukannya tindakan kekerasan. Bukankah para pendeta sebelum memperoleh "gelar" pendeta mereka diharuskan menempuh kuliah di seminari atau sekolah tinggi teologi? Jika demikian, tentu, semasa di bangku kuliah mereka telah diajar dan dilatih untuk berpikir dan menuangkan pikirannya ke dalam tulisan-tulisan sehingga mereka bisa diperhitungkan sebagai orang-orang cerdas. Jika tidak demikian, apakah ini artinya seminari atau sekolah tinggi teologi tidak lagi memberikan pelatihan dan pengajaran seperti? Saya pikir tidak. Oleh karena itu, hai para agamawan tunjukkanlah jika kalian memang cerdas!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-1679055838022103307?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/1679055838022103307/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/pesan-dari-tuhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/1679055838022103307'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/1679055838022103307'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/pesan-dari-tuhan.html' title='Pesan dari Tuhan'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-837251086754307216</id><published>2010-09-15T04:27:00.007+07:00</published><updated>2011-08-17T10:42:18.355+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritisisme'/><title type='text'>Perintah Tuhan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Terry Jones, seorang pendeta di sebuah gereja kecil di Florida (AS), yang belakangan menghebohkan dunia agama, khususnya kaum Muslim karena rencana busuknya akan&amp;nbsp; membakar Al-Quran pada tanggal 11 September baru-baru ini membatalkan rencananya tersebut. &lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/amerika/2010/09/12/brk,20100912-277799,id.html" style="color: magenta;"&gt;Jones mengaku mengurungkan niatnya membakar Al-Quran setelah memperoleh perintah dari Tuhan.&lt;/a&gt; Lebih dari itu, ia pun mengatakan bahwa tidak akan pernah membakar membakar Al-Quran.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Di satu sisi, tidak jadinya Jones membakar Al-Quran merupakan berita yang sangat melegakan, bukan saja bagi umat beragama (khususnya umat Muslim), namun sepatutnya juga bagi umat manusia secara keseluruhan karena jika rencana keji itu jadi dilakukan Jones, maka akan memicu reaksi dan gerakan keagamaan yang sangat negatif dari umat Muslim. Namun di sisi lain, alasan Jones tidak jadi membakar Al-Quran menimbulkan pertanyaan: karena ia mengaku Tuhan telah memerintahkannya untuk tidak melanjutkan tindakannya tersebut, maka siapa yang pertama kali (telah) memerintahkannya untuk membakar Al-Quran? Apakah Tuhan juga? Jika ya, apakah ia adalah Tuhan yang sama yang juga telah memerintahkannya untuk tidak membakar Al-Quran? Jika ya, maka sangat bisa dikatakan bahwa Tuhan yang disembah Jones adalah sosok keji yang tidak peduli terhadap "perasaan" manusia. Ia (Tuhan) adalah monster yang dengan seenaknya memerintah manusia melakukan tindak kejahatan. Namun, jika bukan Tuhan yang sama, apakah ia adalah Tuhan yang lain? Ataukah, Jones mendengar suara dari "batin"-nya sendiri? Sayangnya, semua pertanyaan tersebut tidak dapat ditemukan jawabannya dari berita di atas.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Di berita yang sama juga dikatakan bahwa Jones menggemari film besutan Mel Gibson, &lt;i&gt;Braveheart&lt;/i&gt;. Film &lt;i&gt;Braveheart&lt;/i&gt; mengedepankan tema perang pembebasan Skotlandia dari penjajahan Inggris, dan menurut berita, hal tersebut menginspirasi Jones sehingga membuat seri video yang bernafaskan anti-Islam. Mel Gibson sendiri adalah seorang Katolik taat anti-Yahudi sedangkan Jones seorang Kristen Protestan anti-Islam dan dunia Arab. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Pertanyaan apa atau siapakah yang telah memerintahkan seorang Terry Jones&amp;nbsp; membakar Al-Quran dan benarkah Tuhan telah memerintahkannya menghentikan rencana pembakaran Al-Quran tersebut sulit dijawab karena bersifat sangat subjektif. Artinya, "perintah Tuhan" itu hanya diterima oleh Jones. Oleh karena itu, satu-satunya hal yang bisa dilihat kaitannya adalah kegemaran Jones terhadap film &lt;i&gt;Braveheart&lt;/i&gt; yang disutradarai oleh Mel Gibson dan kesejajaran antara figur Jones dan Gibson. Sepertinya Jones menganggap Amerika Serikat sedang berada di bawah penjajahan fundamentalisme Islam dan peradaban Arabnya (bandingkan dengan semangat Skotlandia yang berusaha membebaskan diri dari penjajahan Inggris seperti digambarkan dalam &lt;i&gt;Braveheart&lt;/i&gt;). Namun perbedaan mencoloknya adalah: Jones berencana membakar Al-Quran sedangkan dalam &lt;i&gt;Braveheart&lt;/i&gt; tidak pembakaran buku apapun.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Yang jelas, Terry Jones bukanlah figur pemimpin yang berjuang dengan semangat cerdas dan bermartabat melainkan figur yang mengedepankan kebodohan dan tidak manusiawi karena melakukan tindakan yang telah membuat begitu banyak pihak gerah dan resah. Ia adalah&amp;nbsp; contoh orang yang hidup di zaman modern dan beradab (penduduk AS seringkali dengan bangga menggadang-gadang sebagai bangsa yang maju dan beradab) namun sesungguhnya malah berlaku primitif dan barbar karena tindakannya telah membuat cemas sesamanya. Selain itu, orang-orang beragama selalu dengan angkuh menyatakan bahwa agama hanya dan selalu mengajarkan moral. Jika ya, coba tengok kembali pada apa yang telah dilakukan Jones. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-837251086754307216?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/837251086754307216/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/perintah-tuhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/837251086754307216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/837251086754307216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/perintah-tuhan.html' title='Perintah Tuhan'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-304090758879466402</id><published>2010-09-15T01:05:00.003+07:00</published><updated>2011-08-17T10:43:05.711+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skeptisisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pareidolia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manusia Berbulu'/><title type='text'>Manusia Berbulu Panjang di Tiang Listrik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/oops/2010/09/07/brk,20100907-277012,id.html" style="color: magenta;"&gt;Setelah melihat tiang listrik berbentuk salib yang ditutupi dedaunan sehingga tampak seperti gambaran Yesus Kristus di kayu salib, seorang lelaki AS percaya itu merupakan sebuah tanda. &lt;/a&gt;Tanda yang dilihatnya itu ditafsirkannya seolah-olah Yesus hendak mengatakan sesuatu kepada manusia bahwa ia melihat manusia dan akan menjawab doa-doa manusia. Ini merupakan salah satu contoh pareidolia yang dialami manusia ketika seseorang melihat sebuah objek dan menyejajarkan objek tersebut dengan gambaran relijius tertentu kemudian menilai objek yang dilihatnya tadi memiliki makna tertentu berkaitan dengan gambaran relijius yang dikenalnya. Pareidolia hanya akan dialami oleh orang yang sebelumnya telah memiliki pengalaman atau gambaran mengenai objek tertentu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Unsur unik dari pareidolia adalah bahwa orang yang mengalaminya menafsirkan objek yang dilihatnya tadi dalam kaitannya dengan pengalaman atau gambaran relijius yang dikenalnya. Tidak berhenti sampai di situ, orang tersebut memberikan penilaian alias memaknai objek tersebut, entah sebagai tanda, isyarat, ataupun peringatan mengenai hal tertentu yang sejajar dengan pengalaman hidupnya ataupun keadaan yang terjadi di sekitarnya. Dengan demikian, pareidolia merupakan sesuatu yang sangat subjektif karena objek yang dilihat disejajarkan&amp;nbsp; dengan gambaran atau pengalaman tertentu yang sudah dimiliki sebelumnya kemudian objek yang sama dimaknai menurut pengalaman orang seseorang.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Kembali pada objek tiang listrik yang dipenuhi dedaunan sehingga dilihat seperti sosok Yesus Kristus di kayu salib di atas, maka yang terlihat lebih seperti sesosok manusia berbulu panjang yang tergantung di tiang listrik. Karena terlihat adanya kabel dengan sangat jelas, maka manusia berbulu panjang tersebut bukan seperti berada dalam posisi disalibkan melainkan seperti telah tersengat aliran listrik yang tinggi sehingga tewas tergantung di tiang listrik. Jadi, bukannya seperti melihat sosok Yesus Kristus di kayu salib melainkan manusia berbulu panjang yang tewas mengenaskan akibat tersengat aliran listrik dan tetap tergantung di tiang listrik tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-304090758879466402?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/304090758879466402/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/manusia-berbulu-panjang-di-tiang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/304090758879466402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/304090758879466402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/manusia-berbulu-panjang-di-tiang.html' title='Manusia Berbulu Panjang di Tiang Listrik'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-2975185850758191550</id><published>2010-09-14T10:55:00.009+07:00</published><updated>2011-08-17T10:44:04.984+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritisisme'/><title type='text'>Mereka Dianggap Apa?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;a href="http://dunia.vivanews.com/news/read/177319-mengapa-ateis-ini-bakar-kertas-injil---quran" style="color: magenta;"&gt;Seorang ateis yang membakar Alkitab dan Quran kemudian menjadikan kertas-kertas kedua buku tersebut sebagai rokok dianggap tidak waras.&lt;/a&gt; Jika laki-laki tersebut dianggap tidak waras, bagaimana dengan...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;orang-orang yang mengaku beragama, bertuhan, dan bermoral baik, namun dengan tega menyerang, merusak, melakukan tindak kekerasan, dan menyakiti, baik perasaan maupun fisik sesamanya, bahkan melenyapkan nyawa sesamanya yang beragama lain? &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;orang-orang yang percaya pada keberadaan sesuatu yang tidak dilihatnya bahkan menyembah sosok tersebut?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;orang-orang yang mengaku telah mendengar sesuatu di telinga/kepalanya dan menganggapnya sebagai suara Tuhan? &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;orang-orang yang mati-matian bahkan rela mati membela keyakinannya demi memperoleh sebuah tempat di "dunia seberang/lain" sekalipun tempat tersebut tidak diketahui keberadaannya? &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Jika demikian, bisa dianggap mengidap apakah orang-orang yang termasuk ke dalam empat poin di atas?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Banyak orang memberlakukan standar ganda setiap kali berkaitan dengan keyakinan, kepercayaan, dan sesuatu yang disukainya apalagi jika ketiga hal tersebut telah mendarah daging sekian lama dalam dirinya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-2975185850758191550?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/2975185850758191550/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/jadimengidap-apa-dong.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/2975185850758191550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/2975185850758191550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/jadimengidap-apa-dong.html' title='Mereka Dianggap Apa?'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-8529359841068987793</id><published>2010-09-14T00:19:00.001+07:00</published><updated>2011-08-17T10:45:13.374+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kuntilanak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skeptisisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologis'/><title type='text'>"Bukti"</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://regional.kompas.com/read/2010/09/13/08135918/Agus.Melihat.Kuntilanak.Seret.Peti.Mati-7" style="color: magenta; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Seorang pemuda dan kelima temannya mengaku telah melihat sesosok yang dikenal dengan nama kuntilanak di sebuah tempat yang diyakini angker dan ada penunggunya.&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Di bawah&amp;nbsp; ada sekian keterangan yang bisa dianggap banyak orang sebagai "bukti" bahwa penglihatannya tersebut sungguh-sungguh terjadi alias ia dan kelima temannya tidak melakukan kebohongan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;1. Areal tersebut sudah diyakini angker dan ada penunggunya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;2. Sepi (pemukiman penduduk agak ke dalam).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;3. Dekat dengan kuburan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;4. Malam Jumat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;5. Terjadi subuh (sekitar pukul. 04.00).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;6. Dilihat dari jarak yang sangat dekat yakni 10 meter.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;7. Disaksikan lebih dari 2 orang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;8. Sama persis dengan gambaran cerita banyak orang sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;9. Pernah diceritakan oleh para orangtua sebagai tempat yang angker dan ada penunggunya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;10. Pertanda akan ada korban jiwa dan terbukti besoknya terjadi kecelakaan di tempat itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;11. Tiga minggu tidak berani ke tempat itu lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Ke-11 poin di atas merupakan ciri umum yang biasa orang baca atau dengar setiap kali seseorang/sekelompok orang mengaku telah melihat penampakan "makhluk halus" atau peristiwa misterius. Bagi beberapa orang atau banyak orang semua poin di atas dengan mudah membentuk gambaran awal seseorang mengenai hal-hal yang serba misterius sehingga mengaitkannya dengan penampakan "makhluk halus." Sejauh ini belum ada berita/cerita mengenai sekelompok orang yang melihat hantu pada siang hari "bolong" di tengah keramaian jalan atau pasar karena hal tersebut bisa dianggap sebagai lelucon yang sengaja dibuat oleh orang-orang itu. Atau, mereka akan dianggap hanya mencari perhatian banyak orang dengan membuat cerita picisan. Namun, hal serupa tidak akan terjadi jika diceritakan bahwa peristiwa tersebut terjadi di kegelapan malam yang sunyi. Tentu, cerita yang kedua memberikan efek dramatis yang sangat pas khususnya bagi mereka yang sangat &lt;i&gt;demen&lt;/i&gt; dengan cerita-cerita misterius.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Hal yang harus diperhatikan bahwa peristiwa tersebut disaksikan lebih dari dua orang, dan semua orang yang menyaksikannya adalah teman. Ini artinya sangat mungkin peristiwa yang sebetulnya hanya disaksikan oleh satu orang, namun karena yang menyaksikan memiliki kedekatan psikologis, entah teman, keluarga, ataupun pasangan, maka orang yang menyaksikan secara tidak disadari mempengaruhi orang-orang yang memiliki kedekatan dengannya. Demikian pula halnya dengan orang-orang lain tersebut, karena mereka memiliki kedekatan psikologis dengan orang yang menyaksikan peristiwa tersebut maka mereka tanpa disadari segera atau mudah percaya dengan pengakuan yang dikatakan oleh orang itu. Ini adalah pola yang sangat mudah terbaca, khususnya berkaitan dengan pengakuan orang mengenai hal-hal tertentu, termasuk pengakuan dalam dunia kejahatan (pengadilan). Maksudnya, ketika mengambil keputusan untuk percaya atau tidak percaya, mendukung atau tidak mendukung orang tertentu bukannya menggunakan akal sehatnya dengan berdasar pada bukti-bukti yang jelas dan kuat melainkan mendasarkannya pada emosi, seberapa dekat, intim, atau jauh hubungan yang dimilikinya dengan orang tersebut. Ini merupakan hal yang sangat salah dan sesat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Hal berikut yang harus diperhatikan bahwa setiap orang memiliki asumsi yang berasal dan/atau dibentuk dari berbagai hal yang sudah diterimanya, misalnya berupa cerita dan/atau ingatan. Cerita dan/atau ingatan ini bisa berasal dari otoritas tertentu, misalnya: orangtua, pemuka dalam masyarakat, atau guru/dosen yang dianggap ahli dalam bidangnya. Selain itu, cerita dan/atau ingatan bisa dibentuk oleh opini publik. Artinya, karena banyak orang mengaku sudah mengalaminya langsung maka hal tersebut dianggap sebagai kebenaran. Kedua hal tersebut - otoritas dan opini publik - disadari ataupun tidak disadari seringkali digunakan banyak orang untuk menyimpulkan bahwa sesuatu itu sungguh-sungguh terjadi dan benar adanya. Penggunaan otoritas yang didukung oleh opini publik seringkali mengecoh bahkan menyesatkan banyak orang dalam banyak hal, termasuk hal-hal yang misterius. Oleh karena otoritas dan opini publik yang digunakan dengan menggantikan akal sehat seseorang, maka pikiran banyak orang pun dibentuk oleh pandangan-pandangan orang lain tanpa terlebih dahulu menguji apakah pandangan-pandangan (termasuk keyakinan) itu benar atau salah. Maka dari itu tidak perlu kaget jika banyak orang yakin dan percaya pada keberadaan hantu karena hal itu diturunkan dari orangtua dan/atau mendengar cerita banyak orang mengenai hal itu sehingga di kepalanya pun muncul "gambaran" mengenai hantu yang dimaksud. Kedua hal ini pun salah dan sesat karena telah menggunakan otoritas dan opini publik sebagai ukuran untuk menilai kebenaran suatu hal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Cerita kuntilanak seperti dalam berita di atas pun diakhiri oleh kenyataan bahwa peristiwa itu menjadi pertanda terjadinya kecelakaan. Padahal seperti telah diungkapkan dalam berita yang sama, tanpa "kehadiran" kuntilanak pun tempat tersebut tergolong rawan kecelakaan akibat bentuk jalan yang menikung tajam, dan mungkin diperparah oleh minimnya rambu lalu-lintas atau lampu jalan yang bisa membantu para pengendara sehingga resiko kecelakaan pun bisa ditekan. Jika setiap kecelakaan, entah kecil ataupun besar, yang terjadi di tempat itu dikaitkan dengan penampakan kuntilanak, maka bisa dibayangkan sudah berapa ratus kali kuntilanak yang sama memperlihatkan dirinya kepada orang banyak. Jika ini yang terjadi maka tentu cerita mengenai kuntilanak tersebut tidak pudar dimakan waktu karena kecelakaan selalu terjadi dan semakin banyak orang percaya bahwa kuntilanak tersebut sebagai sesuatu yang nyata bahkan mempengaruhi "nasib" manusia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Ke-11 poin di atas bisa dianggap sebagai "bukti" penampakan kuntilanak bagi mereka yang sudah percaya bahwa kuntilanak atau segala macam dan nama "makhluk halus" itu ada. Keberadaan mereka ("makhluk halus") itu diturunkan dari para orangtua yang dipertegas oleh opini publik. "Oleh karena nenek saya mengatakannya dan banyak orang lain sudah menyaksikannya serta teman-teman saya pun mempercayainya maka kuntilanak itu memang ada." Jika demikian yang terjadi, sia-sialah otak manusia karena tidak berfungsi secara maksimal akibat hanya percaya pada orang lain dan bukan dipergunakan sebagai daya nalar untuk menguji banyak hal yang terjadi di sekitar. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-8529359841068987793?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/8529359841068987793/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/bukti.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/8529359841068987793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/8529359841068987793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/bukti.html' title='&quot;Bukti&quot;'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-1155162350238140309</id><published>2010-09-06T20:19:00.003+07:00</published><updated>2011-08-17T10:46:23.890+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skeptisisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kemenyan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keganjilan'/><title type='text'>Apanya yang Ganjil?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Banyak orang mudah mengaitkan sesuatu yang dianggapnya ganjil, baik itu melalui yang diperolehnya melalui indera penglihatan, penciuman, maupun sesuatu yang di-"rasa"-nya&amp;nbsp; ganjil atau tidak biasa sebagai pertanda akan terjadi suatu peristiwa. Sesuatu yang di-"rasa" ganjil atau aneh tersebut biasanya menjadi pertanda bahwa sesuatu yang tidak baik atau buruk akan menimpanya atau dialami orang-orang dekatnya (keluarga, pasangan, atau teman). Sepertinya&amp;nbsp; hal inilah yang dialami seorang perempuan sebelum kematiannya. &lt;a href="http://regional.kompas.com/read/2010/09/05/11424327/Mengeluh.Bau.Kemenyan..Esoknya.Tewas-8#" style="color: magenta;"&gt;Ana Novianti - nama perempuan malang tersebut - mengaku pada pagi hari sebelum ajal menjemputnya mencium bau kemenyan&lt;/a&gt;, dan hal ini disampaikannya kepada salah seorang keluarga korban. Korban mengaku bahwa bau kemenyan yang diciumnya merupakan hal yang ganjil. Mengapa bau kemenyan seringkali dikatakan ganjil bahkan dianggap sebagai pertanda sesuatu yang buruk akan terjadi?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Sepertinya inilah persepsi yang tidak jarang dianut orang Indonesia yakni mengaitkan bau tertentu pada peristiwa tertentu atau setidaknya dianggap sebagai sesuatu yang ganjil. Oleh karena itulah, contohnya: bau kemenyan dianggap sebagai pertanda bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Dalam berita di atas bisa dikatakan jika bau kemenyan dianggap sebagai pertanda kematian karena Ana Novianti - yang mencium bau kemenyan tersebut - ternyata mengalami kematian tidak lama setelah mencium bau tersebut. Pertanyaannya: apakah bau kemenyan merupakan pertanda bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi, seperti kematian?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Tidak ada alat ukur yang pasti untuk mengatakan bahwa bau kemenyan atau bau tertentu merupakan pertanda sesuatu yang buruk akan terjadi karena sama sekali tidak bisa dibuktikan jika bau tertentu ada kaitannya dengan peristiwa (buruk) tertentu, misalnya: kecelakaan atau kematian. Mungkin saja orang yang mengaku telah mencium bau tertentu memang mencium bau sesuatu, namun sama sekali tidak dapat dibuktikan jika bau tersebut menjadi pertanda sesuatu buruk akan terjadi, entah pada dirinya ataupun orang (-orang) di dekatnya. Jika bau tertentu dianggap sebagai pertanda, mengapa orang yang bersangkutan tidak mampu menghindari kemalangan yang menimpanya? Ini artinya bahwa bau tertentu bisa dianggap sebagai "peringatan" bagi orang yang menciumnya, dan oleh karenanya seharusnya ia bisa melakukan sesuatu untuk menghindari diri atau orang di dekatnya sehingga mereka terhindar dari peristiwa buruk tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Dengan demikian, jelas, bau tertentu termasuk bau kemenyan sama sekali tidak ada hubungannya dengan peristiwa buruk yang akan menimpa seseorang dan bau tertentu bukanlah semacam "peringatan" bagi orang yang menciumnya. Orang mengaitkan bau tertentu dengan peristiwa buruk yang dialami seseorang setelah peristiwa tersebut terjadi, dan bukan sebelum peristiwa buruk terjadi. Jika memang bau tertentu berkaitan dengan peristiwa buruk yang akan terjadi, seharusnya orang tersebut berusaha menghindar atau menolong orang lain sehingga terhidar dari kemalangan yang akan terjadi. Orang mengaitkan bau tertentu dengan peristiwa buruk yang terjadi setelah peristiwa tersebut terjadi. Artinya, setelah hal buruk terjadi barulah ada upaya untuk "menegaskan" baru ia sebelumnya telah mencium sesuatu yang ganjil. Bagaimana jika setelah mencium bau tertentu tidak terjadi hal yang buruk apapun? Tentu, tidak akan muncul kata "ganjil" atau "aneh" karena bau itu tidak "ditegaskan" atau diikuti oleh hal buruk. Jika ini yang terjadi maka sesungguhnya tidak ada sesuatu yang ganjil dari bau tertentu yang dicium seseorang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-1155162350238140309?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/1155162350238140309/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/apa-yang-ganjil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/1155162350238140309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/1155162350238140309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/apa-yang-ganjil.html' title='Apanya yang Ganjil?'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-2248835484984265482</id><published>2010-09-05T16:15:00.005+07:00</published><updated>2011-08-17T10:47:10.129+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berpikir Kritis'/><title type='text'>Konon</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;a href="http://metro.vivanews.com/news/read/170316-masjid-al-alam-marunda-dibangun-satu-malam" style="color: magenta;"&gt;"Konon Masjid Al Alam (Al Auliya) Marunda, dibangun hanya dalam tempo semalam."&lt;/a&gt; Kalimat tersebut dikutip dari berita yang mengatakan bahwa Masjid Al Alam (berdiri sejak&amp;nbsp; tahun 1600) yang terletak di Marunda, Jakarta Utara, dibangun hanya dalam satu malam. Beberapa tanggapan&amp;nbsp; bisa dikemukakan berkaitan dengan segala hal mengenai Masjid Al Alam menurut berita tersebut:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;1. Mengacu pada foto dalam berita tersebut dan detail bangunan Masjid menurut &lt;a href="http://www.jakarta.go.id/jakv1/encyclopedia/detail/745" style="color: magenta;"&gt;Ensiklopedi Jakarta&lt;/a&gt;, maka bukanlah hal yang istimewa atau luar biasa jika Masjid Al Alam dibangun hanya dalam satu malam karena bentuknya yang sangat sederhana (tidak seperti Masjid-masjid modern) dan luas bangunan yang tergolong sangat kecil. Jika pembangunan Masjid ini dimulai sejak pukul 18.30 (selepas Azan Magrib) dan dilakukan tanpa henti hingga pukul 05.00, serta melibatkan banyak orang (anggaplah 100 orang), maka bukan merupakan sesuatu yang "ajaib" atau aneh jika Masjid ini bisa dirampungkan hanya dalam tempo semalam. Tentu dengan catatan, semua hal (bahan-bahan, seperti: kayu/balok, batu, genteng, dan semen) yang berkaitan dengan pembangunan Masjid ini telah tersedia lengkap sehingga para pekerja tinggal membangun Masjid tanpa perlu mencari-cari bahan yang akan digunakan. Jika ini semua terpenuhi, maka jelas, Masjid Al Alam sangat bisa dibangun dalam waktu satu malam saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;2. Ada dua pendapat yang berbeda mengenai siapa yang membangun Masjid Al Alam. Ada yang berpendapat bahwa Walisongo-lah yang membangun Masjid tersebut, namun ada yang berpendapat jika Fatahilah yang membangunnya. Pendapat yang mengatakan Wali Songo merupakan pendiri Masjid Al Alam tidak memberitahu secara tepat Wali siapa yang membangun Masjid tersebut karena Walisongo bukan merujuk pada nama seseorang melainkan gelar yang diberikan kepada sembilan (bahasa Jawanya: &lt;i&gt;songo&lt;/i&gt;) &lt;a href="http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php" style="color: magenta;"&gt;wali&lt;/a&gt; yang &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Walisongo" style="color: magenta;"&gt;menyebarkan agama Islam di tanah Jawa pada abad ke-14&lt;/a&gt;. Jika keterangan yang mengatakan para wali sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke-14, berarti pendapat yang mengatakan Masjid Al Alam dibangun oleh Walisongo tidak tepat alias keliru karena Masjid berdiri sejak tahun 1600 (berarti abad ke-17) sedangkan para wali aktif menyebarkan Islam di tanah Jawa pada abad ke-14 (tahun 1300-an).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Pendapat lainnya mengatakan bahwa Fatahilah yang membangun Masjid Al Alam. Siapakah sosok yang bernama Fatahilah?&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Jakarta" style="color: magenta;"&gt;Ia adalah seorang pejuang dari Demak yang berhasil menaklukkan Kerajaan Sunda dengan menguasai pelabuhannya pada tanggal 22 Juni 1527.&lt;/a&gt; Jika keterangan tersebut tepat, maka kemungkinan yang terdekat dan paling masuk akal adalah pendapat kedua ini karena Fatahilah menguasai menguasai Jayakarta (nama kota Jakarta pada abad ke-16) sejak tahun 1527, sedangkan dikatakan Masjid Al Alam berdiri sejak tahun 1600.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;3. Kembali pada kutipan kalimat pertama di atas mengenai "konon." Maka orang harus sadar penuh bahwa keyakinan seseorang atau kelompok dibentuk dan dipengaruhi oleh tradisi yang diturunkan sejak nenek moyang. Bagaimana tradisi tersebut diturunkan? Setidaknya ada tiga cara, yakni: melalui cerita (mulut ke mulut, "kata orang"), tulisan, dan peninggalan (prasasti atau gambar). Kisah mengenai Masjid Al Alam yang diyakini banyak orang dibangun hanya dalam satu malam termasuk ke dalam tradisi yang diturunkan melalui cerita. Oleh karena itulah orang biasa mengatakan "konon" yang artinya cerita tersebut diperolehnya dari orang lain. &lt;a href="http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php" style="color: magenta;"&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia menyatakan hal ini.&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Dengan demikian, setiap kali mendengar atau membaca kata "konon" orang jangan lekas kagum atau berpikir mengenai sesuatu yang luar biasa mengenai sebuah cerita karena bisa saja pernyataan atau berita itu setelah dipikirkan dengan lebih cermat dan matang ternyata bukanlah sesuatu yang istimewa apalagi "ajaib." Namun sebaliknya, berita tersebut merupakan sesuatu yang biasa saja karena memang masuk akal. Demikian juga, setiap kali orang mendengar atau membaca kata yang sama hendaknya orang tidak mudah percaya melainkan sebisa mungkin mengecek atau mengevaluasi pernyataan tersebut karena mungkin saja keterangan yang diberikan tidak jelas, tidak tepat, atau bahkan tidak didukung oleh bukti nyata ataupun argumen yang kuat. Ketika orang tidak lekas kagum dan tidak mudah percaya pada berita yang diterimanya maka, disadari atau tidak disadarinya, sesungguhnya ia adalah seorang yang kritis.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-2248835484984265482?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/2248835484984265482/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/konon.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/2248835484984265482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/2248835484984265482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/konon.html' title='Konon'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-5716699996444281950</id><published>2010-09-04T01:29:00.002+07:00</published><updated>2011-08-17T10:48:29.018+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Skeptisisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Doa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artis'/><title type='text'>Bentuknya?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Setiap orang yang mengaku taat beragama dan percaya pada Tuhan sebagai figur yang ada, entah di dalam diri ataupun di luar diri, biasanya rajin berhubungan dengan Tuhan sebagai sosok yang kasat mata. &lt;a href="http://id.omg.yahoo.com/news/lady-gaga-selalu-berkomunikasi-dengan-tuhan-khjx-0000341857.html" style="color: magenta;"&gt;Hal yang sama pun dilakukan Stefani Joanne Angelina Germanotta - jauh lebih dikenal dengan Lady GaGa - di mana ia selalu berdoa di belakang panggung dan meminta izin Tuhan sebelum mentas.&lt;/a&gt; Hal ini dituturkan oleh Anna Wintour, editor majalah &lt;i&gt;Vogue&lt;/i&gt;, bahkan Lady GaGa menunggu sampai ada jawaban dari Tuhan kalau ia bisa naik panggung. Pernah satu kali Lady GaGa menunggu jawaban dari Tuhan sampai 45 menit baru naik panggung.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Jelas, kebiasaan Lady GaGa menunggu sampai Tuhan menurutnya sungguh-sungguh telah menjawab doanya dan memberikannya izin untuk naik panggung merupakan sesuatu yang sangat berbeda dari kebanyakan orang yang taat beragama dan selalu berdoa kepada Tuhan. Maksudnya, waktu dulu saya masih suka berdoa dan ketahui dari pengalaman orang lain&amp;nbsp; juga yang berdoa kepada Tuhan, kami tidak mengharapkan dan menunggu jawaban segera dari Tuhan. Artinya, kami tidak memaksa Tuhan harus menjawab doa kami beberapa menit bahkan beberapa detik setelah kami berdoa melainkan kami "memberikan" Tuhan waktu untuk mempertimbangkan permohonan kami karena semuanya kembali pada kehendak-Nya. Oleh karena itu, seperti telah didoktrinkan sejak kanak-kanak, kami sadar bahwa Tuhan akan bekerja menurut waktu-Nya. Dialah yang menentukan segalanya sehingga bisa saja "jawaban" Tuhan itu beberapa jam setelah doa kami, atau beberapa hari, bulan, tahun, atau bahkan Tuhan sama sekali tidak menjawab permohonan atau doa kami karena Dia lebih mengetahui apa yang terbaik buat makhluk ciptaan-Nya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Namun tidak demikian halnya dengan Lady GaGa karena setiap doanya di belakang panggung sebelum mentas selalu ditunggu olehnya sampai Tuhan, menurutnya, telah menjawab doanya. Ternyata, doa Lady GaGa jauh lebih "istimewa" dari doa kebanyakan orang lainnya karena Tuhan lebih memprioritaskan doanya sehingga selalu menjawabnya dengan segera. Mungkin jawaban yang paling lama terhadap doa Lady GaGa pun hanya 45 menit. (Sepertinya Lady GaGa juga jauh lebih beruntung karena meskipun molor 45 menit dari jadwal semula ia tidak dilempari oleh para penontonnya, berbeda sama sekali dengan "nasib" Guns N' Roses&amp;nbsp; yang dilempari penonton Dublin, Irlandia, akibat pertunjukkan telat satu jam.)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Namun sayangnya, tidak diberitakan apa bentuk jawaban yang diterima Lady GaGa ketika Tuhan menjawab doanya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Apakah bentuknya semacam "perasaan" tenang? (Ah, sangat subjektif kebenarannya!)&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Apakah bentuknya suara, entah berbisik ataupun cukup keras dengan artikulasi yang jelas? (Nah, &lt;i&gt;kalo &lt;/i&gt;ini yang terjadi jangan-jangan Lady GaGa mengidap skizofrenia tingkat tertentu - tergantung pada berapa sering ia mengaku mendengar suara di kepala/telinganya).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Apakah bentuknya seperti "penglihatan"/"penampakan"? (Wah, &lt;i&gt;kalo &lt;/i&gt;ini yang dialaminya maka kemungkinan besar ia mengalami delusinasi.)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/984089911340797467-5716699996444281950?l=arrowsofcriticism.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/feeds/5716699996444281950/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/bentuknya.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/5716699996444281950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/984089911340797467/posts/default/5716699996444281950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arrowsofcriticism.blogspot.com/2010/09/bentuknya.html' title='Bentuknya?'/><author><name>Thoughtful Person</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10750966636012542571</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_LUm5WMhPHqw/S_yn-t8nY7I/AAAAAAAAAGk/r5k8NR1KbxE/S220/wayang.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-984089911340797467.post-1759996806674805623</id><published>2010-09-03T21:23:00.003+07:00</published><updated>2011-08-17T10:50:34.755+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Stephen Hawking'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ilmu Pengetahuan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penciptaan'/><title type='text'>Jangan Marah atau GR Dulu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;a href="http://www.bbc.co.uk/news/uk-11161493" style="color: magenta;"&gt;Kemarin &lt;i&gt;Times&lt;/i&gt; menerbitkan pernyataan Stephen Hawking, seorang fisikawan terkemuka asal Inggris, mengenai terciptanya alam semesta. &lt;/a&gt;Hawking, melalui kutipan yang terdapat dalam buku terkininya yang ditulis bersama seorang fisikawan AS (Leonard Mlodinow) dan baru akan dijual ke pasaran tanggal 9 September, menyatakan bahwa alam semesta tercipta secara spontan tanpa campur tangan ilahi di dalamnya. Ini artinya, dalam pandangan Hawking, orang tidak perlu menyertakan Tuhan dalam proses terciptanya alam semesta. Dengan demikian, terciptanya alam semesta tidak ada sangkut-pautnya dengan Tuhan karena Tuhan tidak menciptakan alam semesta. Lanjut Hawking, alam semesta terjadi semata-mata karena adanya hukum gravitasi sehingga alam semesta bisa dan akan menciptakan dirinya sendiri dari yang tidak ada.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Setidaknya ada dua reaksi yang muncul segera setelah orang membaca berita tersebut. Pertama, reaksi marah yang sangat mungkin muncul dari kaum agamis dan/atau kaum kreasionis yang percaya jika alam semesta ini diciptakan oleh yang ilahi. Oleh karena itu, tidak heran jika kaum agamis dan/atau kaum kreasionis yang percaya jika Tuhanlah yang menciptakan alam semesta ini menolak bahkan mengutuk pandangan Hawking, dengan mengatakan, salah satunya: ilmu pengetahuan tidak bisa membuktikan jika alam semesta ini bukan berasal dari sebuah &lt;i&gt;Grand Design &lt;/i&gt;yang dibuat oleh &lt;i&gt;Grand Designer&lt;/i&gt; yang mampu menciptakan alam semesta dengan segala keteraturannya. Artinya, kaum ini marah karena Hawking dianggap telah meniadakan (keterlibatan) Tuhan sebagai pencipta alam semesta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Reaksi kedua berasal dari kaum yang memuja ilmu pengetahuan dan/atau kaum ateis karena menganggap jika pandangan Hawking menegaskan dan memperkokoh "dogma" mereka, di mana ilmu pengetahuan berada di atas agama. Bagi kaum ateis, pandangan Hawking membuat mereka semakin yakin jika figur Tuhan tidak ada, dan oleh karenanya alam semesta bukan diciptakan oleh Tuhan. Dengan demikian, bisa dikatakan jika kaum yang memuja ilmu pengetahuan dan/atau kaum ateis GR karena menganggap "kepercayaan" mereka ditopang oleh pernyataan seorang fisikawan (saintis) ternama yang memegang jabatan akademis yang sangat bergengsi di Universitas Cambridge, Inggris, sebagai &lt;i&gt;Lucasian Professor of Mathematics&lt;/i&gt; (jabatan yang pernah dipegang juga oleh Isaac Newton).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Namun, jika orang membaca dengan cermat berita tentang terciptanya alam semesta menurut Hawking, maka sesungguhnya kedua reaksi di atas, entah marah ataupun GR tersebut tidaklah perlu terjadi, karena:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Pertama (bagi kaum agamis dan/atau kaum kreasionis): Meski Hawking berpendapat bahwa bukan Tuhan yang menciptakan alam semesta, namun ia tidak menyatakan jika ia menolak/menentang keberadaan Tuhan itu sendiri. Hawking "hanya" menyatakan: Tuhan tidak menciptakan alam semesta. Ia "hanya" menyatakan Tuhan tidak diperlukan untuk menjelaskan bagaimana alam semesta diciptakan karena semuanya terjadi akibat hukum gravitasi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Kaum agamis dan/atau kaum kreasionis juga tidak perlu marah karena Hawking mengemukakan pandangannya dengan berdasar pada hukum fisika yang dikuasainya, dan ia sebenarnya sama sekali tidak bermaksud menghancurkan apalagi "menobatkan" orang-orang beragama dan bertuhan untuk "memeluk" pandangannya yang berdasarkan ilmu pengetahuan. Meski demikian, memang tidak bisa dipungkiri jika teori Hawking tersebut (telah) memicu reaksi sangat keras dari kaum beragama dan bertuhan karena ia telah "menyingkirkan" Tuhan dari skema terciptanya alam semesta, tidak seperti yang dipercaya oleh kaum beragama dan bertuhan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: 
